ENRICHED (DIPERKAYA)
PENDAHULUAN
Kata “Enriched” dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata “diperkaya”. Kata “diperkaya” menurut KBBI diartikan telah mendapat penambahan. Kita belajar dari jemaat di Korintus, bagaimana kondisi hidup mereka di dalam Kristus pada awalnya boleh dikatakan tidak mempunyai apa-apa, rasul Paulus mengatakan dalam 1 Kor 1:26 yang berbunyi:
1 Kor 1:26 Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.
Namun seiring berjalannya waktu, Alkitab mengatakan tentang kondisi mereka bahwa mereka sekarang diperkaya dalam segala hal di dalam Kristus seperti yang dinyatakan dalam ayat-ayat dibawah ini:
1 Kor 1:5 Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, 2 Kor 8:7 Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, --dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami-- demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.
Jemaat Korintus menjadi jemaat yang kaya dalam segala hal di dalam Kristus dan rasul Paulus mendorong mereka agar juga menjadi kaya dalam pelayanan kasih.
2 Kor 9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; 2 Kor 9:11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.
Dari ayat 2 Kor 9:11, kita menemukan kalimat kamu akan diperkaya. Kata “diperkaya” dalam KJV dituliskan being enriched dari kata Yunani ploutizō. Kata ploutizō diartikan to make wealthy, yang dalam bahasa kita dimaknai dengan kalimat: untuk membuat kaya (kekayaan rohani/spiritual); untuk dilengkapi dengan mewah. Jadi kata “diperkaya” atau enriched berhubungan dengan segala sesuatu yang ditambahkan sehingga menjadi kelimpahan.
Di zaman sekarang masyarakat umumnya memiliki pandangan yang berbeda dengan Alkitab tentang kaya atau kekayaan. Menurut KBBI kata kaya berarti mempunyai banyak harta (uang dan sebagainya); mempunyai banyak (mengandung banyak dan sebagainya). Kata kaya jika diterapkan bisa dimaknai dengan orang yang memiliki banyak uang dan barang-barang berharga lainnya, orang ini disebut orang kaya, sedangkan orang yang tidak mempunyai uang banyak dan barang-barang berharga disebut orang miskin.
Alkitab memiliki pandangan tersendiri tentang kaya, Alkitab senantiasa menegaskan bahwa Allah terlibat langsung dalam kehidupan orang-orang tertentu dengan janji-janji-Nya untuk memberkati sehingga mereka menjadi kaya. Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, Ia memberikan kuasa untuk mengelola sumber- sumber ekonomi seperti berkuasa atas ikan-ikan, burung-burung, binatang-binatang yang telah Allah ciptakan (Kej 1:27-28), juga pada saat Adam dan hawa jatuh di dalam dosa pemberontakan terhadap Allah, juga dibicarakan tentang ekonomi yang terganggu (Kej 3:17-19 bnd Ulangan 28).
Alkitab PB memiliki pemahaman tentang kaya tidak melulu berbicara tentang uang atau barang-barang yang berharga yang dimiliki oleh seseorang. Yesus mengajarkan agar supaya para pengikutnya memiliki harta yang kekal seperti:
Mat 6:19 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.
Mat 6:20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
Luk 12:32 Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.
Luk 12:33 Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat.
Rasul Paulus menceritakan tentang jemaat Makedonia yang sangat miskin secara kepemilikan uang dan harta benda bahkan di mata masyarakat, namun mereka disebut kaya, karena sikap hati mereka yang benar di hadapan Kristus, mereka punya hati yang rela, mereka mempunyai hati yang murah hati dan kemurahan hati mereja diwujudkan dalam bentuk pemberian uang kepada saudara seiman yang miskin (baca 2 Kor 8:1-5). Tuhan Yesus juga melihat jemaat- jemaat di dalam kitab Wahyu, Ia memuji jemaat di Smyrna (Why 2:8- 11), jemaat Smyrna ini kondisi hidupnya adalah sangat miskin dan susah tapi Tuhan menyebutnya kaya, sebaliknya dengan jemaat Laodikia (Why 3:17-18), secara materi jemaat ini kaya tapi Tuhan menyebutnya sebagai miskin dan telanjang dan buta.
