Minggu, 19 Februari 2023
POOR TO BE RICH
Di bulan Februari ini, kita akan belajar firman Tuhan dengan tema Poor To Be Rich, di mana kita belajar tentang prinsip diperkaya. Prinsip ini berhubungan dengan sikap hati kita di hadapan Allah. Kita sudah belajar bersama bahwa dasar setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus untuk mengalami kaya di hadapan Allah adalah karya Yesus di kayu salib.
2 Kor 8:9 Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
Yesus Kristus adalah sumber supaya setiap orang percaya menjadi kaya di hadapan Allah.
PENDAHULUAN
Yesus memberitahukan bahwa jika kita memperhatikan dengan baik dan sungguh-sungguh, kita akan diperkaya atau ditambahkan, namun jika kita tidak mempunyai cara mendengar yang benar, maka apapun yang kita punya akan semakin kecil bahkan hilang (Luk. 8:18).
Mendengar (dalam bahasa Ibrani shamma) memiliki makna yang sangat dalam yaitu mendengar dengan penuh perhatian, disertai respon untuk mentaati atau melakukannya dan dengan penuh tanggung jawab. Dalam perumpamaan penabur benih, dikatakan keempat orang itu sama-sama mendengar firman Allah yang sama, namun mereka mempunyai hasil yang berbeda-beda. Ini yang harus menjadi fokus perhatian kita bersama.
Pada saat Yesus memberikan penjelasan tentang makna perumpamaan penabur benih, Yesus mengulang empat kali tentang orang yang mendengar tersebut dan tentang sikap hatinya terhadap firman Tuhan yang ditaburkan di hati mereka masing-masing. Dalam Injil Lukas 8:12-15, ditulis tentang respon atau sikap hati mereka yang berbeda-beda, ayat 12 menuliskan orang pertama mendengar firman yang ditabur itu dan sudah ada di hatinya tapi tidak direspon dengan benar sehingga Iblis mempunyai kesempatan untuk mengambil atau menggagalkannya, pada ayat 13 menuliskan orang kedua, orang ini mendengar firman yang ditabur dan hatinya berespon dengan benar, namun dia tidak mau lebih lagi untuk mengenal dan berakar di dalam Kristus, mungkin dia berpikir cukup jadi orang Kristen biasa biasa saja, pada ayat 14 menuliskan bahwa orang ketiga, orang ini telah, mendengar firman dan hatinya berespon dengan benar namun perkara-perkara dari luar seperti kekuatiran, tipu daya kekayaan dsb lebih banyak menguasai hatinya sehingga firman yang ada di hatinya tidak sampai pada tahapan untuk berbuah dan pada ayat 15 menuliskan bahwa orang keempat, orang ini mendengar, menyimpan di hatinya dan bertekun sehingga benih firman itu sampai berbuah dan matang.
Jadi dari perumpamaan ini kita dapatkan makna mendengar dan sikap hati adalah hal yang sangat penting. Melalui ajaran Yesus ini, kita harus memperhatikan dengan sungguh-sunguh firman Tuhan yang kita dengar dengan respon untuk melakukan dengan penuh tanggung jawab, maka cara kita mendengar akan diperkaya lebih lagi.
Untuk bisa mendapatkan lebih atau diperkaya oleh Tuhan sepanjang tahun ini, kita harus meminta kepada Roh Kudus agar diberikan kesanggupan untuk menilik hati setiap hari. Di tahun 2023 setiap jemaat wajib menilik, memeriksa hatinya di hadapan Tuhan. Kitab Amsal memberitahukan bahwa hati adalah sumber yang memancar keluar dalam bentuk perilaku dalam kehidupan manusia. Pancaran itu dapat berhubungan dengan Tuhan dan dengan manusia (Ams 4:23). Terjemahan BMIK menuliskan, “Jagalah hatimu baik-baik, sebab hatimu menentukan jalan hidupmu”.
Ingatlah pada waktu kita menjadi orang yang percaya, hati kita telah disucikan oleh darah Yesus (Ibr 9:14), kita diciptakan baru (menjadi manusia baru 2 Kor 5:17). Dengan hati yang telah dibaharui dan terus menerus dibaharui oleh Roh Kudus dan firman-Nya akan memampukan kita untuk dapat memiliki kemampuan untuk memperhatikan cara kita mendengar dan menjaga hati belajar percaya dan melembutkan hati dengan kerelaan pada saat Dia membentuk kita.
