TIGA PRINSIP DASAR MEMBANGUN KEINTIMAN DENGAN TUHAN.
Alkitab berkata, "Mendekatlah kepada Tuhan, dan Dia akan mendekat kepada engkau" (Yakobus 4:8). Sebagai orang Kristen, hanya dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dan berinteraksi dengan Tuhan secara nyata, Anda dapat mempertahankan hubungan yang normal dengan Tuhan dan mengalami pekerjaan-pekerjaan Roh Kudus. Jadi bagaimana sebenarnya kita bisa menjaga hubungan yang dekat dengan Tuhan? Kita perlu memahami tiga hal di bawah ini, dan hubungan kita dengan Tuhan pasti akan semakin baik dan dekat.
1. MELATIH DIRI MENYEDIAKAN WAKTU BERDOA SECARA PRIBADI KEPADA TUHAN.
Alkitab memberikan contoh-contoh akurat yang dapat kita jadikan teladan dalam membangun keintiman dengan Tuhan melalui doa pribadi. Misalnya, Musa, Daud, Daniel, bahkan Tuhan Yesus menyediakan waktu mereka secara khusus untuk berdoa kepada Bapa di Sorga.
Musa adalah orang yang selalu konsisten datang secara pribadi bertanya kepada Tuhan untuk setiap Tindakan dan keputusan yang akan dia ambil. (Keluaran 33:7)
Daud, dalam Mazmur dia berkata, “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil (Mazmur 119:164).
Daniel, dia memiliki kebiasaan membangun hubungan kepada Tuhan melalui doa pribadi tiga kali dalam sehari.
“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (Dan. 6:10 ITB)
Sedangkan untuk Yesus sendiri tidak perlu diragukan lagi mengenai waktu yang Dia sediakan untuk membangun keintimannya dengan Bapa di Sorga. Alkitab mencatat bahwa Yesus kerap bangun pagi dan menyendiri untuk berdoa kepada Bapa-Nya.
“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35).
Jika kita memperhatikan dengan saksama, akibat dari upaya mereka membangun keintiman dengan Bapa di Sorga, mereka diperkenankan menangkap dan mengetahui isi hati dan kehendak Tuhan. Bahkan terhadap Daud Tuhan berkata, bahwa Dia telah menemukan Daud bin Isai seorang yang berkenan di hati-Nya. (bnd. Kis. 13:22). Mengapa Daud berkenan di hati Tuhan? Karena Daud melakukan kehendak Tuhan pada zamannya (kis. 13:36). Kenapa Daud bisa melakukan kehendak Tuhan? Karena Daud mengetahui kehendak-Nya. Mengapa Daud mengetahui kehendak Tuhan? Karena dia menyediakan waktu membangun keintiman dengan Tuhan. Artinya, jika kita ingin mengetahui isi hati dan kehendak Tuhan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menyediakan waktu khusus untuk berdoa kepada Tuhan. Jika selama ini kita belum menyediakan waktu secara khusus untuk membangun hubungan kita kepada Tuhan melalui doa, ini saatnya untuk memulai dan melakukannya secara kontinyu. Belajar mendisiplin diri untuk menyediakan waktu khusus bersekutu dengan Tuhan.
Di dalam kehidupan, karena sibuk dengan pekerjaan atau tugas-tugas rumah tangga, kita sering sekadar melakukan rutinitas dalam doa, dan hanya memperlakukan Tuhan secara acuh tak acuh dengan mengucapkan beberapa kata dengan asal-asalan. Namun setelah kita mengerti betapa pentingnya menyediakan waktu khusus untuk Tuhan, lakukanlah sesuatu untuk hal tersebut supaya kerohanian dan iman kita semakin bertumbuh dan dewasa di dalam Tuhan.
Tuhan adalah Pencipta yang memenuhi seluruh langit dan bumi. Dia mengawasi kita setiap waktu, memperhatikan setiap kata dan tindakan kita, setiap pikiran dan gagasan kita. Tuhan adalah yang tertinggi, benar-benar bermartabat. Karena itu, ketika kita berdoa kepada-Nya, kita harus datang dengan hati yang jujur, harus memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan berbicara dengan tulus menyerahkan keadaan kita yang sebenarnya di hadapan-Nya.