Jadi dari beberapa ayat yang kita baca di atas kita mendapatkan bahwa ada kaya di bumi dan ada kaya di sorga, Alkitab tidak anti terhadap kekayaan tapi Alkitab mengajarkan agar setiap orang mempunyai hati yang kaya di hadapan Allah.
Kembali kepada jemaat Korintus yang didorong oleh rasul Paulus agar mereka menjadi kaya dalam pelayanan kasih. Pelayanan kasih ini merupakan pelayanan yang sangat penting bagi rasul Paulus sebagai rasul yang dipanggil untuk bangsa-bangsa non Yahudi dan merupakan kesepakatan bersama dengan rasul Yakobus, Petrus dan Yohanes (Galatia 2:9-10).
Gal 2:9 Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;
Gal 2:10 hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.
Gal 2:10 Satu-satunya permintaan mereka ialah supaya kami memperhatikan orang miskin. Dan saya justru senang melakukan hal itu. BMIK.
Inilah alasannya mengapa rasul Paulus mengajarkan tentang pelayanan kasih kepada orang-orang kudus di kota Korintus dan kota- kota yang lain untuk memberi kepada saudara-saudara yang miskin dan oleh ilham Roh Kudus, dia mengajarkan kebenaran tentang orang memberi dengan kerelaan hati dan sukacita, setiap orang yang melakukannya akan mengalami kasih karunia Allah yaitu kebenaran hukum tabur tuai; Allah sanggup melimpahkan kasih karunia-Nya sehingga orang yang menerima kasih karunia-Nya senantiasa berkecukupan dan berkelebihan di dalam segala sesuatu; Allah menyediakan benih (modal) dan memperbanyaknya; Allah memperkayanya dalam segala macam kemurahan hati dan hasilnya dari semuanya ini menyebabkan banyak orang mengucap syukur kepada Allah (2 Kor 9:6-12).
Pada tahun 2023 ini, kita akan diperkaya oleh Tuhan Yesus dalam segala hal, seperti yang telah terjadi di jemaat Korintus, Jemaat Makedonia, Jemaat Smyrna, kita akan dituntun oleh Roh Kudus hari demi hari, tantangan demi tantangan akhir dari semuanya itu kita didapati semakin kaya di hadapan Kristus.
KARYA YESUS MENJADI SUMBER UNTUK DIPERKAYA
Rasul Paulus oleh ilham Roh Kudus menuliskan tentang apa yang Tuhan Yesus telah lakukan di kayu salib bagi kita yang percaya dalam 2 Korintus 8:9 yang berbunyi:
2Kor 8:9 Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
Ayat ini menjelaskan kepada jemaat Korintus tentang Yesus Kristus yaitu mengenai kemurahan hati Yesus. Yesus Kristus yang kaya, dalam keadaaan-Nya sebagai Allah, Ia ada dalam kesempurnaan kodrat ilahi-Nya, memiliki kepenuhan ketuhanan di dalam diri-Nya, semua yang dimiliki Bapa, dan setara dengan-Nya; seperti keabadian, kekekalan, ketidakterbatasan, kemahahadiran, kemahatahuan, kemahakuasaan dan dalam karya tangan-Nya, yang menjangkau segala yang dijadikan, langit, bumi, laut, dan segala isinya, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan; di kerajaan universal dan kekuasaannya atas semua makhluk.
Namun demi kita Dia menjadi miskin; dengan mengambil sifat manusia, dengan segala kelemahan dan ketidaksempurnaannya kecuali dosa; Dia datang bukan sebagai tuan, tetapi sebagai seorang hamba; Dia menanggung banyak celaan dan rasa malu, dan akhirnya kematian itu sendiri, mati dengan sangat direndahkan dan dipermalukan, bukan dengan menjadi manusia Ia berhenti menjadi Tuhan, atau kehilangan kesempurnaan ilahi-Nya, tapi dalam kodrat manusia-Nya Ia menjadi kebalikan dari kodrat ilahi-Nya, yaitu, terbatas, tidak mengetahui beberapa hal, dan fana; dihadapkan pada banyak kekejaman dan kemiskinan lahiriah; Dia lahir dari orang tua yang miskin, tidak memiliki pendidikan, tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, dilayani oleh orang lain dari harta mereka, dan tidak memiliki apa pun untuk diwariskan kepada ibu-Nya pada saat kematian-Nya, malah menyerahkan perawatan ibunya kepada salah satu murid-Nya.
