MEMAHAMI KEBAIKAN TUHAN Part-3 (Mazmur 103:1-5)
Minggu, 17 Januari 2021
Pujian Sebagai Respon Terhadap Kebaikan Tuhan.
Daud memulai dan mengakhiri mazmur ini dengan
ungkapan yang sama, yaitu “Pujilah TUHAN, hai jiwaku” (ayat 1, 22). Struktur
dan cakupan para pemuji dalam mazmur ini terlihat cukup jelas, dimulai dari pujian
pribadi (ayat 1-5), pujian massal atau skala nasional (ayat 6-18), sampai kepada
seruan terhadap para penghuni surga untuk memuji TUHAN (ayat 19-22). Seluruh
pujian terarah pada dan menerangkan “segala kebaikan TUHAN” (ayat 2).
Jika Anda mencermati dari ayat 1-5, dengan mudah
Anda dapat menangkap struktur dan golongon pemujinya. Ayat 1-2 merupakan ajakan
pada diri sendiri untuk memuji TUHAN. Ayat 3-5 berisi serangkaian anak kalimat
yang menerangkan perbuatan-perbuatan TUHAN. Jadi, ayat 1-2 menjelaskan
“bagaimana”, sedangkan ayat 3-5 “mengapa”.
Nah, sekarang bagaimana kita dapat memuji TUHAN
secara konsisten?
PERTAMA, DISIPLIN DIRI KITA UNTUK MEMUJI TUHAN.
Memuji TUHAN tidak terjadi secara natural dan
spontan.
Daud mengajak jiwa dan batinnya sendiri secara
disiplin untuk memuji TUHAN. Mengapa dia perlu melakukan hal ini? Karena ada
momen-momen tertentu dalam hidup seseorang di mana pujian tidak keluar secara natural
dan spontan dari dalam dirinya. Memuji TUHAN menjadi sesuatu yang sukar untuk
dilakukan. Biasanya hal tersebut terjadi disebabkan faktor eksternal, misalnya,
pada saat seseorang sedang diperhadapkan atau sedang mengalami problem hidup.
Kecenderungan hati seseorang yang sedang mengalami tekanan adalah mengasihani
diri sendiri. Hal ini natural, namun tidak baik apabila dibiarkan berlngsung
dalam waktu lama karena akan membuat dirinya menjadi seorang yang egosentris. Itu
sebabnya dalam ayat 1-2 Daud berbicara pada dirinya sendiri, mengajak, memotivasi
dan membangun semangatnya untuk tetap memuji Tuhan.
Manusia adalah ciptaan yang bergantung sepenuhnya
kepada Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara. Seharusnya fakta tersebut
lebih dari cukup sebagai alasan untuk memuji Dia di segala waktu dan keadaan.
Memuji TUHAN seharusnya terjadi secara natural dan spontan. Dalam
kenyataan, dosa membuat kita enggan memuji TUHAN. Kemelut hidup merampas hasrat
kita untuk memuliakan Dia. Terkadang kesibukan menjauhkan kita dari kenikmatan
keintiman bersama dengan TUHAN dalam hadirat-Nya.
KEDUA, SADARI BAHWA MEMUJI TUHAN BERARTI MENGAKUI KEBAIKAN-NYA.
Kata “memuji TUHAN” di teks ini secara hurufiah
berarti “memberkati TUHAN” (versi Inggris “bless the Lord”). Dalam Alkitab, memberkati
Allah berarti mengakui bahwa segala sesuatu yang membuat hidup kita bermakna
dan indah berasal dari Dia. Kita merespons semua pemberian yang baik tersebut
dengan mengeluarkan perkataan-perkataan yang baik dan mengangugkan Dia. Itu
sebabnya tatkala hati dan mulut kita enggan memuji TUHAN, kita perlu mendorong
diri sendiri untuk mengingat semua kebaikan-Nya (ayat 2b).
Sebenarnya tidak sulit untuk mengimani kebenaran
ini. Namun kita cenderung mengeluhkan hal-hal yang belum ada di tangan kita
daripada mensyukuri apa yang sudah ada dalam genggaman. Sebuah penderitaan
seringkali kita anggap sudah cukup untuk menyalahkan Tuhan, tetapi ribuan
kebaikan-Nya seolah-olah tak pernah memadai untuk memuji Dia. Pengalaman bangsa
Israel di padang gurun menjadi saksi historis yang tak terbantahkan bagi kita.
Kelepasan secara ajaib dari tanah Mesir seolah tak bernilai apa-apa hanya
karena mereka belum makan daging di perjalanan menuju negeri perjanjian. Keluhan
dan omelan, dengan mudah keluar dari mulut mereka. Penyesalan dan kekecewaan,
menjadi respons yang dipandang wajar oleh mereka. Betapa mudahnya melupakan
segala kebaikan-Nya!
Bahkan yang lebih parah, ada sebagian umat Tuhan memanipulasi
Allah melalui pujian. Pujian kepada Tuhan dimanfaatkan untuk mendapatkan kebaikan-Nya,
bukan memuji Tuhan karena kebaikan-Nya. Allah dimanipulasi, bukan dipuji.
YANG KETIGA, MEMUJI TUHAN HARUS DENGAN SEGENAP HIDUP.
Segenap hidup artinya, segenap keberadaan kita, luar-dalam.
Daud menggugah jiwa dan seluruh batinnya untuk memuliakan Allah.
Ini bukan sekadar aktivitas bibir. Lebih daripada alunan nada dan rangkaian
kata. Pujian dimulai dari hati, dan merembesi segenap diri. Apalah artinya
bibir yang memuliakan Allah kalau hatinya sebenarnya jauh dari Dia (Mat. 15:8)?
Menyeluruh juga berarti jiwa-pikiran. Walaupun
Daud di ayat 1-2 mengajak jiwa dan seluruh batinnya untuk memuji TUHAN, bukan
berarti pujian hanya merupakan aktivitas hati atau perasaan. Daud menambahkan:
“Pujilah TUHAN hai jiwaku, janganlah lupakan segala kebaikan-Nya”
(ayat 2). Untuk mengingat sesuatu jelas dibutuhkan aktivitas pikiran. Bahkan
tatkala jiwa dan batin kita enggan memuji TUHAN, dorongan terbesar datang dari
pikiran. Pikiranlah yang mengingat semua peristiwa dan pengalaman bersama
dengan Tuhan. Tidak ada alasan untuk memisahkan hati dan pikiran seolah-olah
keduanya merupakan musuh bebuyutan. Kedewasaan pikiran dan perasaan sangat
diperlukan dalam menghadirkan pujian yang memberkati Tuhan dan yang berkenan di
hati-Nya. Mari berkati Tuhan dengan pujian dan seluruh kehidupan Anda karena
hal itu akan memberikan kekuatan dan mendatangkan kebaikan yang sesungguhnya di
dalam hidup Anda. Tuhan Yesus Memberkati!

Komentar
Posting Komentar