TETAP PERCAYA DI TENGAH KRISIS (Part 1) (Kis. 27:9-13)


Minggu, 11 Oktober 2020

Beberapa minggu yang lalu kita belajar tentang dampak kekecewaan yang sangat berbahaya. Ia bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia, sifatnya kambuhan, dapat menular dari seseorang kepada orang lain, dan dapat berujung pada penyangkalan iman. Saat ini kita akan belajar tentang sifat krisis atau badai kehidupan yang bisa menyerang aliran kepercayaan manapun, baik Kristen maupun non Kristen. Artinya, semua orang bisa mengalami masalah, apakah dia orang yang percaya Yesus atau tidak. Jadi bagaiamana kita dapat menghadapi krisis-krisis ini, bagaiamana kita tetap dapat tenang dan memelihara kepercayaan kita kepada Tuhan tanpa harus terpengaruh dengan hal-hal yang sedang terjadi?

Sebelum kita membahas jawaban-jawaban tersebut, kita akan melihat beberapa hal yang paling umum sebagai penyebab kekacauan dalam hidup seseorang:

PERTAMA: TIDAK SABAR

“Karena pelabuhan itu tidak baik untuk tinggal di situ selama musim dingin, maka kebanyakan dari mereka lebih setuju untuk berlayar terus dan mencoba mencapai kota Feniks untuk tinggal di situ selama musim dingin.” (ayat 12a)

Allah menyuruh Paulus memberitahu para awak kapal supaya tidak meninggalkan pelabuhan karena akan ada badai besar di laut Mediterania. Namun para pelaut teresebut mengabaikan apa yang telah Allah katakan pada mereka melalui Paulus, dengan alasan lebih baik mereka berlayar menuju kota Feniks (artinya, mereka tidak sabar menunggu di pulau Kreta).

Ketidaksabaran sering membawa seseorang ke dalam masalah, tanpa dia sadari ketidaksabaran membawa dia tepat masuk ke dalam badai. Paulus berkata kepada orang-orang yang ada di kapal itu, “Saudara-saudara, aku lihat bahwa pelayaran kita akan mendatangkan kesukaran-kesukaran dan kerugian besar, bukan saja bagi muatan dan kapal, tetapi juga bagi nyawa kita” (ayat 10). Tetapi mereka tetap berlayar menyongsong badai.

KEDUA: TUNTUNAN YANG SALAH PARA AHLI

Perwira di dalam kapal tersebut tidak menghiraukan perkataan Paulus, malah mengikuti nasihat juru mudi dan nahkoda. Mungkin alasannya adalah karena secara umum mereka orang-orang yang dianggap mahir memprediksi cuaca dan situasi di lautan. Namun kali ini ramalan mereka meleset yang membuat mereka terjebak di tengah badai dan gelombang yang besar. Artinya, ahli sehebat apapun masih ada kemungkinan salah karena mereka bukan Tuhan. Tidak salah mempercayai para ahli di bidangnya, namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, Tuhan jauh melebihi kepintaran, kehebatan para ahli. Dalam kasus dan situasi tertentu para ahli bisa meleset dari prediksi dan hitungan matematiknya. Jadi, alasan kedua yang sering membuat seseorang masuk ke dalam kekacauan atau krisis ialah, lebih mendengar pendapat yang salah dari para ahli dari pada tuntunan Tuhan.

KETIGA: TUNTUNAN YANG SALAH DARI HASIL VOTING

Karena pelabuhan kurang baik ditinggali selama musim dingin, maka kebanyakan dari mereka memutuskan untuk berlayar, dengan harapan mereka sampai ke Feniks dan berlabuh di Kreta (ayat 12).

Alasan ketiga yang sering membuat seseorang masuk ke dalam badai kekacauan adalah voting atau persetujuan melalui pengambilan suara terbanyak. Faktanya, metode ini sering salah. Yang membuat tindakan ini sering salah ialah pijakannya yang tidak berdasar pada norma kebenaran, tapi selera. Di mana, apabila dalam satu kelompok lebih banyak menyukai dan memilih A, maka A yang akan diputuskan sebagai pemenang atau ketetapan sekalipun nilainya tidak sebak B.

Waktu awal kepemimpinan Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, mayoritas di antara bangsa itu menyerukan teriakan untuk kembali ke Mesir. Namun Musa tidak mengindahkannya karena dia tahu seruan tersebut adalah ekspresi hati orang-orang serakah dan bebal. Musa tahu bahwa suara itu tidak berasal dari Tuhan sekalipun diserukan lebih banyak orang. Dia memilih menanggung cacian dan intimidasi daripada sekedar mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bagaimana dengan Anda? Kita dapat terjebak di dalam kekacauan besar karena mengikuti pendapat yang menonjol dan gagasan-gasan yang sedang populer.

KEEMPAT: TUNTUNAN YANG SALAH DARI KEADAAN

Pada waktu angin sepoi-sepoi mulai bertiup dari selatan, mereka mengira bahwa maksud mereka adalah tepat dan akan tercapai, maka mereka pun mulai membongkar sauh dan berlayar menyusur pantai Kreta (ayat 13). Perhatkan bahwa tertulis angin sepoi-sepoi bertiup dari selatan. Apa yang lebih baik dari hal ini bagi seorang pelaut. Mereka mengira bahwa semua yang mereka rencanakan akan terwujud karena melihat keadaan yang kondusif. Tetapi, adalah tindakan yang gila untuk mengabaikan apa yang Allah katakan, bahkan jika keadaan cenderung bertentangan dengan itu. Segala sesuatu mungkin tampak bagus sekarang, tetapi mungkin Anda sedang berlayar tepat menuju badai dan gelombang yang besar. Ada sebuah pepatah terkenal yang berkata, “bagaimana mungkin hal itu salah kalau rasanya begitu enak?”. Namun faktanya perasaan sering berdusta. Seharusnya, jika Tuhan berkata tunggu di pelabuhan, sebaiknya Anda menunggu di pelabuhan sekalipun hal itu kurang nyaman dalam perasaan Anda. Karena jika Tuhan yang berbicara sifatnya “ya” dan “amen”, pasti benar, dan tidak mungkin salah. Biasakanlah diri Anda untuk peka terhadap suara Tuhan agar Anda tidak terjebak ke dalam beberapa hal di atas yang dapat membuat orang terjerumus ke dalam kekacauan hidup. Bersama Tuhan pasti bisa. Amen!

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA HIDUP INI MENJADI KACAU? (Hakim-hakim 13-16)

BUKTI NYATA KITA MENGASIHI TUHAN YESUS