Yesus Kristus menjadi miskin artinya Dia meninggalkan atau melepaskan kekayaan-Nya demi manusia berdosa agar supaya orang berdosa yang percaya kepada-Nya menjadi kaya di mata Allah atau di pandangan Allah.
Ayat ini menyadarkan kepada jemaat di Korintus bahwa mereka menjadi kaya secara rohani karena Yesus telah rela menjadi miskin. Dan bukan saja kepada jemaat di Korintus ayat ini berlaku tetapi juga untuk kita yang percaya kepada Yesus Kristus di zaman sekarang.
Yesus Kristus yang kaya telah rela menjadi miskin. Untuk siapa Dia lakukan semua ini? Ia lakukan ini bukan untuk para malaikat, tetapi untuk orang-orang pilihan-Nya (Ibr 2:16); untuk semua orang berdosa dan jahat dan Ia menjadi miskin dengan tujuan agar mereka semua orang berdosa melalui kemiskinan-Nya menjadi kaya; bukan dalam hal duniawi, tetapi dalam hal rohani dan dengan ketaatan, penderitaan, dan kematia-Nya di kayu salib, Dia telah membayar semua hutang mereka (Kol 2:13-14), Dia mendandani semua orang berdosa yang percaya kepada-Nya dengan membuat jubah kebenaran, mulia dan dihiasi dengan permata. Seorang manusia berdosa yang percaya kepada Yesus Kristus, dia adalah orang miskin yang menjadi kaya karena Yesus yang kaya telah rela menjadi miskin baginya.
Melalui darah-Nya dan pengorbanan-Nya, Ia telah menjadikan mereka raja dan imam bagi Bapa-Nya yang di sorga (1 Pet 2:9-10). Mereka diperkaya oleh-Nya dengan kuasa Roh-Nya (Kis 1:80; dengan kebenaran Injil, dengan kekayaan kasih karunia-Nya di bumi dan kemuliaan di sorga nanti. Yesus Kristus telah melakukan semua ini karena Dia sangat mengasihi manusia dan bagi kemuliaan Bapa-Nya yang di sorga.
Memasuki tahun 2023 ini, kita mengalami being enriched. Kita akan diperkaya oleh Tuhan Yesus, kehidupan kita akan semakin bertambah besar di dalam kasih karunia-Nya.
Ada 3 Langkah Penting untuk dilakukan agar visi enriched menjadi nyata bagi kita yaitu
1. LANGKAH PENTING PERTAMA ADALAH LISTEN
Listen (bahasa inggris) diartikan dalam bahasa Indonesia: mendengar. Mendengar adalah kehendak Allah bagi manusia, karena Dia yang menciptakan alat dengar dan sistem pendengaran di dalam tubuh kita. Allah menciptakan manusia dengan kemampuan untuk mendengar dengan tujuan agar manusia dapat berkomunikasi dengan Dia dan sesama manusia.
Secara umum mendengar adalah proses mengartikan apa yang didengar dan secara mental mengaturnya agar dapat diterima akal, namun Alkitab menuliskan bahwa mendengar bukan sekedar gelombang bunyi yang diterima oleh telinga dan dicerna oleh otak manusia, mendengar menurut Alkitab harus disertai sikap penuh perhatian untuk mentaati. Setiap orang bisa mendengar, tetapi tidak setiap orang bisa mendengar dengan penuh perhatian. Hal ini dikarenakan mendengar penuh perhatian memerlukan keseriusan.
Untuk dapat mendengarkan penuh perhatian dibutuhkan kesiapan secara fisik dan mental, mengambil waktu untuk diam, mempertahankan kontak mata, memusatkan perhatian, fokus atau konsentrasi yang tentu saja membutuhkan kemampuan otak untuk menerjemahkan setiap informasi yang diterima, memperhatikan ekspresi lawan bicara dan memberikan tanggapan atau respon terhadap apa yang disampaikan.
Dengan mendengar penuh perhatian kita akan mampu memahami apa yang disampaikan dan sekaligus menunjukkan kepedulian kita terhadap Tuhan atau orang yang sedang berbicara.
