CARA TERBAIK MENANGANI PEPERANGAN HIDUP (Part 2) (2 Tawarikh 20:1-4)

 

Minggu, 06 September 2020




Di minggu yang lalu, kita telah belajar tiga poin cara terbaik menangani peperangan-peperangan hidup kita, yaitu; kenali musuh kita, kedua, bawa persoalan hidup kita kepada Tuhan, dan ketiga, akui ketidakmampuan kita kepada Tuhan. Saat ini kita akan mempelajarinya lebih lanjut. Simak beberapa poin berikut ini:

KEEMPAT: BERGANTUNG SEPENUH KEPADA TUHAN

Setelah Yosafat mengakuiba hwa dia tidak bisa berbuat apa-apa, ia menambahkan “tetapi mata kami tertuju kepada-Mu” (ayat 12 NIV).

Prinsip ke-empat dalam menaklukkan peperangan-peperangan hidup ialah dengan bergantung sepenuh kepada kekuatan atau sumber-sumber Allah. Anda harus menujukan pandangan Anda kepada Tuhan, bukan kepada yang lain. Musa sanggup menjalani hidupnya dengan tenang di tengah-tengah krisis karena dia selalu mengarahkan pandangannya kepada Tuhan. Kadangkala kita sudah sangat terbiasa menujukan pandangan kita kepada hal-hal lain yang bukan Tuhan saat kita menghadapi kesulitan hidup. Sekalipun seringkali kita tidak berhasil dengan cara seperti itu, tapi hal itu seakan tidak membuat kita sadar bahwa tidak ada yang dapat diandalkan memecahkan masalah kita kecuali Tuhan. Adalah sangat baik, jika kita dengansegala kerendahan hati mau terbuka dan berserah kepada kekuatan Tuhan. Apakah Anda tahu, bahwa keadaan-keadaan hidup itu seperti matras. Jika Anda yang naik ke atasnya maka Anda bisa bersantai dan tiduran di sana. Tapi jika Anda menempatkan matra di atas Anda, maka ada kemungkinan Anda mati di bawahnya karena tertekan dan kehabisan oksigen. Jika Anda tetap menujukan mata dan pandangan Anda kepada Kristus sang pemilik kuasa itu, maka Anda akan tetap berada di atas keadaan-keadaan Anda.

KELIMA: TENANG DALAM IMAN

Pada waktu Yosafat berdoa, Tuhan berespon. Anda dapat memperhatikan bagaimana Tuhan meresponi doa Yosafat. Tuhan berkata, “Janganlah kamu takut dan terkejut karena lascar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah” (ayat 15).

Perhatikan, prinsip kelima untuk menaklukkan pertempuran kehidupan adalah “tenang di dalam iman”. Sekarang ini, begitu banyak orang Kristen benar-benar keletihan karena mereka mencoba melawan peperangan hidupnya dengan kekuatan sendiri. Mereka lupa jika mereka berusaha melawan peperangan hidup mereka  dengan kekuatan sendiri, maka pasti mereka akan dikalahkan. Anda perlu menyadari bahwa kemenangan di dalam kehidupan Kristen itu adalah pemberian dari Allah. Paulus berkata, “Syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan” (1 Korintus 15:58). Dalam 2 Tawarikh 20 ini dua kali Tuhan memerintahkan kepada Yosafat supaya ia tidak takut (ayat 15, 17), kenapa karena Tuhan berjanji bahwa DIA sendiri yang akan berperang.

Sepengetahuan Anda, apakah Allah pernah kalah dalam pertempuran? Tidak, sekalipun tidak! Jadi, sebenarnya Anda tahu siapa pemenang sesungguhnya. Perhatikan apa lagi yang Tuhan katakan kepada Yosafat, “Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur... tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana Tuhan memberikan kemenangan kepadamu.” (ayat 17). Apa artinya untuk tetap teguh saat Anda dilanda masalah, saat Anda menghadapi peperangan, saat Anda berada dalam krisis kehidupan? Itu adalah sebuah sikap mental, keyakinan diri yang tenang yang berkata, “aku akan percaya kepada Allah.”

Lewat peristiwa ini, ada satu hal yang patut kita pelajari: Allah tidak pernah menginginkan kita lari dari sebuah situasi yang sulit. Jika kita lari, itu hanya akan membawa kembali situasi yang sama kemudian. Kelihatannya saja sedikit agak berbeda, tapi sebenarnya sama. Mengapa, karena Allah mengajari kita bahwa DIA cukup bagi kita untuk persoalan apa pun. Jika kita tidak mempelajarinya hari ini, mungkin kita akan mempelajarinya minggu depan. Jika tidak minggu depan mungkin bulan depan, dan seterusnya. Kita dapat menyelamatkan diri dari banyak masalah jika kita tetap teguh dan menantikan Allah dengan keyakinan diri yang tenang.   

 

 

KEENAM: BERSYUKURLAH KEPADA TUHAN

Prinsip keenam dalam menaklukkan peperangan kehidupan kita adalah, “bersyukur kepada Tuhan” terlebih dahulu karena telah memberi kemenangan. Kisah Yosafat ini sangat mengagumkan karena kita diperlihatkan, setelah ia berbicara kepada rakyatnya, ia menunjuk orang-orang bernyanyi bagi Tuhan, untuk memuji Allah atas semarak dan kekudusan-Nya sementara mereka pergi menyongsong musuh. (ayat 21)

Coba Anda bayangkan, atas instruksi Tuhan Yosafat mengatur barisannya dengancara menempatkan kelompok paduan suara berada berbaris di barisan paling depan. Mereka berbaris menuju medan perang dengan kelompok paduan suara berdiri di depan pasukan untuk menyanyikan puji-pujian kepada Allah. Sungguh, ini terlihat aneh! Namun pertanyaannya adalah, “apakah rencana Allah berhasil? Jawabnya, ya! Ketiga pasukan musuh menjadi bingung dan akhirnya saling membunuh satu sama lain! Yang harus mereka lakukan adalah membagi-bagi jarahan.

Mengapa Allah berbuat demikian? Sebagai objek pelajaran Visual untuk mengajari kita, bahwa memuji Tuhan dalam iman itu penting bahkan sebelum kemenangan terjadi. Di saat menghadapi peperangan kehidupan, setiap kita dapat berkata, “Tuhan saya tahu saya punya masalah, tetapi saya mengucap syukur kepada-Mu terlebih dahulu karena tidak ada situasi yang tidak dapat Kau tangani.” Itu adalah ekspresi iman sejati, yaitu bersyukur kepada Allah terlebih dahulu. Itu sebabnya naikkanlah syukur kita kepada Tuhan setiap waktu tanpa harus dipengaruhi oleh situasi-situasi di hidup kita. Tuhan Yesus Memberkati!    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA HIDUP INI MENJADI KACAU? (Hakim-hakim 13-16)

BUKTI NYATA KITA MENGASIHI TUHAN YESUS