Dengan Tema Poor To Be Rich ini, kita akan menggali kebenarannya dari ajaran Tuhan Yesus kepada para murid-Nya dalam kitab Injil Matius 5:3, dari ajaran ini kita mendapatkan prinsip yang penting agar di tahun ini kita semua diperkaya di dalam Tuhan.
1. Makna Kata “ berbahagialah”.
Kata berbahagialah diterjemahkan dari ungkapan yang sering digunakan dalam PL terutama dalam Mazmur, Amsal dan Pengkotbah, sedangkan dalam PB, kata berbahagialah ditulis banyak dalam Injil Matius (Bnd Mat 11:6; 13:16; 16:17; 24:46). Penggunaan kata ini biasanya diucapkan pada waktu para umat mengadakan ibadah di bukit suci di Yerusalem, di mana pemimpin ibadah mengucapkan seruan kepada umat, yang kurang lebih artinya “Kalian orang-orang yang beruntung karena menerima berkat dan rahmat Tuhan”.
Yesus juga menyampaikan ajaran-Nya kepada murid-murid-Nya di dalam Injil Matius 5:3 dengan diawali ucapan berbahagialah. Ucapan kata berbahagialah ditujukan supaya murid-murid-Nya memiliki prinsip yang benar sebagai pengikut-Nya, ayat ini berbunyi sebagai berikut:
Mat 5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Mat 5:3 Blessed are the poor in spirit: for theirs is the kingdom of heaven (KJV).
Kata berbahagialah ini memiliki makna yang sangat berbeda dengan apa yang dikatakan di luar kekristenan atau apa yang dikatakan oleh dunia ini.
Menurut KBBI kata bahagia diartikan (1) keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan); (2) beruntung. Dari arti kata bahagia menurut KBBI, umumnya orang akan memaknai bahagia dengan berbagai-bagai pemahaman seperti hidup tanpa masalah atau makmur karena tidak mengalami kekurangan atau kemiskinan dsb.
Mat 5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Kalimat ayat ini sama dengan kalimat dalam PL seperti Mazmur 1:1 yang berbunyi:
Maz 1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
Kita harus memahami bahwa kalimat ucapan berbahagialah ini bukanlah ucapan untuk sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, bukan juga ucapan nubuat tentang keadaan yang akan terjadi di kemudian yang dapat menarik serta menghiburkan hati.
Ucapan berbahagia ini lebih merupakan ucapan selamat tentang apa yang terjadi. Ucapan seruan dari Yesus kepada setiap orang yang menjadi murid-Nya. Kebahagiaan ini adalah kebahagiaan berkat yang menjadi milik setiap orang Kristen, kebahagiaan ini bukanlah kebahagiaan yang mesti ditunda untuk waktu yang akan datang. Kebahagiaan ini adalah kebahagiaan yang sifatnya waktu sekarang. Kebahagiaan berkat ini bukan sesuatu yang akan dimasuki oleh orang Kristen melainkan sesuatu yang telah dimasuki oleh orang Kristen. Pada saat seseorang menjadi percaya kepada Yesus, orang ini menjadi orang yang berbahagia atau orang yang diberkati. Kalimat yang Yesus ucapkan merupakan kalimat yang diberi tanda seru di akhir kalimatnya (bnd BMIK).
Jika kita menggunakan bahasa sederhana, kalimat ucapan ini bisa diucapkan sebagi berikut:
O, betapa bahagianya menjadi seorang Kristen! O, betapa nikmatnya mengikuti Yesus Kristus! O, alangkah bahagianya mengenal Yesus Kristus sebagai Juru selamat dan Tuhan!
Jadi ucapan berbahagia ini merupakan pernyataan sukacita dan kegembiraan yang memancar dari kenyataan kehidupan dalam Kristus.
