HIDUP DAN BERJALAN DI DALAM KEHENDAK ALLAH


Minggu, 23 Oktober 2022
HIDUP DAN BERJALAN DI DALAM KEHENDAK ALLAH
1 Tesalonika 2:10-12
Ps. Sondang Simamora, M.Th
“Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.” (1 Tesalonika 2:10-12)
Pada waktu Paulus mengirim surat 1 Tesalonika kepada jemaat Tesalonika, usia jemaat tersebut masih sangat muda, kira-kira 3 sampai 6 bulan. Paulus meninggalkan Tesalonika karena tekanan yang datang dari berbagai pihak terutama dari saudara-saudara Yahudi di sana. Bukan hanya Paulus, tapi jemaat di Tesalonika juga sedang mengalami tekanan oleh karena iman mereka kepada Yesus.
Kepada jemaat yang imannya tergolong sangat mudah dan mengalami tekanan tersebut, Paulus berpesan supaya mereka tetap hidup sesuai dengan kehendak Allah. Sebab jika tidak demikian ada kemungkinan mereka akan berbalik kepada kehidupan yang lama.
Sebenarnya pesan ini tidak hanya berlaku buat jemaat di Tesalonika saat itu, untuk jemaat masa kini pesan ini tetap bahkan sangat relevan. Mencermati perkembangan situasi dan tantangan yang dihadapi gereja masa sekarang ini, maka orang percaya (gereja) harus terus diingatkan atau paling tidak mengingatkan diri masing-masing supaya tetap hidup dan berjalan sesuai kehendak Allah. Jika tidak, ada kemungkinan terbawa arus gelombang dunia yang semakin sekularis. Untuk itu gereja harus memiliki komitmen kuat untuk hidup dan berjalan dalam kehendak Allah.
BAGAIMANA CARANYA SUPAYA KITA BISA HIDUP DAN BERJALAN DALAM KEHENDAK ALLAH?
1. LEBIH FOKUS TERHADAP KESENANGAN TUHAN DARI PADA MEMUASKAN HASRAT DIRI SENDIRI.
“Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat. Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita. Karena kami tidak pernah bermulut manis hal itu kamu ketahui dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi Allah adalah saksi juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.” (1 Tesalonika. 2:2-6)
Pada ayat-ayat di atas Paulus memberikan kesaksian bahwa sebagai seorang percaya kepada Kristus, mereka selalu berkomitmen untuk melakukan perkenanan Tuhan untuk menyukakan hati Allah, bukan manusia.
Sebenarnya kesempatan untuk menyukakan hati manusia dan mencari pujian dari mereka sangat terbuka lebar, namun sekali lagi, Paulus tidak melakukan itu karena hatinya lebih fokus kepada Tuhan dan menyenangkan hati-Nya dari pada mencari dan memuaskan kesenangan dirinya sendiri.
Demikian seharusnya dengan kehidupan kita sebagai orang percaya kepada Kristus. Kita harus lebih fokus terhadap kesenangan Tuhan dari pada memuaskan keinginan-keinginan kita supaya kita tetap berjalan dalam kehendak Tuhan. Pada waktu kita lebih konsentrasi terhadap keinginan dan kesenangan kita, ada kemungkinan kita akan mengalami kekecewaan terhadap Tuhan dan tidak bisa mengucap syukur karena Tuhan tidak selalu memenuhi semua keinginan kita. Tapi apabila kita lebih fokus kepada Tuhan dan kesenangan-Nya, kita akan bisa mengucap syukur dalam segala hal karena kita terus berupaya mencari kehendak Tuhan dan menyenangkan hati-Nya. Artinya, sekalipun yang kita alami dan terima itu tidak sesuai espektasi kita, kita akan tetap bersyukur dan bersuka cita karena kita tau bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang berkenan di hati Tuhan dan menyenangkan hati-Nya.
2. MENGHAMBAKAN DIRI TERHADAP KEBENARAN ALLAH.
Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. (Roma 6:13)
Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? (Roma 6:16)
Dalam konteks ini rasul Paulus memberikan nasehat kepada setiap orang percaya supaya mereka menyerahkan diri kepada Allah sebagai senjata kebenaran. Nah, supaya kita bisa hidup berjalan dalam kehendak Allah, kita harus menghambakan diri terhadap kebenaran Allah. Artinya, secara sadar kita mengabdikan atau menaklukkan diri terhadap kebenaran Allah. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara menghambakan diri terhadap kebenaran Allah? Jawabannya, cintai kebenaran Allah melebihi segalanya. Hanya dengan mencintai kebenaran Allah melebihi segalanya kita bisa hidup dan berjalan dalam kehendak Allah.
Jika kita lebih mencintai keinginan dan kesenangan kita melebihi kebenaran, maka ada kemungkinan kita akan kompromi terhadap dosa. Jika kita lebih mencintai karier lebih dari kebenaran, ada kemungkinan kita tidak akan berintegritas. Jika kita mencintai keluarga lebih dari kebenaran, terbuka kemungkinan keluarga kita dikendalikan perasaan-perasaan. Jika kita lebih mencintai pelayanan dari kebenaran, maka kita akan menghalalkan segala cara untuk membangun dan mempertahankan kebenaran. Intinya, kita tidak akan pernah bisa berjalan dalam kehendak Allah jika kita tidak memprioritaskan kebenaran di atas segalanya. Ketika kita berkomitmen menjunjung tinggi kebenaran Allah dan berupaya untuk menyenangkan hati-Nya, saat itulah kita berjalan dan membangun kehidupan dalam kehendak Allah. Dan apabila kehidupan kita ada dalam kebenaran Allah, maka yakinlah berkat penyertaan dan pertolongan Tuhan akan selalu ada untuk kita yang percaya kepada-Nya. Haleluya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA HIDUP INI MENJADI KACAU? (Hakim-hakim 13-16)

BUKTI NYATA KITA MENGASIHI TUHAN YESUS