MENGALAMI KEDAMAIAN PIKIRAN DI TENGAH KRISIS (IBRANI 11:23-28)

 

Minggu, 23 Agustus 2020



Diakui atau tidak, realitanya kita hidup di dunia yang sangat tegang dan penuh ke-khawatiran, dan ini disebut sebagai jaman kegelisahan. Semua orang menghadapi situasi-situasi yang membuat mereka rentan dan tegang sehingga hal terebut merampok kedamaian pikiran mereka. Berdasarkan penelitian, penyebab utama dari serangan jantung dan tekanan darah tinggi adalah ketegangan dan stres.

Musa adalah manusia yang belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dasar kehidupan, dan sebagai hasilnya ia menjadi contoh utama sehubungan dengan bagaimana mengalami kedamaian pikiran. Ia mengambil keputusan-keputusan yang benar dan menetapkan apa yang penting dalam hidup, mampu hidup dengan dirinya sendiri dan memikiul tanggung jawab yang besar, namun demikian tetap tenang saat berada di bawah tekanan. Mungkin Musa adalah pria yang hidup dengan iman terbesar di Perjanjian Lama. Dalam Ibrani 11, tampak bahwa Musa mendapat ulasan yang lebih banyak dibanding dengan yang lain.

Di dalam seluruh Alkitab, hanya ada dua orang yang dinyatakan “lembut”, yaitu: Yesus dan Musa. “Lembut” bukan berarti lemah. Kelembutan adalah kepercayaan diri yang tenang, berasal dari ketentraman batin dan kedamaian pikiran. Musa memiliki itu, dan ia tahu bagaimana caranya berdamai dengan dirinya sendiri, bagaimana menikmati kedamaian pikiran. Bagaimana cara Musa menghadapi situasi-situasi sulit yang menggelisahkan sehingga ia mengalami kedamaian pikiran?

PERTAMA: MENGENALI SIAPA DIRINYA

Hal pertama yang Musa gumulkan adalah masalah identitas (ayat 24). Musa sebenarnya adalah orang Yahudi, tetapi putri Firaun membesarkannya sebagai orang Mesir. Semua orang berpikir bahwa ia adalah orang Mesir yang terhormat. Kira-kira empat puluh tahun kemudian, ia disiapkan untuk menjadi orang kedua di dalam kerajaan, jadi ia harus membuat sebuah pilihan. Musa memiliki segala kenyamanan yang dapat ia harapkan di istana tersebut, dan ia bisa menetap di sana. Tetapi ia memiliki krisis identitas, pertanyaan di dalam hatinya: “siapa aku ini? Aku orang Yahudi atau orang Mesir?”. Apakah aku akan hidup dengan sekelompok budak Yahudi, atau Aku hidup di sini dan tinggal dalam istana yang mewah? Apa yang akan aku lakukan? Ia mengambil keputusan yang tepat sekalipun ia harus tinggal di padang gurun bertahun-tahun tahun berikutnya. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda mengenali siapa diri Anda dan melakukan sesuatu sesuai identitas Anda itu?

KEDUA: MAU MENERIMA TANGGUNG JAWAB

Perkara lain yang dihadapi Musa, yaitu soal tanggung jawab pribadi. Alkitab berkata bahwa Musa memilih untuk disalah mengerti bersama dengan umat Allah daripada menikmati kesenangan dosa yang bersifat sementara di Istana Firaun (ayat 25). Musa menolak menjadi apa yang bukan dirinya yang sesungguhnya, kemudian memilih cara Allah.  Prinsipnya adalah, Anda selalu dapat menggantikan yang negatif dengan yang positif, dan Anda jangan sekadar berhenti melakukan sesuatu; tetapi Anda harus mulai melakukan yang lain. Perhatikan dalam ayat 24 dikatakan, “Musa mengambil keputusan setelah ia dewasa”. Itu adalah tanda dari kedewasaan, yaitu bila Anda sampai kepada perkara tanggung jawab pribadi. Ketika Musa  menjadi dewasa ia harus memutuskan siapa dirinya dan mengambil tanggung jawab pribadi dari keputusan itu.

KETIGA: MENENTUKAN PRIORITAS

Musa telah memilih untuk disalah mengerti bersama dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa (ayat 25). Ia menganggap pengorbanan untuk kepentingan Kristus sebagai nilai yang lebih besar daripada harta Mesir. Musa menghadapi “perkara prioritas”. Ia memutuskan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan. Dari sudut pandang manusia Musa memiliki segalanya. Ia memiliki kedudukan yang tinggi dan otoritas yang besar dan harta yang melimpah, namun Allah meminta Musa untuk melakukan sesuatu yang lebih penting, dan Musa pun melakukanya. Itu adalah perkara prioritas!

Banyak orang mengejar popularitas dan ingin selalu disukai dalam komunitas mereka, namun ada satu hal  yang mereka tidak sadari bahwa popularitas tidak selalu bertahan (tidak kekal). Anda bisa saja menjadi orang penting dan terkenal di tempat di mana Anda bekerja. Tapi setelah beberapa tahun kemudian, apalagi setelah Anda pensiun, sangat mungkin orang-orang yang ada di situ tidak satu pun yang mengenal Anda. Bagaimana dengan Anda, apa yang menjadi prioritas Anda? Memuaskan kesenangan Anda atau melakukan kehendak Allah?

KEEMPAT: MAU MENGHADAPI KESULITAN

Hal terakhir yang ditampilkan Musa ialah kesediaan dan ketekunannya menghadapi kesulitan. Jika Anda ingin menyimpulkan kehidupan Musa, anda dapat merangkainya dengan dua kata, yaitu “ia Bertahan” (ayat 27). Adalah fakta kehidupan bahwa tidak ada hasil tanpa rasa sakit, tidak ada keuntungan tanpa penderitaan, tidak ada kemajuan tanpa rintangan dan masalah. Jika Anda mau menjadi seorang yang tahan, ulet dan kuat, belajarlah bagaimana berhubungan dengan kesulitan-kesulitan.

Musa memiliki kedamaian pikiran menghadapi situasi-situasi sulit karena ia memutuskan bersedia menghadapi kesulitan tersebut. Seandainya Musa tidak bersedia, maka cerita Alkitab akan berbeda. Disadari atau tidak, terkadang yang membuat hati dan perasaan Anda terintimidasi karena Anda tidak siap berhubungan dan menghadapi situasi sulit tersebut. Mari kita belajar kepada Musa, di tengah situasi sulit pun hati dan pikirannya tetap damai sehingga Alkitab menyebutnya manusia yang lembut. Itulah rahasia kemenangan hati musa menghadapi situasinya. Anda pun bisa damai dan tenang jika Anda bersiap menghadapinya. Tuhan Yesus Memberkati!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA HIDUP INI MENJADI KACAU? (Hakim-hakim 13-16)

BUKTI NYATA KITA MENGASIHI TUHAN YESUS