Ketika Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya dengan mengatakan “berbahagialah” kata ini berasal dari bahasa Yunani makarios yang dimaknai sebuah kebahagiaan yang mengalir dari hubungan dengan Allah. Kata makarios juga menunjukan hubungan yang baik antara dua pihak di mana pihak pertama (yang lebih berkuasa) melakukan sesuatu yang baik terhadap pihak kedua. Dengan kata lain berbahagia atau kebahagiaan ini adalah sebuah ciri khas dari orang percaya ketika mereka memiliki hubungan pribadi dengan Allah dan Kerajaan Allah. Kita harus mengetahui dengan pasti bahwa kebahagiaan yang sejati adalah milik Tuhan, hanya ada pada Tuhan dan Tuhan memberikan kepada setiap orang yang disebutkan dalam Matius 5:1-12.
Kebahagiaan yang ada dalam dunia ini bersifat superfisial (permukaan saja) yang tergantung kepada situasi, tergantung pada materi. Orang dunia menyebut bahagia jika seseorang dalam kehidupan yang dijalaninya berjalan tanpa ada hal-hal yang menyusahkan. Sedangkan apa yang Yesus ajarkan dengan mengatakan berbahagialah, maksud-Nya adalah Dia sedang mengajarkan tentang kebahagiaan yang tidak tergantung pada situasi, tidak bergantung pada materi, kebahagiaan yang diterima dari Allah.
Kata berbahagia atau makarios yang diucapkan oleh Yesus ini bentuk kalimat nya adalah kalimat yang mengungkapkan seseorang yang sedang diberkati atau seseorang yang sedang bahagia. Kata ini menunjuk pada sebuah peristiwa yang sedang terjadi dan terus- menerus terjadi. Artinya ketika Yesus mengatakan berbahagialah, orang itu sedang menerima kebahagiaan dan terus menerus mengalami kebahagiaan atau orang itu sedang diberkati dan terus menerus diberkati. Dalam terjemahan KJV digunakan kata blessed yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah berbahagialah, sebenarnya makna kata makarios tidak hanya diterjemahkan dengan kata berbahagia saja tetapi dapat juga diterjemahkan dengan kata diberkati.
Jadi kesimpulannya, (1) kata makarios yang artinya berbahagialah atau diberkatilah ditujukan kepada orang percaya yang sedang diberkati dan terus menerus diberkati oleh Allah dan situasi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perasaan manusia tentang bahagia. (2) kata makarios yang diartikan berbahagialah atau diberkatilah tidaklah merujuk pada keadaan kaya secara materi atau keadaan sehat secara jasmani melainkan makna kata berbahagia atau diberkati menunjuk pada keadaan diberkati dalam pandangan Tuhan, di mata Tuhan orang ini adalah orang yang sedang menerima kebahagiaan atau diberkati terus menerus. (3) kebahagiaan sejati hanya dialami kalau Roh Kudus membimbing roh manusia agar seluruhnya bersandar pada Allah saja.
2. Makna Kata Miskin di hadapan Allah atau poor in spirit.
Siapakah orang percaya yang sedang berbahagia atau diberkati dan terus menerus (diperkaya) dalam ukuran Tuhan atau dipemandangan Tuhan yaitu mereka yang diuraikan oleh Yesus dalam Injil Matius 5:1-12. Yesus mengatakan ciri orang pertama yang sedang diberkati dan terus menerus diberkati adalah mereka yang miskin di hadapan Allah atau poor in spirit.
Bahasa asli Alkitab tentang kata miskin ini memang diartikan sebagai orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa dan hanya menggantungkan dirinya pada orang lain untuk bisa hidup atau orang miskin yang benar-benar berharap pada orang lain.
Namun yang menjadi pertanyaan dalam memahami arti kata miskin ini, apakah orang miskin yang dimaksudkan dalam Injil Matius ini adalah orang yang miskin harta? Apakah orang yang tidak punya harta sama sekali? Jawabannya adalah bukan, melainkan kata miskin yang dimaksudkan adalah bagi orang yang miskin di hadapan Allah atau orang miskin secara rohani (poor in spirit).