Yesus mengatakan siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan, artinya semua orang punya telinga, tetapi belum tentu semua orang dapat memakai telinga tersebut untuk mendengar, Yesus mengingini ketika mendengar harus dengan konsentrasi dan keinginan untuk memberi perhatian terhadap apa yang sedang didengarkan. Jika kita merenungkan kitab-kitab dalam perjanjian lama, Tuhan suka memberitahukan isi hatiNya kepada bangsa Israel. Salah satu isi hati Tuhan kepada bangsa Israel adalah agar mereka semua mendengarkan Dia. Tuhan memberitahukan kepada nabi Yeremia tentang isi hatiNya agar Israel mendengarkan Dia sebagai berikut:
Jer 7:22 Sungguh, pada waktu Aku membawa nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir Aku tidak mengatakan atau memerintahkan kepada mereka sesuatu tentang korban bakaran dan korban sembelihan;
Jer 7:23 hanya yang berikut inilah yang telah Kuperintahkan kepada mereka: Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!
Yer 7:24 Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau memberi perhatian, melainkan mereka mengikuti rancangan- rancangan dan kedegilan hatinya yang jahat, dan mereka memperlihatkan belakangnya dan bukan mukanya.
Yer 7:25 Dari sejak waktu nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir sampai waktu ini, Aku mengutus kepada mereka hamba-hamba-Ku, para nabi, hari demi hari, terus-menerus,
Yer 7:26 tetapi mereka tidak mau mendengarkan kepada-Ku dan tidak mau memberi perhatian, bahkan mereka menegarkan tengkuknya, berbuat lebih jahat dari pada nenek moyang mereka.
Dari ayat-ayat di atas kita mencermati bahwa mendengarkan merupakan kunci yang sangat penting bagi hubungan Israel dengan Tuhan Allah. Keberhasilan dalam mendengarkan berakibat sangat besar, ayat 23 mengatakan jika mendengarkan dan memberi perhatian terhadap Tuhan dan firman-Nya akan membuat mereka memiliki Allah yang hidup dan mereka menjadi umat Allah yang hidup dan mereka akan mempunyai kehidupan yang berbahagia. Sebaliknya jika mereka tidak mau mendengarkan dan menegarkan tengkuk atau mengeraskan hatinya atau tidak mau memberi perhatian, akibatnya mereka menjadi bangsa yang berjalan mengikuti rancangannya sendiri dan kedegilan hatinya yang jahat dan membelakangi Tuhan yang berujung kepada penderitaan dalam pembuangan ke negeri asing (ay 24,26; 2 Taw 36:15-16).
Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus juga berulang-ulang mengatakan hal yang sama di akhir pengajaran-Nya dengan mengatakan: siapa bertelinga hendaklah ia mendengar! (Mat 11:15; 13:9,43) bahkan Dia mengatakan dalam kitab Wahyu pasal 2-3 kepada ke tujuh jemaat di Asia kecil. Kondisi dan permasalahan jemaat- jemaat itu tidak ada yang sama tapi pada bagian akhirnya Yesus senantiasa mengatakan agar mereka mendengarkan, Dia mengatakan hal yang sama yaitu Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat." (Wahyu 2:7,11,17,29; 3:6,13,22).
Dalam isi surat kepada tujuh jemaat ini berisi teguran, koreksi, nasihat dan petunjuk yang harus dilakukan. Tujuan surat itu disampaikan jemaat-jemaat itu agar supaya mereka memiliki hubungan yang benar dan melakukan yang benar di hadapanNya. Dengan mengatakan siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan, Yesus menginginkan agar jemaatNya mendengarkan dan memberi perhatian dengan sungguh-sungguh apa yang dikatakanNya, sebab pada saat mereka mendengarkan, memberi perhatian dan mentaatiNya ada upah yang Ia sediakan bagi mereka.
