TETAP PERCAYA DI TENGAH KRISIS (Part 2) (Kis. 27:15-20)
Minggu, 18 Oktober 2020
TIGA HAL YANG SERING DIALAMI
DAN DILAKUKAN SESEORANG KETIKA MENGALAMI KRISIS ATAU BADAI KEHIDUPAN:
1.
TEROMBANG-AMBING
Pada saat seseorang terjebak dalam sebuah krisis atau
badai kehidupan, biasanya mereka akan melakukan hal yang sama seperti yang
dilakukan para pelaut di mana Paulus ada di dalamnya, yaitu membiarkan diri
mereka diombang-ambingkan oleh badai (ayat 15). Selanjutnya mereka membiarkan
kapal itu terapung-apung saja (ayat 17). Mereka seperti hidup tanpa tujuan dan
menyerah begitu saja terhadap realita dan keadaan. Para pelaut benar-benar
diselimuti kegelapan karena tak satu bintang pun yang dapat mereka lihat karena
pekatnya kegelapan badai yang membungkus mereka. Mereka benar-benar kehabisan
ide sehingga mereka hanya mengikuti arus ke mana badai membawa mereka
terapung-apung.
Hal pertama yang cenderung terjadi dalam kehidupan
seseorang yang mengalami badai ialah terombang-ambing dan mengambang, pasrah
terhadap kenyataan, dan ikut arus. Saat Anda berada dalam situasi yang gelap di
mana Anda tidak dapat melihat bintang-bintang, apa yang akan Anda lakukan? Apakah
Anda hanya akan terombang-ambing? Apakah Anda akan membiarkan saja ombak
menghantam Anda ke sana-sini dan pergi ke mana ombak membawa Anda? Ini adalah
gambaran suatu perjalanan hidup yang dikuasai dan dikendalikan oleh kondisi, yang
berjalan berdasarkan ritme situasi. Mereka hanya mengikuti gelombang yang tidak
menentu arah dan tujuannya yang dapat berujung pada penyimpangan-penyimpangan
demi menyelamatkan diri. Sebagai orang percaya kepada Yesus, apakah karena
hebatnya persoalan yang sedang Anda alami, Anda akan berkata, apa gunanya untuk
melawan lebih baik mengikuti arus dan mengalir saja? Coba Anda renungkan dengan
saksama.
2.
MELEPASKAN HAL-HAL PENTING
Alkitab berkata, “Karena kami sangat hebat diombang-ambingkan
angina badai, maka pada keesokan harinya mereka mulai membuang muatan kapal ke
laut. Dan pada hari yang ketiga mereka membuang alat-alat kapal dengan tangan
mereka sendiri.” (ayat 18-19).
Pada waktu mereka menyerah pada kenyataan, mereka mulai
membuang segala sesuatu yang dianggap membebani, bahkan peralatan-perelatan
penting pun mereka buang ke laut. Ketika sebuah krisis datang dalam kehidupan
seseorang, pertama mereka mulai terombang-ambing, kemudian mereka mulai
membuang berbagai hal dari hidup mereka.
Untuk para pelaut, yang pertama mereka buang adalah
muatan kapal, lalu alat-alat kapal, lalu gandum (ayat 38), dan akhirnya diri
mereka sendiri (ayat 43-44). Mereka melompat dari kapal dan mulai berenang
menuju pantai.
Pesan moralnya adalah: Saat kita masuk ke dalam krisis
kehidupan, sering kita tergoda untuk membuang hal-hal yang sebenarnya penting
bagi kita, nilai-nilai yang kita pegang pada saat-saat waktu kondusif. Kita
memiliki kecenderungan untuk membuang segalanya karena kita berada di bawah
tekanan dan ingin lepas dari semuanya itu. Kita menjadi impulsif dan agresif.
Tanpa kita sadari, kita membuang impian-impian kita, kita memutuskan
hubungan-hubungan, kita meninggalkan nilai-nilai positif yang selama ini kita
pelajari dan hidupi. Dan semua itu kita lakukan karena kita merasa dibebani dan
dihalangi untuk bergerak cepat meloloskan diri dari tengah badai. Apakah dengan
demikian badainya jadi reda, tidak!
Jika Anda sedang masuk di tengah badai, Anda tidak perlu
membuang nilai-nilai berharga yang telah Anda bangun selama ini. Tetaplah
dengan visi yang dari Tuhan, tetaplah mengembangkan jam-jam doa Anda, tetaplah
berbuat baik dan berbuah-buah di dalam Kristus, karena dengan demikian Anda
sedang mengekspresikan kepercayaan Anda kepada Tuhan.
3.
HILANG PENGHARAPAN
Hal ketiga yang dilakukan para pelaut di saat menghadapi
badai ialah, “Setelah beberapa hari lamanya baik matahari maupun bintang-bintang
tidak kelihatan, dan angina badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami,
akhirnya putuslah segala harapan kami untuk menyhelamatkan diri.” (ayat 20).
Dalam sebuah pergumulan hidup yang panjang selama 14 hari
di tengah laut menghadapi badai, pada akhirnya para pelaut sampai pada titik
putus asa dan kehilangan pengharapan. Hal ini juga yang sering dialami banyak
orang waktu menghadapi pergumulan mereka. Setelah menanti sekian lama, namun
belum melihat titik terang, mereka tergoda untuk putus asa dan hilang harapan.
Apakah Anda sedang mengalaminya? Mungkin Anda sedang
dihempas oleh masalah kian kemari, bahkan Anda telah membuang berbagai hal
termasuk impian-impian Anda, namun badai belum juga berlalu, sehingga Anda
mulai putus asa dan kehilangan pengharapan. Perhatikan dan coba ingat hal ini;
Para pelaut putus asa dan hilang pengharapan karena mereka telah lupa bahwa
Allah memegang kendali, mereka lupa bahwa Allah punya sebuah rencana, mereka
lupa bahwa Allah dapat memberikan pengharapan baru dalam situasi yang kelihatan
sangat sulit. Bagi kita yang telah ditebus oleh darah Yesus selalu ada
pengharapan di tengah badai dan selalu ada jalan yang terbuka di tengah-tengah
kebuntuan. Oleh sebab itu tetaplah berharap kepada-Nya, karena firman-Nya
berkata “Pengharapan kepada Tuhan tidak pernah mengecewakan”. Amen!

Komentar
Posting Komentar