Menurut Yesus, orang yang miskin di hadapan Allah orang yang benar-benar merindukan kerajaan Allah dalam kehidupannya dan yang hanya berharap kepada Allah saja. Orang yang dengan sikap hati miskin di hadapan Allah memiliki pengertian bahwa tidak ada sesuatu yang bisa diharapkan dalam dirinya selain bergantung kepada Tuhan sebagai sumber pemberi hidup, hanya Tuhan lah harapannya dan hanya Tuhan yang menjadi tempat dia bersandar. Adapun kekuatan untuk mencari Allah dengan sungguh- sungguh itu juga merupakan anugerah Allah bagi mereka. Jadi orang miskin secara rohani adalah orang yang menyadari kekurangannya di hadapan Allah.
Dalam Alkitab sering diungkapkan kata-kata yang menyiratkan kondisi hati seseorang di hadapan Allah seperti yang ditulis dalam: Maz 63:2 Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Pemazmur menggambarkan kondisi hatinya di hadapan Allah sebagai orang ingin mengenal, haus, rindu akan Tuhan, dia menggambarkan kondisinya seperti tanah yang menginginkan air.
Raja Daud juga menggambarkan kondisi hatinya di hadapan Allah dalam bentuk syair, dia mengatakan kerinduannya akan firman Tuhan dan rumah Tuhan.
Maz 27:4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.
Maz 119:20 Hancur jiwaku karena rindu kepada hukum-hukum-Mu setiap waktu.
Pemazmur lain juga mengungkapkan dirinya di hadapan Allah seperti hewan yang dungu dan tidak mengerti apa-apa, kata-kata ini mengungkapkan hati yang sama sekali bergantung kepada Allah karena sama sekali tidak tahu apa-apa. Pemazmur ini melihat orang fasik kok hidupnya enak-enak saja dan ketika dia melihat dirinya sendiri keadaannya sangat bertolak belakang, pemazmur akhirnya memiliki pemahaman yang benar ketika dia masuk dalam persekutuan dengan Tuhan, sekarang pemazmur memiliki pemahaman dengan benar ketika dia dekat dengan Allah dan bergantung pada Allah. Ketergantunganya kepada Allah diungkapkan dalam ayat ini:
Maz 73:22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat- Mu.
Dalam PB, rasul Paulus juga mengungkapkan keinginan hatinya di hadapan Allah dalam kitab Filipi, bahwa satu-satunya yang dia inginkan di hadapan Allah adalah ingin mengenal Yesus, ingin mengalami kuasa kebangkitan Yesus dan ingin mengalami keserupaan dengan Yesus.
Fil 3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
Fil 3:10 Satu-satunya yang saya inginkan ialah supaya saya mengenal Kristus, dan mengalami kuasa yang menghidupkan Dia dari kematian. Saya ingin turut menderita dengan Dia dan menjadi sama seperti Dia dalam hal kematian-Nya. BMIK.
Jadi berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang-orang yang sedang diberkati dan akan terus menerus diberkati, orang-orang yang hanya berharap kepada Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai sumber kehidupannya sepanjang hari-hari hidupnya, mereka bukan orang yang miskin secara materi tapi miskin secara rohani yang sedang merindukan Allah dalam hidupnya.
Dari kebenaran Matius 5:3 yang kita pelajari, sekarang kita mempunyai pengertian bahwa ayat ini untuk semua orang percaya atau berlaku bagi semua orang percaya, apakah mereka ini dalam keadaan kaya secara materi atau apakah mereka ini dalam keadaan miskin secara materi, yang terpenting dari apa yang Yesus ajarkan adalah sikap hati yang miskin di hadapan Allah, orang-orang yang di dalam hatinya sangat mengharapkan dan merindukan Allah dan firman-Nya, bagi orang-orang yang mempunyai sikap hati seperti inilah yang dikatakan bahwa mereka adalah orang-orang percaya yang sedang diberkati dan terus menerus diberkati di hadapan Allah, merekalah orang-orang yang diperkaya di hadapan Allah.
Apa yang kita pelajari dalam bulan ini adalah tentang keinginan Allah terhadap orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang terkasih. Allah ingin setiap orang mempunyai hati yang merindukan Dia dan firman-Nya. Semua ini berbicara tentang karakter ilahi yang Allah kehendaki yang menjadi tanda dan tujuan semua orang Kristen.
