DASAR-DASAR KEBANGKITAN DAN KEMENANGAN (Part-2)
Minggu, 16 Januari 2022
B.
POLA PIKIR YANG BENAR
Sebelum kita sampai pada pola pikir yang benar, kita akan
melihat dan belajar beberapa sumber-sumber pemikiran yang dapat mempengaruhi
pikiran manusia.
SUMBER-SUMBER
PIKIRAN MANUSIA:
· KEBENARAN DIRI SENDIRI
Pemikiran ini dibangun dan
terbentuk melalui pengalaman dan trauma masa lalu. Misalnya, Sering berbuat
baik tapi sering ditipu orang. Lama-lama, akhirnya tidak mau berbuat baik lagi
karena takut ditipu. Di dalam pikiran mereka telah terbentuk asumsi bahwa semua
orang/ manusia sama, yaitu penipu. Orang-orang hidup hanya memanfaatkan
kebaikan sesamanya untuk mencapai dan menwujudkan tabiat jahat mereka. Biasanya
orang yang sering tertipu akan sangat introvert dan memiliki rasa curiga yang
tinggi terhadap sesama yang berinteraksi dengannya.
· STANDART MORAL YANG DIAJARKAN DUNIA
Pola pikir ini sering terbentuk
melalui media-media yang dianggap sebagai kebenaran. Bisa melalui iklan-iklan
yang sedang tren dipromosikan di berbagai stasiun televisi dan media cetak. Misalnya,
seseorang dikategorikan cantik menarik dan berharga apabila wanita tersebut
memiliki rambut panjang lurus, hidung mancung dan kulit putih, sehingga dampak
dari standart ini banyak wanita berlomba-lomba mengubah penampilan mereka dari
yang natural menjadi polesan semu. Rambut kriting diluruskan, kulit
kuning langsat dipaksa menjadi putih melalui berbagai bahan kosmetik pemutih,
hidung yang mancung ke dalam coba ditarik keluar melalui berbagai bedah hidung
hanya untuk mendapatkan sebuah pengakuan dari dunia. Sebenarnya hal ini tidak
hanya terjadi dan dialami kaum Hawa, kaum Adam banyak juga terjebak dalam hal
yang sama. Mereka rela menghabiskan uang yang banyak untuk memenuhi tuntutan
standart dunia. Mereka lupa firman Tuhan yang berkata bahwa siapapun mereka,
seperti apa pun keadaan mereka, dari latar belakang keluarga yang bagaimana pun
mereka, mereka berharga di hadapan Tuhan.
“Oleh karena engkau berharga di
mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia
sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.” (Yesaya 43:4)
Kita berharga di mata Tuhan bukan
karena polesan luar, tapi karena pengorbanan Kristus yang telah menebus kita
dari hidup penuh dosa dan sia-sia.
·
AJARAN NENEK
MOYANG YANG TIDAK SESUAI FIRMAN TUHAN NAMUN DIPERCAYA SEBAGAI KEBENARAN
Biasanya ajaran ini dijadikan
norma kehidupan yang diwariskan turun temurun dan dipercaya sebagai kebenaran.
Misalnya, supaya kamu diberkati, kamu harus berbakti kepada arwah nenek moyang
mu, dll.
Paulus dengan tegas menasehati
jemaaat di Kolose agar mereka tidak hidup lagi dengan cara hidup yang demikian.
Hati-hatilah, supaya jangan ada
yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran
turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. (Kolose 2:8)
Petrus berkata, cara hidup
seperti itu adalah hal sia-sia.
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah
ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu
bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan
dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba
yang tak bernoda dan tak bercacat. (1 Petrus 1:18-19)
Oleh sebab itu, supaya pola pikir
kita benar seperti yang Tuhan pikirkan, kita harus mengisinya dengan firman
Tuhan.
·
FIRMAN TUHAN
SEBAGAI SUMBER PEMIKIRAN
Bagaimana supaya pikiran kita dipenuhi firman Tuhan?
-
Belajar membaca dan merenungkan firman Tuhan
“Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah
dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.” (1
Timotius 4:13)
“Janganlah engkau lupa
memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya
engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya,
sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yosua
1:8)
-
Melatih pikiran memikirkan perkara di atas.
“Karena itu, kalau kamu
dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana
Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas,
bukan yang di bumi.” (Kolose 3:1-2)
Waktu kita
belajar secara disiplin mengisi pikiran dengan firman Tuhan, maka kita akan
mengalami perubahan pola pikir dan memiliki sensitifitas terhadap kehendak
Allah.
“Janganlah
kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan
budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik,
yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2)
Bangun
terus sikap yang mencintai dan menghargai firman Tuhan agar pola pikir kita
diubahkan menjadi seperti pola pikir Kristus dan kita mengalami
kemenangan-kemenangan. Haleluya!
Komentar
Posting Komentar