Di dalam Perjanjian Lama kita bisa belajar dari kisah Saul yang menerima perintah dari Tuhan, singkat cerita dia menyangka bahwa sudah melakukan firman Tuhan sesuai dengan keinginan Tuhan, tetapi ternyata di mata Tuhan, sesungguhnya Saul tidak melakukan perintah Tuhan. Tuhan menyatakan isi hatiNya kepada nabi Samuel secara pribadi dan Ia menyesal menjadikan Saul sebagai raja Israel umat-Nya, hal ini membuat Samuel sedih sekali dan berdoa semalam-malaman (1 Sam 15:11). Nabi Samuel menjumpai Saul dan menegaskan bahwa mendengarkan suara Tuhan untuk mentaatiNya lebih baik dari korban persembahan dan tidak mendengarkan adalah pendurhakaan (pemberontakan) sama dengan dosa bertenung (sihir) dan kedegilan (hati sombong) sama dengan penyembahan berhala.
1 Sam 15:22 Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.
1 Sam 15:23 Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja." Bnd terjemahan BMIK.
Mendengarkan suara Tuhan jauh lebih baik daripada korban persembahan karena mendengarkan untuk mentaati adalah hal yang sangat menyenangkan hati Tuhan.
Mendengar adalah kunci yang dapat membawa perubahan hidup dan menghasilkan perbedaan yang nyata pada saat seseorang dengar firman Tuhan. Hal ini terungkap pada saat Tuhan Yesus mengajar dalam perumpamaan tentang penabur benih, Dia mengatakan sesuatu yang sangat penting yaitu memperhatikan cara mendengar, seperti yang ditulis dalam Injil Lukas:
Luk 8:18 Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya."
Dalam Injil Lukas Tuhan Yesus menekankan agar kita memperhatikan cara kita mendengar sedangkan dalam Injil Markus penekanannya apa yang kamu dengar (Mark 4:24-25), kedua kitab Injil ini sama-sama menuliskan perihal yang berhubungan dengan kata mendengar yaitu apa yang didengar dan bagaimana cara mendengar.
Tahun 2023 ini kita harus bertumbuh dalam hal mendengar apa yang firman Tuhan katakan dan harus menambah kemampuan cara kita mendengar firman-Nya. Ketika Tuhan Yesus mengajarkan perumpamaan tentang Penabur Benih, Dia memberikan perumpamaan tentang 4 jenis tanah yang berbeda kondisinya yang menerima taburan benih yang sama dan 4 hasil yang berbeda pula, perumpamaan tentang penabur benih berbicara tentang orang-orang yang mempunyai telinga dan mendengarkan firman Tuhan (Lukas 8:12-15). Sekalipun firman Tuhan yang didengar sama tapi hasilnya sangat berbeda, kuncinya terletak pada cara mendengar yang berbeda-beda.
Dalam perumpamaan ini disebutkan adanya tantangan dalam hal mendengar firman Tuhan yaitu Iblis yang bekerja untuk mencuri firman Allah di hati; tidak bertumbuh kuat atau tidak mengakar hanya percaya sebentar saja; adanya keinginan daging: kekuatiran, kekayaan, dan kenikmatan hidup. Tapi hal ini dapat dikalahkan dengan cara membangun cara mendengar yang lebih baik.
Kita semua di tahun ini harus melatih untuk memperhatikan hal- hal apa saja yang dapat menghambat kita menerima manfaat dari firman Allah; kita harus menjaga hati kita sedemikian rupa sehingga menjadikan hati kita bagaikan lahan yang subur bagi firman Allah. Iblis, ketidakmauan untuk berakar dalam Kristus, tipu daya (pesona) kekayaan, kekuatiran dan keinginan-keinginan daging menjadi hal-hal yang akan mematikan firman Allah di hati kita (Markus 4:15-19), semuanya itu memang bisa membuat kita tidak menerima apa-apa, tapi setelah kita belajar visi di tahun ini, diharapkan kita semua akan menerima hasil yang terbaik dan diperkaya oleh Tuhan.
Tuhan Yesus mengatakan tentang orang yang mempunyai dan orang yang tidak mempunyai dalam Lukas 8:18…Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya." Orang yang mempunyai akan diberi lagi atau ditambahkan sehingga memiliki lebih banyak, tapi orang yang tidak mempunyai akan mengalami kehilangan, bahkan yang sudah ada padanya dapat hilang. Apa maksud semuanya ini? Maksudnya adalah orang yang mempunyai cara mendengar dengan baik, kepadanya akan diberi lagi atau ditambahkan sehingga dia mempunyai lebih banyak dari apa yang dia terima sebelumnya melalui mendengar, sebaliknya orang yang tidak mempunyai cara mendengar yang baik, dia akan mengalami kehilangan atau tidak mengalami pertambahan, malah apa yang masih dia punya sebelumnya bisa semakin kecil dan lama-kelamaan hilang atau tiada.
