MENGIKUTI TUNTUNAN ROH KUDUS Part – 3
Minggu, 20 Desember 2020
Bagaimana Cara Mengikuti Tuntunan Roh Kudus?
Manusia memiliki
faktor human error, di mana kita melakukan pilihan dan tindakan yang
salah. Faktanya, seluruh pilihan atau keputusan yang kita ambil dalam hidup
merupakan salah satu sumber terbesar yang mempengaruhi tingkat stress dalam
kehidupan kita. Jika demikian, apakah obat penawar untuk situasi seperti ini?
Jawabnya, kita harus membiarkan Roh Kudus menuntun hidup kita kerena Tuhan telah
memberikan Roh-Nya di dalam hati orang percaya dan menyediakan peta jalan kebenaran yaitu Alkitab.
Sebagai manusia mungkin kita
bisa salah menggunakan peta, namun dengan adanya guide (pembimbing/penuntun
yaitu Roh kudus), maka kita akan dimudahkan sampai ke tujuan.
Daud berkata, TUHAN
adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang
berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia
menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. (Mazmur 23: 1-3)
Alkitab menggambarkan
Tuhan sebagai gembala yang baik. Seorang gembala yang baik bertugas untuk
menjagai domba dan menuntun mereka ke air yang tenang dan rumput yang hijau.
Dalam perjalanan menuju air tenang dan rumput hijau inilah diperlukan ketaatan
terhadap tuntunan sang gembala agar mereka sampai pada tujuan yang
sesungguhnya. Seseorang bisa berhasil dan gagal dalam perjalanan tersebut,
apabila mereka taat maka mereka akan sampai pada tujuan, namun apabila mereka
tidak taat, ada kemungkinan mereka tidak sampai ke tujuan yang sebenarnya.
Demikian halnya dengan
Anda, jika Anda ingin sampai pada tujuan Tuhan, belajarlah taat terhadap
tuntunan Roh Kudus. Untuk taat terhadap tuntunan Roh Kudus, ada beberapa hal
yang tidak boleh Anda lakukan.
1. Tidak Larut dengan Pola-pola Dunia
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi
berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah
kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
(Roma 12:2)
“Janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan
kejahatan, dan dalam memberikan kesaksian mengenai sesuatu perkara janganlah
engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum.” (Keluaran
23:2)
Manusia terlalu fokus terhadap budaya yang ditawarkan dunia
yang sifatnya tidak tetap/ tidak kekal. Budaya dunia selalu berubah-ubah
seiring berjalannya waktu seperti fashion, teknologi, atau lifestyle. Budaya
dunia selalu mengejar kekayaan dengan nafsu, kepuasan-kepuasan diri sendiri
penuh kedagingan. Misalnya, sex bebas, bersenang-senang di tempat-tempat
tertentu, minum-minum, hidup glamor. Saat-saat seperti itu, orang-orang percaya
harus berani tampil dan berkata “tidak”, sebab semua itu hanya hal-hal semu
yang tidak memiliki nilai rohani dan bersifat sementara. Orang percaya harus
mampu menempatkan Tuhan di atas segalanya karena hanya Dialah yang tetap ada dan
kekal. Dia-lah harta termahal bagi orang percaya.
2. Tidak mengikuti Ide-ide yang Menyesatkan
Roh Kudus melalui Rasul Yohanes menasehati orang-orang
percaya, “Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu.
Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah
benar.” (1 Yohanes 3:7), bandingkan dengan pernyataan Tuhan melalui
kitab Amsal:
“Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi
siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang. (Amsal 13 : 20)
Salah satu faktor kenapa Anda susah menangkap tuntunan
Roh Kudus adalah karena Anda lebih suka mendengarkan pendapat orang-orang di
sekeliling Anda. Tentu tidak salah mendengar pendapat orang-orang yang bersama
Anda, namun jauh lebih baik jika Anda lebih banyak berkomunikasi dengan Roh
kudus dalam hal mengambil keputusan supaya keputusan tersebut tidak terpolusi
oleh pendapat-pendapat liar dari luar Tuhan.
Ajaran dunia sekarang ini mengajak supaya Anda open
minded, artinya terbuka terhadap semua ide dan memperbolehkannya masuk ke dalam
pikiran Anda. Namun Anda tidak boleh lupa bahwa tidak semua ide yang bersumber
dari luar harus Anda dengar. Firman Tuhan tersebut mengajarkan supaya Anda
bijak mengambil keputusan dengan siapa Anda bergaul, karena hal itu dapat
mempengaruhi seperti apa Anda nantinya.
Apakah itu berarti kita tidak boleh berteman dengan
mereka yang tidak seiman atau tidak percaya kepada Tuhan? Jawabnya adalah
tidak. Tuhan tidak pernah berkehendak demikian. Yang Dia inginkan adalah hati
kita lebih melekat kepada-Nya.
“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di
dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di
dalam orang itu.” (1 Yohanes 2 : 15).
Arti kata “dunia” pada ayat tersebut adalah; nilai, budaya
atau cara pandang dunia. Jadi jelas, yang Tuhan maksud adalah hati, cara
pandang, dan sikap kita. Artinya, dalam pergaulan tidak berarti bahwa Anda
harus menerima dan mengikuti nilai atau budaya dunia ini. Bila dianalogikan,
pilihlah menjadi thermostat (pengatur suhu) bukan thermometer (pengukur suhu),
karena thermometer hanya mengikuti apa yang ada, sedangkan thermostat memiliki
prinsip dan dialah yang mengatur keadaan dirinya dan sekitarnya. Jadi, jadilah
orang-orang yang mempengaruhi sekeliling dengan nilai-nilai kerjaan Allah dan
bukan orang-orang yang dipengaruhi oleh nilai dan prinsip duniawi. Ikutilah
tuntunan Roh Kudus, bukan keinginan dunia, dan Anda akan berkemenangan.
Haleluya!

Komentar
Posting Komentar