3. Langkah-langkah untuk dapat memiliki hati yang senantiasa bergantung kepada Allah.
Berikut ini adalah langkah-langkah yang mesti kita lakukan yang berhubungan dengan hati kita yaitu:
a. Belajar setiap hari ngobrol dengan Tuhan (Matius 11:28-30)
Mat 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Mat 11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
Ayat ini berbicara tentang orang-orang Yahudi yang menanggung beban (kuk) yang berat dari apa yang diajarkan para ahli Taurat, Yesus mengundang mereka untuk datang kepada-Nya, Yesus berjanji akan memberikan kelegaan atau Yesus berjanji untuk mengangkat beban mereka. Yesus mengajak para murid-Nya untuk menerima beban (kuk) dari Dia dan belajar dari Dia, kata belajar artinya mentaati Yesus sebagai guru-Nya (belajar, apa artinya menjadi seorang murid-Nya atau menerima ajaran-Nya). Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia lemah lembut dan rendah hati artinya, ia tidak menyusahkan para murid-Nya dan Dia tidak akan memandang rendah seorangpun sehingga mereka mendapat ketenangan atau memiliki hubungan yang baik dengan Allah.
Tuhan Yesus setiap hari mengajak kita untuk datang dan membicarakan semua yang kita alami dalam hidup kita yang menjadi beban berat yang kita hadapi. Sebagai orang yang percaya kepada-Nya, Dia berjanji akan memberikan hubungan yang baik dengan Allah, semuanya ini akan terjadi pada saat kita melakukan bagian kita yaitu menerima firman-Nya dan ajaran-Nya.
Pada saat kita selalu datang dan membicarakan beban apa saja kepada-Nya, kita sedang memposisikan diri untuk merendahkan diri di hadapan-Nya dan bersedia untuk mentaati-Nya.
Para rasul juga menuliskan kepada kita banyak ayat-ayat yang mengajarkan kepada kita untuk selalu datang kepada Yesus, dan mentaati-Nya seperti yang ada di bawah ini:
1 Pe 5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
Fil 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
Ibr 4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.
1 Kor 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Maz 62:9 Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. Sela
Rat 2:19 Bangunlah, mengeranglah pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam; curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan karena lapar di ujung-ujung jalan!
b. Belajar untuk membuka menutup pintu hati dengan benar di hadapan Allah.
Karena hati adalah sumber kehidupan, maka dia akan memancar melalui panca indra dan perbuatan kita. Ingatlah hidup di dunia ini isinya adalah mempengaruhi atau dipengaruhi, artinya kita harus bergantung kepada Roh Kudus untuk membuka dan menutup hati kita karena bukan hanya manusia dan Tuhan yang ingin mempengaruhi hati tetapi Iblis juga ingin menaruh pengaruhnya dihati kita. Hati kita harus diserahkan kepada Tuhan setiap hari.
Para rasul juga banyak menuliskan agar kita pandai membuang dan memakai seperti.
Efe 4:22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,
Efe 4:23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,
Efe 4:24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
Yak 1:21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
Kata “buanglah”, makna aslinya dari Alkitab adalah tindakan membuang debu dari seseorang seperti membuka atau melepaskan pakaian. Kata ini menyiratkan agar kita sebagai murid Yesus menanggalkan kehidupan dan pola tingkah laku yang lama (Roma 13:12; Kol 3:8; 1 Pet 2:1).
Kata terimalah makna aslinya dalam Alkitab adalah bahwa perbuatan itu hanya dilakukan satu kali dan bersifat menentukan, artinya bahwa setiap kali seseorang menerima firman Allah, apa yang kita terima merupakan anugerah atau pemberian yang berasal dari Allah. Kata terimalah juga dapat diartikan taatilah firman Allah. Setiap firman Allah harus kita sambut dengan sikap hati yang terbuka dan kita menerimanya dalam hati kita untuk mentaatinya.
c. Belajar mentaati Roh Kudus yang menuntun hidup kita.
Joh 16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
Kata memimpin artinya Roh Kudus akan menunjukkan jalan bagi kita sehingga kita mengetahui kebenaran tentang Allah dan mengetahui semua yang benar yang berasal dari Allah. Ingatlah hati yang mau senantiasa bergantung atau berharap kepada Allah dan ingin selalu mengenal Allah merupakan pekerjaan Roh Kudus di dalam hidup kita.

Komentar
Posting Komentar