MEMBANGUN KEPERCAYAAN KEPADA TUHAN (Part – 1)
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” (Amsal 3:5-8)
A. Memiliki Keyakinan Penuh Kepada Tuhan.

1. Belajar Mempercayai dengan Hati bukan Logika.
Anggap mengenali TUhan bukan dari kejadian yang bisa diukur secara ilmiah, namun melalui kehadiran tidak berwujud dalam semua hal yang Anda lakukan. Tuhan merupakan roh, dialami secara intuitif, hampir seperti mengalami cinta, udara dan gravitasi, atau perasaan.
· Mempercayai Tuhan itu lebih berbicara masalah hati (keyakinan) bukan pikiran logika, atau kepala. Jika kita membangun keyakinan dari sisi hati, kita akan melihat bahwa percaya pada Tuhan bukan mengenai berapa banyak fakta berwujud, namun lebih kepada dampak yang Ia buat pada kita dan orang lain.
· Jika kita mau memahami Tuhan dari fakta ilmiah, kita akan menemukan bahwa kepercayaan bukan berdasarkan materi tapi analisa spiritual pribadi. Menurut Alkitab Tuhan itu adalah Roh dan bukan bentuk fisik sekalipun dalam kasus tertentu Tuhan bisa menampakkan diri dalam wujud fisik. Ia tidak bisa diukur secara fisik, tapi dengan hal tak berwujud, seperti mengakui: Kehadiran-Nya, manifestasi perbuatan-Nya.

2. Tidak Terikat dengan Tuntutan Pembuktian Materi.
Kepada Tomas Tuhan Yesus berkata, “berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”.
26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."
28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yohanes 20:26-29)
Memiliki keyakinan berarti memasuki lompatan kepercayaan. Ini berarti memutuskan untuk percaya tanpa memiliki kepastian di mana Anda akan mendarat.
Lompatan kepercayaan bukan saja hanya untuk Tuhan, tapi ada kemungkinan lompatan kepercayaan dalam kehidupan setiap hari. Jika Anda pernah memesan makanan di sebuah rumah makan, berarti Anda telah mengambil lompatan keyakinan atau kepercayaan. Rumah makan tersebut mungkin saja memiliki banyak pelanggan dan nilai kesehatan tinggi, tetapi Anda sangat mungkin tidak pernah melihat makanan Anda dibuat. Dalam hal ini, Anda telah meyakini bahwa koki telah mencuci tangan dan mempersiapkan makanan Anda dengan benar.
Melihat tidak selalu berarti percaya, masih ada beberapa hal yang tidak bisa diukur secara ilmiah, namun manusia masih mempercayainya. Contohnya, astronomer tidak benar-benar bisa “melihat” lubang hitam, karena definisinya ia menyerap cahaya yang diperlukan agar kita dapat melihatnya. Namun dengan mengobservasi sifat unsur dan orbit bintang di sekitar lubang hitam, kita bisa memprediksi bahwa ia ada. Tuhan tidak berbeda dengan lubang hitam dalam hal tidak dapat dilihat namun diketahui dan pengaruh observasi, yang mengundang manusia pada cinta dan kasih tidak terduga-Nya.
Pikirkan waktu ketika seorang anggota keluarga sakit dan kembali sehat. Anda mungkin telah berdoa dan berharap pada kuasa ilahi yang lebih tinggi untuk kesembuhan mereka, tapi apakah Anda dapat mendeteksi secara kasat mata bagaimana tangan Tuhan menjamah dan menyembuhkannya? Mungkin kejadian ini seperti peredaran bintang, dan Tuhan merupakan lubang hitam yang mengerahkan penarikannya pada semua hal.

3. Jangan Selalu Berpikir Bahwa Semua Harus Terjadi Seperti Design Kita.
Kepada Jemaat di Efesus, oleh ilham Roh Kudus Paulus berkata, “Tuhan sanggup melakukan bagi kita jauh lebih besar dan lebih banyak dari apa yang kita pikirkan dan doakan”.
20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,
21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin. (Efesus 3:20-21)
Pada agama-agama yang memiliki konsep tentang adanya Tuhan, satu kepercayaan selalu ada pada mereka yaitu, Tuhan merupakan pencipta semua hal. Karena Tuhan penciptanya, maka hanya Dia yang bisa mengendalikannya.
Melepaskan kendali akan aspek tertentu dalam hidup Anda bukan berarti Anda tidak berkuasa. Oleh karena itu, jangan anggap Tuhan sebagai dalang yang selalu menarik tali Anda, namun Dia adalah sebagai orang tua yang menjaga Anda. Anda masih bisa membentuk jalan hidup Anda, namun hidup tidak akan selalu seperti yang Anda rencanakan. Pada saat seperti ini, sangat penting untuk mengingat bahwa Tuhan ada untuk menolong Anda.
Mengetahui bahwa kita tidak selalu bisa mengendalikan semua hal seharusnya membuat kita semakin menghargai dan berserah pada kehendak dan kekuasaan Tuhan. Dan setelah kita menerima bahwa kita tidak bisa mengendalikan semua hal, kita harus belajar menerima hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Berdoalah meminta ketenangan: “Tuhan berikan saya ketenangan untuk menerima hal yang tidak bisa saya ubah; keberanian untuk mengubah yang bisa saya ubah; dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.” Ada beberapa hal tertentu yang bisa Anda ubah dan beberapa hal tertentu yang tidak bisa Anda ubah. Percayalah bahwa ada kekuasaan yang lebih besar yang membentuk hidup Anda. Ini merupakan tempat memulai yang baik untuk yakin akan Tuhan. Jadi, percailah Dia dengan segenap hati kita. Haleluya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA HIDUP INI MENJADI KACAU? (Hakim-hakim 13-16)

BUKTI NYATA KITA MENGASIHI TUHAN YESUS