Yesus mengatakan tentang jenis tanah yang baik (jenis ke4) adalah orang yang mendengar firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik dan hati yang tekun (Lukas 8:15), kata menyimpan ini artinya memegangnya, memilikinya dengan kokoh, semua ini berhubungan dengan hati orang mendengar. Jadi cara mendengar yang baik, penuh perhatian, fokus, konsentrasi adalah sesuatu yang di mulai dari dalam hati. Sikap hati yang benar terhadap firman Tuhan akan membuat orang itu memiliki firman Tuhan secara pribadi.
Jadi tiap-tiap orang akan mengalami pembaharuan hidup atau tidak; memperoleh hasil atau tidak, hal ini masing-masing ditentukan dari cara dia mendengar dan dari apa yang dia dengar.
2. LANGKAH PENTING KEDUA ADALAH BELIEVE
Kata Believe dalam bahasa inggris, diartikan dalam bahasa Indonesia dengan kata percaya.
Rom 4:18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."
Ayat dalam Roma 4:18 adalah tulisan rasul Paulus yang sedang membahas iman Abraham. Abraham mengalami situasi yang memang tidak ada harapan sama sekali untuk mempunyai anak atau keturunan, Alkitab menuliskan kondisi Sara istrinya sudah mati haid, sudah tidak mempunyai sel telur dan rahimnya sudah tertutup, sedangkan Abraham sendiri sudah sangat tua umurnya 100 tahun dan tubuhnya sudah sangat lemah, secara fisik adalah mustahil untuk mempunyai keturunan.
Namun Alkitab tidak hanya menuliskan dari sisi fisik dari Abraham dan Sara yang semakin merosot, Alkitab menuliskan juga dari sisi iman Abraham. Alkitab mengatakan pada saat Abraham menghadapi kondisi yang tidak mungkin, Abraham memilih untuk tetap berharap dan tetap percaya kepada Tuhan yang telah berjanji kepadanya bahwa dia akan mempunyai keturunan.
Ketetapan hati untuk tetap berharap dan percaya membuat imannya tidak menjadi lemah, Ia tidak mengijinkan kebimbangan (karena ketidakpercayaan) melemahkan imannya, Ia menguatkan imannya lebih kuat lagi dengan cara selalu memuliakan Allah. Dengan iman yang semakin kuat, Abraham menjadi pribadi yang mempunyai keyakinan yang kuat kepada Allah bahwa Allah berkuasa memenuhi janji-Nya, bahwa Allah setia dengan janji-Nya (Ibr 11:11). Jadi keterbatasan fisik dan usia, kondisi yang tidak memungkinkan, tidak menghalangi Abraham untuk tetap berharap dan percaya kepada Tuhan dan akhirnya dia menerima penggenapan janji Allah di dalam hidupnya.
Rom 4:18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."
Rom 4:19 Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.
Rom 4:20 Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,
Rom 4:21 dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
Rom 4:22 Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.
Memasuki tahun 2023 ini, kita bisa saja diperhadapkan pada situasi yang sama atau serupa dengan Abraham, di mana kita mengalami suatu situasi yang serba tidak mungkin, jalan sudah tertutup, sudah tidak mempunyai apapun untuk berharap. Ingatlah ini baik-baik! Kita harus belajar untuk mengikuti teladan iman dari Abraham. Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, tetaplah berharap; jangan ijinkan kebimbangan, ketidakpercayaan, kekuatiran menguasai hati kita, sebaliknya ijinkan Roh Kudus menolong sehingga kita dapat terus percaya kepada Allah dan Firman-Nya. Di tahun ini Tuhan akan memperkaya iman kita bahkan kaya dalam segala hal.
1 Kor 1:5 Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, 1Kor 1:6 sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu.
2 Kor 8:7 Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, --dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami--demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.
