MEMAHAMI KEBAIKAN TUHAN Part-4

 


Minggu, 24 Januari 2021

Orang-orang yang memahami kebaikan Tuhan dengan benar akan memberi respon yang benar kepada Tuhan, dan akan memperagakan sikap hidup yang benar juga. Pada poin pertama telah dibicarakan bahwa orang yang memahami kebaikan Tuhan dengan benar akan memuji Tuhan secara konsisten. Untuk memiliki gaya hidup yang konsisten memuji Tuhan maka seseorang harus; mendisiplin diri untuk memuji Tuhan, kemudian harus mengetahui bahwa semua hal baik yang diterima berasal dari Tuhan, dan memuji Tuhan harus dengan segenap hidup.

Berikut kita akan belajar beberapa poin lagi terkait respon orang-orang yang memahami kebaikan Tuhan:

KEDUA: TIDAK MUDAH TERPROVOKASI OLEH SITUASI DAN KONDISI

Sebelum Yusuf menjadi orang nomor dua di Mesir, dia menjalani hidupnya dengan banyak mengalami tantangan bahkan perlakuan tidak adil. Pada waktu Yusuf mempresentasikan mimpinya sebanyak dua kali di hadapan semua saudaranya termasuk kedua orang tuanya, timbul rasa irih dan kebencian di hati saudaranya terhadap Yusuf.

Pada suatu waktu, ketika saudara-saudaranya sedang berada di padang penggembalaan menggembalakan ternak ayah mereka, Yakub yang adalah ayah mereka menyuruh Yusuf pergi melihat saudara-saudaranya sekaligus mengantar perbekalan makan untuk mereka. Waktu tiba di tempat, saudara-saudara Yusuf bersepakat menjual dia kepada seorang kafilah orang Ismael yang sedang menuju Mesir. Setelah tiba di Mesir, kafilah tersebut menjual Yusuf kepada Potifar kepala pengawal raja sebagai pelayan di rumahnya. Di rumah Potifar, Yusuf difitnah oleh istri Potifar yang mengakibatkan Yusuf harus masuk penjara. Namun demikian, Yusuf tidak pernah menyalahkan keadaan, tidak menyalahkan orang sekeliling, dan tidak protes kepada Tuhan atas peristiwa yang menimpa dirinya. Sebaliknya, Yusuf dapat melihat bahwa di dalam segala keadaan Tuhan punya maksud tersendiri untuk membawa orang-orang menggenapi rencana ilahi-Nya di dalam hidup orang tersebut. Hal ini terlihat jelas dari ucapan Yusuf berikut ini:

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kejadian 50:20).

Kenapa Yusuf tidak membalas perbuatan jahat saudaranya terhadap dirinya? Karena Yusuf memahami bahwa di dalam semua peristiwa yang ia alami Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi dirinya. Yusuf memahami bahwa Tuhan adalah Tuhan yang baik bagi dirinya yang tidak mungkin mencelakai dia. Semua kejadian bisa menjadi sarana bagi Tuhan mengkomunikasikan rencana-Nya. Ayub berkata, Tuhan bisa berbicara melalui banyak cara (Ayub 33:14). Tidak ada peristiwa yang terjadi secara kebetulan, semua memiliki maksud dan tujuan untuk mendatangkan kebaikan. Haleluya!

KETIGA: SELALU MENGHORMATI TUHAN DAN MENJAGA KEKUDUSAN HIDUP

Penyertaan Tuhan atas hidup seseorang akan memunculkan daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang di sekelilingnya. Hal itu juga yang terjadi dan dialami Yusuf. Alkitab melaporkan, setelah sekian lama Yusuf bekerja di rumah Potifar, Tuhan memberkati seisi rumah Potifar karena Tuhan menyertai Yusuf. Keberhasilan Yusuf karena Tuhan di rumah Potifar direspon negatif oleh istri Potifar.  Suatu saat, pada waktu senggang, istri Potifar memandang Yusuf dengan berahi, kemudian merayu Yusuf untuk tidur bersamanya. Namun Yusuf menolak dan tidak meladeni maksud jahat tersebut. Pernyataan Yusuf yang ditulis dalam Alkitab sangat menggetarkan hati karena ungkapannya penuh dengan penghormatan kepada Tuhan yang dia sembah. Berikut petikannya:

“... Bagaimana mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:9b).

Sebuah pernyataan radikal yang menggambarkan kecintaan, penghormatan, dan penundukan yang tulus kepada Tuhan. Bagi istri Potifar, momen tersebut merupakan kesempatan terindah untuk memuaskan hasrat dunianya. Tapi bagi Yusuf, perbuatan tersebut adalah kejahatan dan tindakan melukai hati Tuhan. Perhatikan, orang-orang yang memahami kebaikan Tuhan akan selalu menghargai Tuhan dan menjaga kekudusan hidupnya di hadapan Tuhan. Hendaknya kita menjadi orang-orang yang selalu menghormati Tuhan dan menjaga kekudusan Tuhan dalam hidup kita.   

KEEMPAT: MEMILIKI INTEGRITAS HIDUP

Yusuf, tidak saja orang yang menghormati Tuhan, tapi dia juga orang yang memiliki integritas tinggi. Integritasnya teruji dan sangat terlihat dalam seluruh aspek hidupnya. Mulai dari menjalankan perintah ayahnya, kemudian di rumah Potifar, di penjara, dan bahkan pada waktu dia dimandat sebagai orang nomor dua di Mesir.

Yusuf mengerjakan pekerjaan yang dipercayakan kepadanya dengan penuh tanggung jawab dan ketulusan hati. Posisi yang dipercayakan kepadanya benar-benar dimanfaatkan untuk menolong, memelihara dan menyelamatkan banyak orang dari bahaya kelaparan kala itu. Kedudukan dan pengaruhnya tidak dijadikan sebagai sarana membalas dendam sekalipun kesempatannya ada.

Yusuf benar-benar menjadi salah satu refresentasi orang-orang yang memahami kebaikan Tuhan. Pengenalan dia akan Tuhan memampukan dia menciptakan semua gaya hidup yang dikenan Tuhan.

Kehidupan Yusuf menginspirasi bahwa pemahaman akan kebaikan Tuhan akan menolong orang untuk mengasihi sesama dan mengampuni orang-orang yang bersalah. Pemahaman akan kebaikan Tuhan juga akan membuat orang tidak mudah terprovokasi, selalu menghormati Tuhan dan memiliki integritas hidup yang baik. Bagaimana dengan Anda? Jadilah pribadi yang memahami kebaikan Tuhan. Haleluya!

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA HIDUP INI MENJADI KACAU? (Hakim-hakim 13-16)

BUKTI NYATA KITA MENGASIHI TUHAN YESUS