MENGHADIRKAN KEBAIKAN TUHAN (Part – 1)
Minggu, 11 Juli 2021
Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang baik, rahmat-Nya
berlimpah dalam memelihara
dan memberkati kita sampai sekarang ini. Di bulan lalu sampai Minggu lalu kita belajar tentang hidup mengasihi
dan mengutamakan Tuhan. Minggu ini dan beberapa minggu ke depan kita akan
belajar sebuah tema, “Menghadirkan Kebaikan Tuhan” dalam kehidupan sehari-hari.
Tema ini sangat berkaitan langsung dengan tema besar kita di tahun ini, yaitu
“Tahun Rahmat dan Kebaikan Tuhan”. Dalam hal ini, indera mulut dan perkataan
kita memegang peranan penting untuk menghadirkan hal-hal baik maupun buruk
dalam hidup kita.
Rasul Paulus
menuliskan peringatan bagi kita dari sejarah perjalanan bangsa Israel dalam
kitab 1 Korintus 10:10. Peringatan
itu berhubungan dengan sikap hati dan bagaimana seharusnya cara berbicara kepada Tuhan dan apa dampaknya
pada saat mereka tidak berhati-hati dalam hal berkata-kata. Berikut kita akan belajar tentang kuasa perkataan yang
sanggup mendatangkan hal baik dan buruk.
A.
Perkataan Yang Mendatangkan Kerugian
Besar.
Dalam
kitab Amsal 18: 21, dituliskan tentang besarnya pengaruh dan dampak serta sebuah
perkataan yaitu "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka
menggemakannya, akan memakan buahnya."
"Lidah
mempunyai kuasa untuk menyelamatkan hidup atau merusaknya; orang harus
menanggung akibat ucapannya." (Amsal 18:21 BIS).
“Orang
yang banyak bicara harus menanggung akibatnya. Ada orang yang mati karena salah
bicara.” (Amsal 18:21
FAYH). Ayat ini memberikan penegasan yang sangat kuat bahwa kata-kata
dapat menentukan kondisi hidup atau matinya seseorang. Dari ayat ini kita diperingatkan
bahwa kata-kata yang kita ucapkan akan kembali kepada kita.
Perkataan
seseorang membuat orang itu menanggung akibatnya, bahkan orang menjadi mati
karena salah dalam perkataannya.
Dalam
sejarah perjalanan bangsa Israel di padang gurun dari Mesir menuju Tanah
Perjanjian, kita menjumpai salah satu faktor penyebab sebagian besar angkatan
pertama tidak dapat menyelesaikan perjalanannya sampai di Tanah Perjanjian
adalah karena perkataan, yaitu
“Sungut-sungut”.
Dalam bahasa Ibrani kata “bersungut-sungut” ditulis dengan kata “Lun atau Lyin dan Ragan, diartikan
dengan kata stop atau berhenti, atau tetap tinggal secara permanen”. Secara negatif diartikan sebagai
komplain atau tidak puas, sedangkan kata ragan diartikan sebagai menggerutu
atau memberontak.
Dalam
Perjanjian baru, kata tersebut ditulis dengan kata
gogguzō (gong-gudzo - Yunani) artinya mengeluh atau menggerutu
atau bersungut- sungut, digambarkan seperti bunyi suara burung merpati yang
terus menerus dengan suara yang pelan.
Dalam
KBBI kata bersungut-sungut diartikan comel atau gerutu. Kata gerutu artinya
perkataan yang diucapkan dengan cara bergumam terus-menerus karena rasa
mendongkol atau tidak puas dengan keadaan atau peristiwa yang dialaminya.
Berikut sebagian contoh yang dicatat Alkitab
tentang bersungut-sungut dan akibatnya:
· Air minum di Mara, Tuhan mendengarkan sungut-sungut
mereka, Tuhan mengubah air pahit menjadi manis dan memperkenalkan diri-Nya sebagai Penyembuh (Kel
15:22-27).
· Nafsu
Rakus
yaitu Keinginan Makan Daging,
mereka teringat makanan di Mesir, mereka menangis minta daging dan akibatnya
Tuhan murka dengan sangat (Bil
11:4-10).
· Pemimpin, Musa sebagai pemimpin yang
dipilih Tuhan untuk memimpin mereka keluar dari perbudakan Mesir juga menerima perkataan- perkataan yang tajam dari sungut-sungut mereka. (Bilangan 14:1-4, 9-12).
· Memfitnah Musa dan Harun,
setelah peristiwa Korah, Datan dan Abiram, esok harinya bangsa Israel
bersungut-sungut lagi, kali ini mereka tujukan kepada Musa dan Harun dengan
tuduhan bahwa Musa dan Harun telah membunuh umat Tuhan dan akibatnya tulah
datang atas mereka dan banyak yang mati terkena tulah tersebut. (Bilangan 16:41-50).
Dari
beberapa kisah
di atas, kita dapat
menarik pelajaran yang berharga yaitu, bangsa Israel pada awalnya ketika
mereka bersungut-sungut masih ditoleransi, sehingga Tuhan bersedia mendengar
dan memenuhi apa yang mereka minta, tapi dengan berjalannya waktu sungut-sungut
mereka sudah menjadi hal yang tidak mengenakan di mata Tuhan, Tuhan menyatakan bahwa sungut-sungut menjadi sebuah tidakan mencobai Tuhan, penistaan terhadap
Tuhan, bentuk ketidak percayaan, sakit hati dan pemberontakan sehingga Tuhan menghukum mereka dengan tulah, yaitu di kubur hidup-hidup, disambar api
Tuhan dan tidak diijinkan masuk ke Tanah Perjanjian.
B.
Perktaan Yang Mendatangkan
Keuntungan Besar
Kisah
perjalanan bangsa Israel di padang gurun adalah sebuah sekolah atau pembelajaran
yang sangat berharga. Dari kisah-kisah yang memilukan, Alkitab juga menuliskan
kisah-kisah yang sebaliknya, walaupun hanya beberapa orang yang dicatat, namun
bagi kita menjadi pelajaran yang sangat bernilai.
Dalam kitab Bilangan 13-16, di antara para
kepala suku Israel ada dua orang yang menerima keuntungan besar karena sikap dan perkataannya yaitu Kaleb bin
Yefune dan Yosua bin Nun. Mereka berdua adalah anggota tim survei tanah Kanaan.
Kedua orang ini menyimpulkan hasil survei yang berbeda dari pada ke 10 pengintai yang lainnya yang membuat mereka dibawa masuk ke tanah perjanjian.
Dampak
dari bersungut-sungut sangat merugikan dan menghancurkan semua potensi dalam
mencapai tujuan ilahi, sebaliknya dampak dari berkata-kata yang benar sangat
menguntungkan dan mendorong semua potensi menjadi maksimal dalam mencapai
tujuan ilahi. Ingatlah selalu, perkataan kita akan mampu
menghadirkan kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Amen!

Komentar
Posting Komentar