HIDUP MENGASIHI DAN MENGUTAMAKAN TUHAN (Part – 3)
Minggu, 04 Juli 2021
HUBUNGAN PENGORBANAN KRISTUS DENGAN PERSEMBAHAN ORANG KRISTEN.
PENGORBANAN KRISTUS ADALAH KURBAN PERSEMBAHAN TERTINGGI
DAN SEMPURNA.
Dalam kitab
Ibrani secara spesifik dijelaskan tentang semua bentuk ibadah yang dilakukan bangsa Israel yang sesuai aturan hukum Taurat adalah hanya bayangan
atau gambaran yang samar-samar dari keselamatan yang akan datang (bnd. Ibrani 10:1-4).
"Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari
keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Ibr 10:1a
“Hukum agama Yahudi
hanya memberikan gambaran
yang samar-samar tentang
hal-hal yang baik yang akan datang, dan bukan gambaran yang sebenarnya dari
hal-hal itu.” (Ibrani 10:1a
BIS). Artinya, semua seremonial ibadah yang ada di Kemah Suci dan Bait Allah
adalah sebuah bayangan atau gambaran saja sebagai
seperti contoh yang Tuhan tunjukkan kepada
Musa di gunung Sinai. Itulah sebabnya mereka harus mempersembahkan
kurban persembahan pendamaian berulang-ulang setiap kali mereka melakukan
kesalahan dan dosa.
Karena itu dengan korban yang sama, yang
setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum
Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di
dalamnya." (Ibr 10:1b)
Tidak mungkin hukum itu dapat menyempurnakan
orang yang datang menyembah Allah dengan membawa persembahan, walaupun tiap
tahun terus dipersembahkan kurban-kurban yang sama. (Ibr 10:1b BIS).
"Tetapi justru oleh korban-korban itu
setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa." (Ibrani 10:3)
“sebab memang darah sapi dan darah kambing
jantan tidak dapat menghapuskan dosa.” (Ibrani 10:4 BIS).
Sangat jelas bahwa
darah binatang tidak mungkin dapat menghapus dosa, maka dibutuhkan darah khusus
yang dapat menghapus dosa sekali untuk selamanya. Perjanjian Baru menjelaskan dengan
terang benderang bahwa semua yang terkait dengan ibadah dan persembahan dalam
Kemah Suci mengarah kepada Pribadi Yesus dan Pengorbanan-Nya.
Yesus Kristus
telah mati di kayu salib dan mencurahkan darah-Nya supaya melalui darah-Nya, dosa dihapuskan sekali untuk
selamanya, kita disucikan sekali untuk selamanya dan kita disempurnakan untuk
selamanya.
"Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk
selama- lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus." Ibr 10:10
"Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia
duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah," Ibr 10:12
"Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya
mereka yang Ia kuduskan." (Ibrani 10:14)
PERTAMA: PERSEMBAHAN ORANG KRISTEN SEBAGAI BUKTI KASIHNYA KEPADA
TUHAN
Persembahan
orang Kristen bukan lagi sarana untuk menghapus dosa dan pemulihan hubungan,
tapi sebagai bukti mengasihi Tuhan. Seperti bangsa Israel membawa
persembahan-persembahan kepada Tuhan di Kemah Suci untuk membangun hubungan dengan
Tuhan sebagai bentuk kasih dan penghormatan kepada Tuhan, maka orang Kristen sebagai jemaat
Kristus diwajibkan membawa persembahan-persembahan kepada Tuhan untuk memelihara hubungan
dan sebagai bentuk kasih dan penghormatan kepada Dia. Firman Tuhan
berkata, di mana hartamu berada di situ hatimu berada. Bukan karena
Yesus sudah mencurahkan darah-Nya, kemudian kita
tidak perlu lagi membawa persembahan-persembahan kepada Tuhan.
Kita mesti
belajar dari bangsa Israel dalam PL, sebagai bangsa pilihan dan
umat kepunyaan Tuhan sendiri, mereka
menyadari bahwa semua yang ada pada mereka dalam seluruh hidup mereka adalah
milik Tuhan. Daud berkata bahwa segalanya berasal daripada
Tuhan, dan kitab-kitab PL berulang-ulang menegaskan bahwa langit
dan bumi adalah kepunyaan Tuhan.
Dengan
mengetahui dan mengakui dengan rendah hati bahwa segala sesuatu adalah milik Tuhan,
akan menolong kita memahami bahwa Tuhan hanya mempercayakan kepada umat-Nya apa yang Dia punya untuk dikelola dengan rendah hati (Ul.
8:7-20), dan jika Tuhan memerintahkan umat-Nya membawa sebagian kecil dari
milik-Nya itu sebagai persembahan, maksudnya agar umat-Nya memuliakan Dia melalui
persembahan tersebut (Amsal 3:9). Salah satu tujuan tulah di Mesir adalah untuk membuktikan kepada
Firaun bahwa bumi adalah milik Tuhan (Kel. 9:29), dan gereja sebagai umat kepunyaan Allah sendiri, juga dipanggil untuk memuliakan Dia melalui pemberian persembahan-persembahan kepada-Nya.
KEDUA: PERSEMBAHAN ORANG KRISTEN SEBAGAI UJIAN IMAN DAN KETAATAN KEPADA TUHAN.
“Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.
Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain,
atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu
tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Lukas. 16:13)
Dalam kitab-kitab Perjanjian Baru ada banyak ayat yang mencatat tentang persembahan kepada Tuhan,
baik dalam kitab Injil, surat-surat Rasuli dan kitab Ibrani. Perjanjian Baru memerintahkan kita untuk membawa
kurban-kurban persembahan seperti; persembahan untuk menolong
saudara seiman dan sesama (Ibr 13:16), persepuluhan (Matius 23:23), persembahan bagi pemberitaan
Firman Tuhan atau Injil (Gal 6:6-7; Fil 4:14-20). Selain itu, kita juga diperintahkan mempersembahkan tubuh
sebagai persembahan yang hidup (Roma
12:1), pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan (Ibr 13:15).
Persembahan-persembahan
kita kepada Tuhan adalah sebagai bentuk/bukti kasih, penghormatan,
iman dan ketaatan kita kepada-Nya. Semua harus dilakukan dalam bingkai mengasihi dan mengutamakan Tuhan lebih dari
yang lain. Kiranya hati kita selalu mengasihi Tuhan dan taat terhadap setiap
perintah-Nya. Amen!

Komentar
Posting Komentar