2. MEMBACA DAN MERENUNGKAN FIRMAN TUHAN UNTUK MENEMUKAN MAKNA SEJATINYA.
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yos. 1:8)
Kepada Yosua Tuhan berkata, “renungkan Taurat itu siang dan malam”.
Nah, Paulus kepada Timotius berpesan supaya Timotius bertekun dalam membaca kitab-kitab suci.
“Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.” (1 Tim. 4:13)
Tujuan dari pesan-pesan tersebut supaya para pembaca menemukan makna sejati atau esensi yang benar dari firman Tuhan. Hal ini sangat penting karena akan sangat mempengaruhi respon dan implementasinya.
Bagaimanakah cara kita membaca firman Tuhan agar dapat mencapai hasil yang baik sekaligus membuat hubungan kita dengan Tuhan menjadi lebih dekat? Yaitu dengan menggunakan hati untuk merenungkan firman Tuhan, dengan demikian hati kita dapat digerakkan oleh Roh Kudus untuk memahami kehendak-Nya. Hanya dengan membaca firman Tuhan dengan cara ini, usaha kita akan membuahkan hasil dan kita akan lebih dekat kepada Tuhan. Jika kita hanya melihat firman Tuhan sepintas lalu tanpa benar-benar memperhatikan, kita hanya dapat memahami beberapa huruf tertulis untuk memamerkan diri kita dan tidak menaruh perhatian pada pemahaman akan makna firman Tuhan yang sebenarnya. Karena itu seberapa pun banyaknya kita membaca firman-Nya, kita harus mencari makna yang sesungguhnya suapaya hati kita selaras dengan kehendak-Nya dan mampu menjaga hubungan itu dengan baik.
Hanya dengan merenungkan firman-Nya secara mendalam hubungan kita dengan Tuhan akan menjadi makin normal dan sehat. Contoh, Yesus berkata: "… Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga." (Matius 18:3). Kita semua dapat memahami makna sepintas dari pernyataan ini, bahwa Tuhan ingin kita menjadi orang jujur. Tetapi hal-hal seperti pentingnya menjadi orang jujur, mengapa Tuhan mencintai orang jujur dan bagaimana tepatnya menjadi seorang yang jujur, semua itu adalah persoalan yang harus kita renungkan secara lebih mendalam. Melalui pembacaan doa dan perenungan firman Tuhan, kita akan memahami bahwa esensi Tuhan adalah setia, dan tidak ada kebohongan atau kecurangan apa pun dalam Tuhan. Oleh karena itulah Tuhan mengasihi orang jujur dan membenci orang yang curang.
3. MENGAPLIKASIKAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN DALAM SELURUH ASPEK HIDUP KITA.
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi." (Yosua 1:8-9)
Bukankah mengalami keajaiban dan kebesaran Tuhan adalah kerinduan hati kita? Caranya, aplikasikan firman Tuhan dalam hidup kita. Artinya, bersikap dan bertindaklah sesuai kebenaran firman Tuhan.
Kepada orang-orang Yahudi Kristen di perantauan, oleh ilham Roh Kudus Yakobus nasehatkan supaya mereka menjadi pelaku firman Tuhan, bukan hanya pendengar saja.
21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.
23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.
24 Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. (Yosua 1:21-24)
Mengapa ini penting? Karena untuk mengalami sebuah perubahan hidup, orang percaya harus melakukan firman Tuhan secara konsisten dalam keseharian mereka. Sekedar membaca dan mengetahui banyak ayat firman Tuhan tidak akan mengubah cara dan pola hidup seseorang. Tapi dengan melakukannya, orang percaya akan diubahkan menjadi serupa dengan gambaran anak-Nya.
Melakukan firman Tuhan itu artinya membiarkan pribadi Allah manunggal dengan pribadi orang percaya dan berjalan seirama dengan langkah dan Tujuan Kristus dalam hidup mereka. Inilah yang disebut keintiman sejati. Semakin kita berkomitmen melakukan firman Tuhan, hidup kita akan semakin serupa dengan gambaran anak-Nya dan nama Bapa di Sorga dimuliakan. Amen!

Komentar
Posting Komentar