CARA MENGATASI KEKECEWAAN (Part 1) (NEHEMIA 4:1-2)

 

Minggu, 13 September 2020



Mengapa kekecewaan merupakan penyakit yang begitu menakutkan? Karena kecewa bersifat universal. Kekecewaan adalah hal yang umum dan semua orang dapat atau pasti pernah merasa kecewa, demikian juga dengan orang percaya. Kekecewaan dapat juga terjadi berulang-ulang (kambuhan) dan kecewa juga bersifat menular di mana orang lain dapat merasa kecewa karena Anda kecewa. Namun demikian, kekecewaan masih dapat disembuhkan.

BEBERAPA HAL PENYEBAB KEKECEWAAN:

PERTAMA: Keletihan.

Orang-orang Yehuda berkata, “kekuatan para pengangkat sudah merosot.” Dengan kata lain, mereka sudah bekerja sangat lama dan lelah secara fisik. Mereka nyata-nyata sangat letih/kering secara fisik dan emosi.

Kapan keletihan dan kekecewaan dapat terjadi? “Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi.” (ay 6a) Tahukah Saudara, kapan Saudara paling cenderung menjadi kecewa? Bila Saudara mengerjakan proyek tidak sampai selesai. Semua orang bekerja keras pada awalnya “karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati.” (ay 6b) mengapa? Karena proyek itu adalah sesuatu yang baru. Awalnya itu menggairahkan, tetapi beberapa saat kemudian sesuatu yang baru itu mulai usang dan pekerjaan menjadi membosankan. Demikian halnya dengan kehidupan, mulai membosankan lalu menjadi rutinitas dan menjadi ritual.

Pernahkah Saudara mulai mendaki sebuah gunung dan berpikir “Hanya dibutuhkan waktu empat jam untuk dapat sampai ke puncak”. Tetapi, ketika baru separuh jalan saudara sudah menghabiskan waktu lima jam. Maka Saudara biasanya mulai berpikir “haruskah aku jalan terus”? belum lagi aku harus turun sejauh itu! Tiba-tiba Saudara berpikir, “mungkin memang kehendak Allah untuk aku kembali turun.”

Keletihan adalah penyebab nomor satu dari kekecewaan dan itu sering terjadi tepat di titik pertengahan. Itu sebabnya banyak orang gagal menyelesaikan apapun akibat dari keletihan.

KEDUA: Frustasi.

Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.” (ay 10). Mereka merasa kecewa dan frustasi. Apa itu puing? Mereka sedang membangun tembok yang baru, tetapi batu-batu tua yang hancur ada di mana-mana demikian juga dengan debu dan semen kering. Saat mereka melihat puing-puing dan reruntuhan, mereka menjadi kecil hati. Mereka kehilangan pandangan pada tujuan mereka karena begitu banyak sampah dalam hidup mereka sehingga mereka tidak tahu bangaimana mengurus kehidupan yang sesungguhnya.

Kapan pun Anda melakukan sebuah proyek sejumlah sampah akan terakumulasi dan itu dapat membuat rasa frustasi yang besar. Pernahkah Anda memperluas sebuah ruangan dan membangun sebuah gedung? Tiba-tiba Saudara memperhatikan tumpukan plester disegala sudut. Atau Anda mengecat sebuah ruangan, tetapi lebih banyak cat yang berceceran di mana-mana dari pada di atas tembok. Seolah-olah sampah itu dapat berlipat ganda.

Anda tidak dapat menghindari sampah dalam kehidupan, tetapi Anda dapat belajar mengenalinya dan Anda dapat belajar menanganinya sehingga Anda tidak menyerah dengan rencana Anda semula. Apakah yang menjadi sampah dalam kehidupan Anda? Hal itu adalah perkara-perkara sepele yang menghabiskan waktu dan menguras energi dan membuat Anda frustasi, yang merintangi Anda untuk menjadi seperti yang Tuhan inginkan dan merintangi Anda untuk melakukan hal-hal yang benar-benar paling penting dalam hidup Anda.

Sampah dalam kehidupan adalah perkara-perkara yang muncul di hadapan Anda untuk menghalangi mencapai sasaran Anda, itu yang perlu kita singkirkan dari hidup kita.

KETIGA: Kegagalan.

Bangsa ini tidak sanggup menyelesaikan tugas mereka secepat rencana semula dan akibatnya kepercayaan diri mereka morosot. Mereka patah semangat dan menjadi kecewa. Mereka berkata, “Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.” (ay 10b).

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda sudah mulai mengeluh dan berkata “Itu mustahil, aku tidak dapat menyelesaikannya”. Atau apakah Anda menyalahkan orang lain?

Perbedaan antara pemenang dan pecundang adalah, pemenang selalu memandang kegagalan sebagai suatu kemunduran yang bersifat sementara.

KE-EMPAT: Ketakutan.

Siapa yang menjadi kecewa? Mereka adalah “orang-orang Yahudi yang tinggal dekat” dengan musuh (ay 12). Lalu mereka membuat yang lain juga kecewa dengan berkata, “Mereka akan menyerang kita dari segala tempat tinggal mereka.”

Bila Anda cukup lama berada dekat orang yang negatif, lama-lama Anda pun akan terkena kenegatifannya. Jika kita terus-menerus mendengar orang berkata, “Itu tidak dapat dilakukan”, lambat laun kita akan mempercayainya juga.

Apakah Anda memiliki ketakutan-ketakutan yang mengecilkan hati sekarang ini? Ketakutan-ketakutan yang menghalangi Anda untuk berkembang dan bertumbuh? Apakah Anda takut dengan kritikan dan rasa malu? Apakah Anda takut mengambil sebuah langkah besar dan menerima pekerjaan baru? Ketakutan-ketakutan ini dapat mengecilkan hati Anda yang dapat membuat Anda kecewa. Jaga hati kita agar tidak tercemari hal negatif apa un. Amen!

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA HIDUP INI MENJADI KACAU? (Hakim-hakim 13-16)

BUKTI NYATA KITA MENGASIHI TUHAN YESUS