KELUAR DARI RASA KESEPIAN (Part-2) (2 TIMOTIUS 4:6-17)

 

Minggu, 08 November 2020

Ada cara-cara yang baik dan cara-cara pembelaan diri dalam menghadapi kesepian. Salah satu cara pembelaan diri adalah menjadi gila kerja. Anda menghabiskan seluruh waktu dan energy untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Anda bangun di pagi hari dan bekerja seharian sampai akhirnya Anda naik ke tempat tidur dalam kondisi sangat lelah di malam hari. Tetapi, akhirnya hal itu akan menguras diri Anda baik secara fisik maupun secara emosional.

Beberapa orang mencoba materialism: Mereka membeli apa pun yang dapat mereka beli. Mereka berpikir, “Jika aku bisa mendapatkan banyak barang, aku akan senang.”  Tapi bagaimana jika Anda ditempatkan di sebuah pulau dan diberi tahu, “Anda dapat memiliki apa pun yang Anda inginkan kecuali kontak dengan manusia,” kira-kira berapa lama Anda dapat merasa gembira? Tidak lama, karena benda-benda tidak dapat memuaskan. Anda tidak dapat membeli kebahagiaan. Bentuk penghukuman yang paling menghancurkan adalah pengucilan dalam pemenjaraan karena manusia membutuhkan manusia. Anda memerlukan interaksi, Anda membutuhkan penerimaan dan kasih.

Paulus melakukan empat hal untuk memerangi kesepiannya, dan itu dapat diterapkan sekarng ini sama seperti ketika Paulus melewati hari-hari kesepiannya.

PERTAMA: MENGGUNAKAN WAKTU DENGAN EFESIEN

Cara pertama untuk menghadapi kesepian adalah menggunakan waktu Anda secara bijak. Dengan kata lain, lakukan yang terbaik dari situasi Anda yang terburuk. Tolak godaan untuk tidak berbuat apa-apa. Kesepian memiliki kecenderungan untuk melumpuhkan Anda jika Anda hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa. Tolak itu, dan pikirkan cara kreatif untuk menarik manfaat dari situasi Anda yang jarang terkena gangguan itu. Inilah yang dilakukan Paulus saat ia berada di penjara. Tikhikus telah kukirim ke Efesus. Jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu.” (2 Tim. 4:12-13)

Paulus menolak untuk berdiam saja dan bersedih, dia tidak membuat alasan untuk mengasihani diri sendiri. Tetapi Paulus berkata, “Bawakan jubah dan buku-bukuku, sebab aku akan memanfaatkan keterasingan ini untuk belajar dan menulis.” Ini adalah perubahan yang hebat bagi seorang Paulus, karena ia adalah seorang aktivis, perintis gereja. Lebih daripada segalanya ia ingin berada di lapangan untuk berkhotbah dan bukan belajar di dalam penjara. Namun Allah telah memakai penjara untuk mendatangkan kebaikan. Jika Paulus ada di luar ia akan berkhotbah, tetapi Allah mengijinkan dia masuk penjara dan hasilnya kita memperoleh bagian-bagian kitab Perjanjian Baru. Mungkin itulah satu-satunya cara yang dapat Allah pakai untuk membuat Paulus duduk tenang. Dan respon Paulus adalah, “jika aku tidak dapat berada di pusat kegiatan, aku akan menciptakan kegiatan di sini.”

KEDUA: MINIMALISASI RASA SAKIT

“Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka,” (2 Tim. 4:16)

Paulus mempunyai banyak sekali kesempatan dalam tangannya, tetapi satu hal yang tidak diijinkannya hadir adalah kemarahan. Ia tahu bahwa kemarahan hanya akan menambah kesepian dan menciptakan tembok di sekeliling hidup Anda. Itu akan mengunci Anda dalam penjara diri dan membuat orang-orang menjauh, karena tidak seorang pun senang berada dekat orang yang selalu sinis, kepahitan dan selalu mengeluh.

KETIGA: MENYADARI DAN MENGAKUI KAHADIRAN TUHAN

“Tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa.” (2 Tim. 4:17)

Di manakah Allah saat Anda sedang mengalami kesepian? Tepat berada bersama Anda, melalui Roh Kudus-Nya, Dia berada di dalam Anda. Yesus berkata, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu” (Yoh. 14:18). Tidak ada tempat di mana Allah tidak hadir. Dia ada di mana pun dan kapan pun, dan Anda dapat berbicara terus menerus dengan Dia. Selama Anda mengerti hal itu, Anda tidak akan pernah benar-benar merasa sendirian. Doa adalah alat fantastis yang dapat Anda gunakan dalam masa-masa sepi. Berbicaralah kepada Allah dan biarkan Dia berbicara kepada Anda.

KEEMPAT: EMPATI ATAS KEBUTUHAN ORANG LAIN

Di saat kesepian, Anda akan tergoda untuk fokus pada diri sendiri, namun Paulus tidak demikian. Ia tetap memperhatikan kebutuhan orang lain dengan rasa empati.

“Tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa.” (2 Tim. 4:17)

Jangan hanya fokus pada kebutuhan Anda, tapi mulailah memperhatihan kebutuhan orang lain juga yang sedang kesepian. Paulus merasa kesepian di akhir hidupnya, namun demikian ia tidak pernah melupakan tujuan hidupnya yaitu, menolong orang lain.

Anda harus berhenti membangun tembok antara Anda dengan orang lain dan mulai membangun jembatan-jembatan. Anda harus berhenti mengeluh dengan kata-kata, “Tuhan, aku sangat kesepian,” tetapi mulailah berkata, “Tuhan tolong aku menjadi teman untuk seseorang hari ini. Tolong aku membangun sebuah jembatan dan bukannya sebuah tembok.”

Kasih adalah obat penawar bagi kesepian. Jangan menunggu untuk dikasihi, kita perlu memberikan kasih, dan kemudian kasih akan diberikan kembali kepada kita dalam ukuran yang melimpah. Jangan pernah merasa sendirian karena Tuhan ada beserta kita. Amen!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA HIDUP INI MENJADI KACAU? (Hakim-hakim 13-16)

BUKTI NYATA KITA MENGASIHI TUHAN YESUS