MENGHADIRKAN KEBAIKAN TUHAN (Part – 2)
Minggu, 25 Juli 2021
Dari dua minggu lalu kita membahas tema firman Tuhan tentang bagaimana
menghadirkan kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari melalui indera
mulut dan kata-kata. Kita telah melihat contoh bagaimana sebagian besar bangsa
Israel tidak bisa memasuki tanah perjanjian hanya karena persungutan yang
keluar dari mulut mereka. Berikut ini kita akan kembali melihat bagaimana kita
harus berkata-kata dari perspektif Perjanjian Baru:
1. PERINTAH
TUHAN DALAM HAL BERKATA-KATA
Apa
yang Alkitab nyatakan bagi orang Kristen tentang berkata-kata ?
a)
Dilarang
untuk bersungut-sungut atau menggerutu.
"Jawab
Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut." (Yohanes 6:43)
"Dan
janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari
mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut." (1 Korintusyuio 10:10)
"Lakukanlah
segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan," (Filipi 2:14)
"Berilah
tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut- sungut." (1 Petrus 4:9).
Kita yakin bahwa larangan untuk bersungut-sungut pasti
ada hubungannya dengan konsekuensi-konsekuensi yang dialami bangsa Israel di
Perjanjian Lama karena persungutan. Tuhan tidak menginginkan umat yang telah
ditebus oleh darah-Nya mengalami kegagalan hanya karena bersungut-sungut.
Sebaliknya, Dia rindu melihat setiap kita mengalami kebaikan-Nya secara maksimal.
b)
Mengucapkan
syukur dalam segala keadaan.
"Mengucap
syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam
Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18)
"Demikian
juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono--karena hal-hal ini
tidak pantas--tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur." (Efesus 5:4)
"Ucaplah syukur senantiasa atas segala
sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita" (Efesus 5:20).
Ucapan syukur adalah ekspresi terimakasih kita kepada Tuhan
atas pemeliharaan-Nya. Jadi berterimakasihlah setiap saat kepada Tuhan karena
Dia masih memberikan kita kesempatan hidup, dan ucapan terimaksih Anda itu
berkenan di hadapan-Nya.
c)
Muliakan
Tuhan dengan perkataan
"Sebab
itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada
Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya." (Ibrani 13:15)
d)
Menjadi
berkat bagi orang lain
"Karena
itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita
adalah sesama anggota." (Efesus 4:25)
"Janganlah
ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik
untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih
karunia." (Efesus 4:29)
"Dengan
lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang
diciptakan menurut rupa Allah," (Yakobus 3:9)
"dari
mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak
boleh demikian terjadi." (Yakobus 3:10)
2. PERKATAAN DAN PENGHAKIMAN
Salah
satu yang akan dipertanggungjawabkan setiap orang di hadapan Tuhan adalah
perkataannya. Hal ini ditegaskan oleh Tuhan Yesus Kristus ketika Dia berbicara di hadapan orang
Farisi, Yesus mengajarkan tentang perkataan yang diucapkan manusia akan diminta
pertanggungjawabannya di hadapan Allah:
Matius 12:36 Tetapi Aku berkata
kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus
dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.
Matius 12:37 Karena menurut ucapanmu
engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."
Selain itu, oleh ilham Roh Kudus rasul Yakobus
menuliskan:
"Saudara-saudara,
janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan
dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu." (Yakobus 5:9)
Dari
beberapa ayat Alkitab di atas dapat kita simak bahwa berkata-kata bukanlah
hanya sebuah bunyi suatu suara, lebih dari pada itu perkataan yang diucapkan
seseorang berkuasa untuk menentukan seluruh kehidupannya. Hal ini mencakup seluruh aspek
hidupnya seperti usahanya, kesehatannya, keuangannya, persahabatannya,
keluarganya, kerohaniannya, dan bahkan
masa depannya. Karena perkataannya seseorang akan
diminta pertanggungan jawab di hadapan Allah, sebab karena perkataan, seseorang akan dibenarkan atau
dihukum oleh Allah. Itu sebabnya sangat penting bagi kita memahami makna dan
dampak dari sebuah perkataan. Jangan biarkan hidup kita terhakimi dan
janji-janji Allah tertunda kita alami hanya karena perkataan kita yang tidak bisa
dikontrol. Pergunakanlah mulut dan perkataan kita memuliakan Allah dan
menghadirkan kebaikan-kebaikan Allah dalam hidup kita sehari-hari. Amen!

Komentar
Posting Komentar