PENGIKUT KRISTUS BERHATI MURID
Minggu, 23 Oktober 2022
PENGIKUT KRISTUS BERHATI MURID
"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan." (Matius 11:29)
Ayat bacaan kita di atas dalam terjemahan versi AMP dikatakan: "Take My yoke upon you and learn from Me [following Me as My disciple], for I am gentle and humble in heart, and you will find rest (renewal, blessed quiet) for your souls." Yang menarik dalam terjemahan versi Amplified Bible ini adalah adanya penambahan catatan dalam kurung: following Me as My disciple; yang artinya ikutlah Aku sebagai murid-Ku. Jelaslah bahwa target Tuhan Yesus bagi kita adalah bukan sekedar menjadi orang kristen, bukan sekedar menjadi orang beriman yang percaya kepada Dia dan mengikuti Dia, melainkan mengikuti Tuhan Yesus sebagai saksi yang memiliki hati seorang murid Kristus. Jika kita merupakan seorang pengikut dan menjadi saksi yang memiliki hati seorang murid Kristus, tentunya kita bersedia melakukan dan memiliki 3 (tiga) hal mendasar berikut:
1. Hati Yang Mau Belajar
Hati yang mau belajar berarti memiliki semangat untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu, memiliki kerinduan untuk bertumbuh baik secara rohani maupun dalam pengenalan akan Kristus. Mereka yang memiliki hati yang mau belajar pasti memiliki gairah untuk menggali kebenaran Firman Tuhan, belajar tentang asas-asas pokok iman kristen, bahkan lebih dari itu merindukan makanan rohani yang keras agar mendapatkan nutrisi rohani yang cukup untuk bertumbuh seperti halnya yang dilakukan jemaat mula-mula yang bertekun dengan sehati dalam pengajaran rasul-rasul (Kis 2:42).
Ada sebuah ungkapan bijak mengatakan:
“People stop growing when they stop learning”. Artinya, seseorang akan berhenti bertumbuh ketika mereka berhenti belajar. Nah, sama halnya dengan kerohanian. Kita akan berhenti bertumbuh secara rohani ketika kita berhenti untuk belajar kebenaran Firman Tuhan. Jadi, supaya kita terus mengalami kemajuan dan peningkatan secara rohani, kita harus kobarkan semangat untuk terus belajar kebenaran Allah sebagai seorang murid Kristus.
2. Hati Yang Mau Diajar
Jika ada hati yang mau diajar berarti mereka memiliki semangat untuk belajar, sehingga hati yang mau diajar dapat disejajarkan dengan memiliki kerendahan hati untuk mau menerima pengajaran, menerima didikan dan proses pembentukan. Sebagai orang-orang pengikut Kristus dan saksi yang memiliki hati seorang murid, kita bukanlah seorang pembelajar otodidak yang belajar sendiri tanpa arahan atau didikan orang lain. Dalam teks 1 Korintus 11:1, Rasul Paulus dalam pimpinan Roh Kudus menuliskan: “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.”
Kita sebagai pengikut yang menjadi saksi dan murid Kristus tidak terjadi dengan sendirinya, tapi dengan belajar dan mengikuti teladan para pendahulu kita, yaitu bapa-bapa rohani kita yang telah lebih dahulu mengikut Yesus. Jadi sebenarnya tidak ada istilah, “saya tidak belajar dari orang lain, saya belajar langsung dari Tuhan Yesus.” Sebenarnya, pernyataan seperti itu tanpa disadari mengindikasikan sikap sombong yang tidak memiliki penundukan diri terhadap mereka yang telah ditempatkan TUHAN di atasnya untuk menjadi pembimbing rohani, bapak atau pun ibu rohani yang telah diberikan otoritas oleh Tuhan untuk mendidik dalam kebenaran supaya seseorang bertumbuh secara rohani.
Sebagai pengikut yang menjadi saksi Kristus yang berhati seorang murid, harus memiliki hati yang mau diajar dan membutuhkan kerendahan hati untuk menyingkirkan segala ego dan harga diri yang berlebihan, supaya hal-hal tersebut tidak menghambat pertumbuhan iman dan kedewasaan rohani kita di dalam Tuhan. Kebanyakan kegagalan pertumbuhan yang dialami para pengikut Kristus adalah karena mereka tidak memiliki dan tidak bersedia untuk diajar. Mereka merasa sudah cukup memahami tentang proses pertumbuhan dan pengenalan akan Allah. Akibatnya mereka stagnan dan tidak pernah bisa menjadi saksi yang hidup bagi Kristus.
3. Memiliki Disiplin Hidup Sebagai Seorang Pengikut dan Saksi Yang Memiliki Hati Murid.
Murid memiliki korelasi yang sangat erat dengan disiplin. Apalah artinya seorang murid (disciple) tanpa disiplin (discipline). Disiplin seharusnya menjadi karakteristik yang khas dari seorang saksi yang memiliki hati murid! Disiplin rohani yang mendasar yang harus dilatih seorang pengikut yang berhati murid adalah disiplin membangun hubungan intim dengan Tuhan. Oleh ilham Roh Kudus nabi Yesaya berkata, "Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang." (Yesaya 50:4-5)
Ini adalah teladan yang sangat bagus yang diberikan Tuhan Yesus kepada kita, yakni bagaimana Dia harus menyediakan waktu yang khusus dan berkualitas untuk membangun hubungan dengan Bapa-Nya. Demikian pun seharusnya cara kita membangun keintiman dengan-Nya. Kita harus belajar menyediakan waktu khusus membangun keintiman dengan Yesus, belajar berdialog dengan-Nya dan belajar mendengarkan setiap perkataan-Nya melalui firman dan Roh Kudus yang dimateraikan di dalam hati kita. Haleluya!
Jika kita memperhatikan apa yang dikatakan kitab Markus, "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." (Markus 1:35). Kita melihat bahwa Yesus benar-benar menyediakan waktu dan mempersiapkan diri untuk bersekutu dengan Bapa di Sorga.
Oleh sebab itu, jika kita adalah seorang pengikut Yesus dan saksi yang berhati murid (Matius 11:29), berarti kita harus mengikuti teladan-Nya. Mari kita berkomitmen mengawalinya dengan membangun disiplin yang sungguh-sungguh untuk bersaat teduh dengan Dia setiap pagi, supaya kita dapat menangkap isi hati dan perasaan-Nya yang akan menggerakkan kita bersaksi sesuai dengan keinginan dan tuntunan Roh-Nya. Amen!

Komentar
Posting Komentar