3. LANGKAH PENTING KETIGA: OBEY IN DISCIPLINES AND CORRECTIONS
Kata Discipline dalam kamus bahasa inggris dijelaskan sebagai berikut: the practice of training people to obey rules or a code of behavior, using punishment to correct disobedience. Yang kalau diterjemahkan secara bebas: melatih orang untuk taat aturan atau sebuah kelakuan, menggunakan hukuman untuk memperbaiki ketidaktaatan. Menurut KBBI kata: disiplin (kata benda), kata kerja berdisiplin diartikan menaati (mematuhi) tata tertib.
Kata Correction dalam kamus bahasa inggris dijelaskan sebagai berikut: a change made to something in order to correct or improve it, or the action of making such a change. Yang diterjemahkan secara bebas: perubahan yang dibuat untuk memperbaik sesuatu; memperbaikinya atau tindakan untuk membuat perubahan. Menurut KBBI kata koreksi diartikan pembetulan; perbaikan; pemeriksaan.
Kata disiplin dan koreksi ini ada di dalam terjemahan bahasa inggris, yang saya kutip dari AMP (Amplified Bible)
Ibr 12:5 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;
Ibr 12:6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
Heb 12:5 and you have forgotten the divine word of encouragement which is addressed to you as sons, "MY SON, DO NOT MAKE LIGHT OF THE DISCIPLINE OF THE LORD, AND DO NOT LOSE HEART and GIVE UP WHEN YOU ARE CORRECTED BY HIM;
Heb 12:6 FOR THE LORD DISCIPLINES and CORRECTS THOSE WHOM HE LOVES, AND HE PUNISHES EVERY SON WHOM HE RECEIVES and WELCOMES [TO HIS HEART]." [Pro 3:11-12] AMP.
Ayat 5-6 yang kita baca ada di dalam perikop Ibrani 12:5-11 firman Tuhan ini ditujukan kepada jemaat pada waktu itu yang sedang mengalami penderitaan hebat karena imannya kepada Yesus Kristus, melalui tulisan penulis Ibrani ini mereka mendapatkan pengertian dan penghiburan dari Roh Kudus, sehingga mereka menjadi tetap semangat dalam iman dan dalam pengiringan mereka kepada Yesus Kristus.
Penulis Ibrani oleh ilham Roh Kudus memberikan pemahaman bahwa seperti para pahlawan iman di dalam PL, karena iman mereka telah melakukan kehendak Allah pada zamannya dan oleh karena iman mereka juga mengalami banyak penderitaan. Dengan uraian para pahlawan iman yang kuar biasa itu (Ibrani 11), Roh Kudus mengingatkan kepada jemaat bahwa Allah dapat menggunakan penderitaan sebagai sarana memurnikan dan meningkatkan kualitas iman dan membuat mereka mendapat bagian dalam kodrat ilahi dari Allah. Jemaat ini dinasehati untuk tidak menganggap enteng atau jangan anggap kecil atau remeh akan didikan (disiplin) dan peringatan Allah (teguran keras). Karena kata didikan atau disiplin ini adalah kata yang menyiratkan bagaimana seorang ayah biasanya mendidik dan mengajar anaknya. Mereka dinasihati agar jangan putus asa, jangan kecewa, jangan menyerah pada waktu Tuhan mendidik/ mendisiplin dan menegur mereka dengan keras atau ketika Tuhan menunjukkan bahwa ada yang salah pada mereka atau menyadarkan kesalahan mereka dengan maksud agar mereka sadar akan kesalahan yang telah dibuat. Didikan, disiplin, teguran keras, koreksi dan hajaran diberikan kepada orang yang statusnya adalah anak yang sah, bukan anak yang gampangan atau yang tidak sah, seperti yang tercantum dalam ayat 7- 8, yang berbunyi:
Ibr 12:7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?
Ibr 12:8 Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Seorang ayah di bumi ini mendidik, mendisiplin, mengoreksi, menegur keras dan menghajar dengan keterbatasan dan menurut apa yang dia pandang baik, namun ayah-ayah di rumah kita berikan hormat. Penulis Ibrani memberikan gambaran jika ayah kita di bumi yang telah mendisiplin dan mengoreksi kita diberikan hormat, apalagi dengan Bapa di sorga, Bapa segala roh, sikap hati kita harus lebih rela dan taat untuk menerima didikan, disiplin, koreksi, teguran dan hajaran dari Dia sebab Ia mempunyai tujuan dan rancangan yang terbaik bagi anak-anak-Nya yaitu supaya kita memiliki cara hidup yang benar dan baik , supaya kita mendapat bagian dalam kekudusanNya atau supaya kita dapat menjadi kudus/suci bersama-sama Dia seperti yang ditulis alam ayat:
Ibr 12:9 Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?
