MEMAHAMI KEBAIKAN TUHAN Part-5
Minggu, 31 Januari 2021
Orang-orang yang memahami dan mengerti kebaikan Tuhan, mereka akan:
KELIMA: SELALU BERHARAP KEPADA TUHAN
Pernyataan umum yang sering kita dengar dari
orang-orang di sekeliling kita, “menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan”.
Tidak sedikit orang gagal menuntaskan rencana dan mimpi-mimipi mereka karena
tersandung dengan hal “menunggu”. Mereka stres dan prustrasi di tengah-tengah
keberhasilan yang menanti dan tidak melanjutkan petualangan menggapai
cita-citanya. Mereka berhenti dan akhirnya mengambil langkah mundur. Namun
Abraham tidak demikian. Sekalipun dari sisi usia fisik ia telah tua, namun
pengharapannya kepada Tuhan tidak memudar. Berikut kesaksian firman Tuhan
mengenai keteguhan hati Abraham.
“Sebab sekalipun tidak ada
dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan
menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyak
nanti keturunanmu.”
Imannya tidak menjadi lemah,
walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah
kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.
Tetapi terhadap janji Allah ia
tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia
memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk
melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan
kepadanya sebagai kebenaran.” (Roma 4:18-22).
Apa yang membuat Abraham kokoh dalam
pengharapannya? tentu kepercayaan dan keyakinannya kepada janji Tuhan. Abraham
mengenal Allah sebagai Allah yang baik yang tidak akan ingkar dengan
perjanjian-Nya. Bahkan saat Tuhan benar-benar menguji hati Abraham untuk mempersembahkan
anak perjanjiannya sebagai korban bakaran, Abraham mentaatinya.
“Keesokan harinya
pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil kedua
bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran
itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.”
(Kejadian 22:3)
Haleluya!
Sikap hati Abraham yang mempercayai Tuhan diperhitungkan sebagai kebenaran oleh
Allah, dan hal semacam itu tidak hanya diperhitungkan kepada Abraham, tetapi
juga kepada setiap orang di lintas generasi yang mempercayai Tuhan sama seperti
Abraham mempercayainya. (Bnd. Roma 4:22-25). Beberapa tahun kemudian, Ishak,
anak Abraham memperlihatkan kepercayaan dan ketaatan seperti yang diekspresikan
Abraham (bnd. Kejadian 26:12); “Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan
dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati
Tuhan.”
KEENAM: SELALU MENGANDALKAN TUHAN
Mengandalkan Tuhan berarti menjadikan Tuhan
sebagai satu-satunya sumber pengharapan, kekuatan dan kebahagiaan di dalam
hidup kita. Orang yang mengandalkan Tuhan biasanya akan meletakkan seluruh
hidupnya di dalam tangan Tuhan. Saat mereka menghadapi masalah atau persoalan
hidup, mereka akan datang kepada Tuhan meminta petunjuk tetang hal apa yang
harus mereka lakukan; jalan apa dan yang mana yang harus ditempuh. Orang yang
mengandalkan Tuhan akan bersabar menantikan petunjuk Tuhan, kemudian melakukan
seperti yang Tuhan perintahkan.
Ezra, adalah salah satu contoh di Alkitab yang
mengandalkan Tuhan.
“Kemudian di sana, di
tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan puasa supaya kami merendahkan diri di
hadapan Allah kami dan memohon kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi
anak-anak kami dan segala harta benda kami.” (Ezra 8:21)
Waktu
bangsa Israel mendapat ijin untuk pulang ke Yerusalem dari raja Artahsasta, Ezra
meminta perlindungan Tuhan agar mereka dilindungi dari penjahat-penjahat
sepanjang perjalanan. Sebelumnya Ezra telah berkata; “Tangan Allah kami melindungi
semua orang yang mencari Dia demi keselamatan mereka, tetapi kuasa murka-Nya
menimpa semua orang yang meninggalkan Dia” (ayat 22b)
Hal ini
dilakukan Ezra karena ia mengerti dan memahami firman Tuhan yang berkata: “Diberkatilah
orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia
17:7).
Contoh lain di dalam Alkitab yang mengandalkan
Tuhan ialah Ester, dan masih banyak contoh-contoh lainnya. Mereka semua
mengandalkan Tuhan karena mereka tahu bahwa Allah adalah Allah yang baik dan
merencanakan kebaikan dalam hidup mereka.
KETUJUH: SELALU BERSERAH KEPADA TUHAN
Orang yang memahami kebaikan Tuhan adalah orang
yang selalu berserah diri terhadap keputusan Tuhan. Dalam hal ini, Petrus juga
merupakan salah satu contoh yang berserah total
kepada Tuhan.
Menghadapi tantangan yang sedang dialaminya oleh
karena pemberitaan injil Kristus, Petrus berserah total kepada Tuhan. Eksekusi
yang diperhadapkan kepada Petrus bukanlah kurungan penjara tapi hukuman mati.
Keberadaannya di penjara hanya tempat persinggahan sementara menunggu hari raya
roti tidak beragi/paskah berlalu, setelah itu Petrus akan dieksekusi mati.
Menghadapi situasi genting tersebut, Petrus memperlihatkan iman dan penyerahan
total kepada Tuhan, di mana ia tertidur lelap di dalam penjara.
“Pada malam sebelum
Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua
orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit
pengawal sedang berkawal di muka pintu.” (1 Petrus 12:6)
Seberapa
banyak di antara Anda yang bisa tidur lelap saat-saat menghadapi hukuman mati?
Hanya orang-orang yang memiliki penyerahan total kepada Tuhan yang dapat
menikmati tidurnya di tengah-tengah persoalan hidup yang sedang melanda. Contoh
berikut yang memiliki penyerahan total kepada Tuhan ialah, Daniel, Sadrakh,
Mesak, dan Abednego. Bagaimana dengan Anda, mari belajar berserah total kepada
Tuhan sebab Dia tidak akan pernah membiarkan Anda binasa karena persoalan yang
sedang Anda hadapi. Amen!

Komentar
Posting Komentar