HIDUP MENGASIHI DAN MENGUTAMAKAN TUHAN (Part – 2)
Minggu, 27 Juni 2021
MEMBAWA PERSEMBAHAN KEPADA TUHAN ADALAH PERINTAH SEBAGAI BUKTI MENGASIHI DIA
PERTAMA: PERSEMBAHAN UNTUK KEMAH SUCI
Bangsa
Israel telah menerima perintah yang pertama dan terutama yaitu mengasihi Tuhan.
Melalui perjumpaan Musa dengan Tuhan di
gunung Sinai, Tuhan menyatakan keinginan-Nya yaitu diam di tengah-tengah
umat-Nya. Untuk mewujudkan keinginan tersebut maka Tuhan menyuruh membuat sebuah tempat kediaman yang
disebut Kemah Suci atau Kemah Pertemuan
(Kel. 25:8-9, 22). Kemah yang akan dibangun bukan sembarang kemah,
Kemah Suci itu harus dibuat sesuai dengan contoh
yang Tuhan berikan kepada Musa di gunung
Sinai. Agar Kemah Suci dapat dibuat,
maka Tuhan memerintahkan supaya dipungut persembahan khusus dari bangsa Israel,
dan Tuhan sendiri
yang menggerakkan hati umat-Nya
untuk memberi bagi pembuatan Kemah Suci tersebut (Kel. 25:2;
35:4-5, 21-22).
"Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut
bagi-Ku persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah
kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu." (Keluaran 25:2)
Repon umat terhadap keinginan dan perintah Tuhan itu
sangat tinggi sehingga mereka membawa persembahan khusus
dengan berlimpah bahkan sampai dihentikan oleh Musa karena
sudah terlalu banyak
(Kel. 36:5-6).
"Lalu Musa memerintahkan, supaya dimaklumkan di mana-mana di
perkemahan itu, demikian: "Tidak usah lagi ada orang laki-laki
atau perempuan yang membuat
sesuatu menjadi persembahan khusus bagi tempat
kudus." Demikianlah rakyat itu
dicegah membawa persembahan lagi." (Kel. 36:6)
Kemah Suci
yang dibangun itu sangat luar
biasa, sangat indah dan sangat mahal karena
menggunakan material mas, perak dan permata
yang sangat banyak
serta material lainnya
dengan kualitas terbaik. Kemah itu dibangun oleh umat Tuhan di padang
gurun, bukan ketika
mereka telah menduduki tanah Kanaan yang limpah susu dan madunya. Dari
mana sumber kekayaan yang sangat banyak ini, sehingga mereka dapat
membawa persembahan khusus? Jawabannya, karena Tuhan menggerakkan hati bangsa Mesir untuk bermurah hati kepada bangsa Israel
pada saat mereka dibebaskan (bnd. Kel. 3:21; 11:3; 12:35-36). Artinya, pada
saat Tuhan mengaruniakan harta benda dan kekayaan bagi bangsa Israel, Tuhan
memiliki tujuan ilahi yaitu membangun tempat
kediaman-Nya.
Tempat
kediaman Tuhan yang unik dan sentral dalam
Perjanjian Lama mengalami perkembangan yang terus bertambah. Di Padang Gurun,
Kemah Suci yang pertama dibuat,
setelah bangsa Israel
memasuki tanah Kanaan mereka menempatkan Kemah Suci di Silo, dan pada jaman pemerintahan Daud, ia membuat sebuah kemah untuk tabut perjanjian
Tuhan di Yerusalem. Pada saat itu ibadah
kepada Tuhan menjadi dua tempat yaitu di Silo dan di Yerusalem. Tata ibadah dalam Kemah Daud diatur dengan memebawa korban-korban
binatang dan ditambah dengan nyanyian pujian bagi Allah Israel. Puncaknya terjadi
pada jaman pemerintahan raja Salomo, bait Suci dibuat
permanen dan tata ibadahnya dipadukan
dari tata ibadah
sesuai ajaran Musa dan Daud.
Tujuan
Tuhan membangun Kemah Suci adalah pertama, kerinduan Tuhan untuk diam bersama-sama
dengan umat-Nya (Kel.25:8-9); kedua, sebagai tempat kediaman Tuhan sebagai Tuhan dan Raja mereka (tempat yang suci); ketiga, sebagai
tempat di mana Tuhan berbicara kepada Musa, yang kemudian akan disampaikan kepada umat-Nya (Kel 25:22); keempat, menjadi sumber berkat bagi umat-Nya (Imamat 9:23);
kelima,
menjadi perwujudan kehadiran atau
penyertaan-Nya yang dapat dilihat (Kel.
33:9-10; Ul.31:15).
“Kepindahan”
Tuhan ke bumi dan diam di dalam Kemah Suci dapat dilihat dalam bentuk awan yang
menutupi atau memenuhi Kemah Suci (Kel.40:34).
KEDUA: PERSEMBAHAN UNTUK TUHAN SENDIRI
Tuhan yang
menuntun bangsa Israel dengan tiang awan dan tiang api, setelah peristiwa
gunung Sinai, sekarang memiliki tempat kediaman-Nya yaitu Kemah Suci. Dengan
adanya Kemah Suci di tengah-tengah umat-Nya, Tuhan mulai memerintahkan agar Israel membawa
persembahan-persembahan mereka ke Kemah Suci sebagai esensi dalam hal mendekati
Allah dan menghadap kepada-Nya
(Imamat 1:1-3).
"Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus
menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada
hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya
Pondok Daun. Janganlah ia menghadap
hadirat TUHAN dengan tangan hampa," (Ul.
16:16)
Setiap kali
umat Israel datang kepada Tuhan melalui para imam di Kemah Suci, mereka diwajibkan
membawa persembahan melalui para imam, dan persembahan yang dibawa itu mewakili orang yang membawanya sebagai bukti kebenaran
alasan untuk apa dia berbuat itu dan membawa persembahan kepada Tuhan. (Persembahan itu harus menunjukkan
pengakuan orang itu akan keadaannya. Alasan mereka membawa persembahan kepada
Tuhan bisa beragam dapat saja karena telah berbuat salah atau karena hasil
panen pertanian yang berhasil atau usaha yang berhasil dsb).
Membawa persembahan kepada Tuhan adalah identik dengan kasih dan penghormatan kepada Tuhan. Pengakuan bahwa Dia adalah
Tuhan yang diam di tengah tengah mereka harus diekspresikan dengan cara mempersembahkan korban
sebagai penghormatan kepada-Nya karena mereka menyadari bahwa
semua yang ada berasal dari Tuhan dan milik Tuhan (Kitab Imamat secara
khusus membicarakan tentang tata cara membawa persembahan kepada Tuhan).
Raja Daud
mengakui lewat nyanyiannya pada
waktu umat Tuhan membawa persembahan untuk
pembangunan bait suci, bahwa
segala sesuatu yang ada padanya adalah berasal dari Tuhan (1 Tawarikh 29:9-18). Namun
demikian, Tuhan juga tetap melihat hati dan motivasi pada saat memberi
persembahan. Teguran yang keras tentang persembahan yang tidak berkenan kepada
Tuhan (karena cacat dan karena mereka telah
menyembah berhala) tetap disampaikan oleh para nabi dalam
Perjanjian Lama karena mereka tidak lagi mengasihi dan menghormati Tuhan (Yer 6:20; Yes 1;11-15;
Malekhi 1:6-14). Bagaimana dengan kita?

Komentar
Posting Komentar