Ibr 12:10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
Selanjutnya jemaat ini diberitahukan tentang rasa sakit atau sedih atau dukacita yang akan dirasakan pada saat mereka menerima didikan, diberi disiplin, dikoreksi, ditegur dengan keras dan dihajar, mereka akan merasakan rasa yang tidak enak atau tidak nyaman atau merasa susah, namun akhir dari proses ini akan menghasilkan yang terbaik di dalam hidup mereka sebagai anak-anak Allah. Mereka yang menerima didikan, disiplin, teguran yang keras, koreksi dan hajaran diberitahukan bahwa semuanya ini merupakan sarana latihan rohani agar mereka memperoleh kebenaran atau hidup damai sejahtera. Kita menjadi memiliki hidup benar atau hidup dalam damai karena kita melakukan apa yang berkenan di hadapan Allah dan sesama manusia, sesuai seperti yang dikatakan oleh Roh Kudus:
Ibr 12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
Disiplin, koreksi, teguran keras, dan hajaran merupakan unsur yang sangat penting dalam pembentukan karakter baik di rumah sebagai anak maupun di rumah Tuhan sebagai anak Tuhan. Ada begitu banyak manfaat atau keuntungan yang diperoleh jika disiplin , koreksi, teguran dan hajaran diterapkan diantaranya:
a. kita terhindar dari hal-hal seharusnya tidak perlu terjadi atau kita alami seperti kecelakaan di jalan raya, musibah di tempat pekerjaan, pendidikkan yang gagal; prestasi yang mentok; karakter yang buruk atau kebiasaan buruk; rumah tangga yang tidak harmonis; kemiskinan dsb. Yos 18:3; Amsal 6:9-11; 18:9; 24:30-34.
b. kita terhindar kegagalan yang mendatangkan kerugian, kegagalan produktivitas, pencapaian target, waktu, financial dll;
c. kita akan mendapatkan prestasi yang terbaik, keuntungan bertambah, sistem menjadi berfungsi, pengkaderan berjalan, ekosistem berjalan dengan baik.
d. tujuan-tujuan menjadi tercapai
e. menjadi maksimal, terjadi peningkatan karena adanya efisiensi dan efektifitas yang baik.
f. terjadi perubahan hidup yang lebih baik, kebiasaan buruk diminimalisir atau berkurang atau dihilangkan.
Jika disiplin, koreksi, teguran dan hajaran yang baik diterapkan di rumah kepada anak-anak, maka anak-anak akan memiliki pola hidup yang teratur, memiliki kepekaan, kepedulian, ketenangan, percaya diri yang baik dan mandiri, perkembangan otak yang baik dan sikap patuh sejak dini. Anak-anak mempunyai modal yang baik untuk masa depan mereka.
Amsal 13:24 Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.
Amsal 22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.
Di tahun 2023 yang kita akan jalani ini, saya yakin tidak ada seorang jemaatpun yang menginginkan kemunduran, kerugian bahkan kehancuran, kegagalan, saya percaya semua malah menginginkan yang sebaliknya yaitu ingin mengalami kebaikan Tuhan yang lebih besar; ingin mengalami pemeliharaan Tuhan yang semakin berlimpah; ingin mengalami keuangan yang lebih sehat; ingin mengalami kebahagiaan dalam keluarga yang semakin bahagia dan harmonis; ingin mengalami perubahan hidup yang lebih baik; ingin lepas dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang merugikan. Dan yang sangat penting ingatlah ini, bahwa Allah sangat mengasihi kita, jika di tahun ini kita mengalami didikan, disiplin, teguran keras, koreksi dan hajaran dari Dia, ingatlah baik-baik Dia sedang melatih kita supaya kita diperkaya oleh Dia untuk menerima kebenaran-Nya, damai-Nya, kodrat-Nya dan berkat-Nya.
ENRICHED:
LISTEN, BELIEVE, OBEY IN DISCIPLINES AND CORRECTIONS
(El-Shaddai Articles).

Komentar
Posting Komentar