CARA TERBAIK MENANGANI PERSOALAN-PERSOALAN HIDUP (2 Tawarikh 20:1-4)
Minggu, 30 Agustus 2020
Kisah terbaik Yosafat ini menggambarkan tentang peperangan-peperangan yang dahsyat dalam kehidupan bangsa Israel. Tentu hal itu masih relevan dengan kita karena setiap hari kita menghadapi peperangan: peperangan keuangan, peperangan rohani, peperangan pekerjaan, dan segala macam peperangan lainnya dalam hidup kita setiap hari. Allah menempatkan kisah Yosafat dalam Alkitab dalam rangka menggambarkan beberapa prinsip rohani yang penting untuk memenangkan peperangan kehidupan.
Yosafat raja Israel, menerima pesan dari seorang teman bahwa tiga bangsa
akan datang menyerangnya untuk mengalahkannya. Perbandingannya tidak terlalu
bagus karena itu adalah tiga bangsa melawan satu bangsa, yaitu Israel. Penulis
kitab Tawarikh menyatakan bahwa ketiga bangsa ini adalah Moab, Amon, dan Meunim
(2 Tawarikh 20:1).
PERTAMA: KENALI MUSUSH
“Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang
melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim.” (2 Chr. 20:1)
Ayat 1 perikop ini menunjukkan kepada kita prinsip pertama mengalahkan peperangan
kehidupan, yaitu “kenali musuh”. Tampaknya ini prinsip yang sederhana tetapi
sebenarnya tidak. Banyak orang tidak mengetahui siapa musuh mereka. Sering kali
orang berpikir bahwa musuh mereka ialah orang-orang di sekeliling mereka yang
berusaha merebut pekerjaan mereka. Mereka sangat jarang menyadari bahwa musuh
mereka yang sesungguhnya itu adalah sikap mereka sendiri. Sebenarnya situasi
tidak terlalu kuat untuk menjatuhkan mereka, tetapi respon terhadap situasi
itulah yang sering membuat mereka tidak mengalami kemenangan.
Perhatikan reaksi Yosafat (ayat 3), saat ia mendengar ada tiga bangsa
datang menyerang mereka, ia merasa takut. Itu adalah reaksi yang umum terjadi
kepada kita semua. Ketika kita melihat sebuah persoalan kita berkata, “apa yang
akan terjadi padaku? Dan kita mulai merasa takut!” itu adalah reaksi alamiah
terhadap masalah. Namun akan menjadi masalah waktu kita menanggapinya dengan
cara yang salah. Jika kita memakai ketakutan untuk memotivasi untuk mengalahkan
persoalan, itu baik. Tetapi jika kita menjadi kecil hati dan menyerah, atau
marah kepada Tuhan dan berkata: “Mengapa hal ini terjadi?...” Maka sesungguhnya
rasa takut telah mengalahkan kita.
KEDUA: BAWA
PERSOALAN/MASALAH ITU KEPADA TUHAN
Yosafat menjadi takut karena menghadapi sebuah situasi yang jelas tidak ada
pengharapan. Apa yang Yosafat lakukan? Ia memaklumkan puasa dan menyuruh
rakyatnya bersama-sama mencari pertolongan dari Tuhan (ayat 3-4).
“Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk
mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda
berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua
kota di Yehuda untuk mencari TUHAN.” (2 Tawarikh 20:3-4)
Yosafat menjadi takut
lalu ia berdoa minta petunjuk dari TUHAN. Kemudian ia memerintahkan supaya
seluruh rakyat berpuasa. (2 Tawarikh 20:3)
Orang-orang datang dari setiap kota di Yehuda untuk mencari dan meminta petunjuk atau
tuntunan Tuhan. Prinsip kedua
dalam memenangkan peperangan kehidupan adalah membawa persoalan Anda kepada
Tuhan. Doa harus menjadi senjata pertama yang Anda gunakan kapan pun Anda
menghadapi pertempuran kehidupan, dan bukan senjata penghabisan.
Yosafat berdoa demikian, “Allah, aku tahu Engkau telah menolongku di masa
lalu. Aku tahu Engkau dapat menolongku di masa mendatang. Jadi, tolonglah aku
sekarang”. Ia melanjutkan, “tolong hakimi musuh-musuh kami, karena kami tidak
mempunyai kekuatan untuk menghadapi musuh yang besar yang sedang menyerang
kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju
kepada-Mu” (ayat 6-12. NIV).
Tindakan Yosafat adalah tindakan yang sangat bijaksana danlayak diteladani.
Ketika dia menghadapi peperangan hidupnya, dia memutuskan untuk mencari dan
meminta petunjuk Tuhan. Ia tidak menjadikan doa sebagai langkah cadangan karena
tidak mendapatkan solusi atas persoalannya. Kecenderungan hati manusia saat
menghadapi masalah hidupnya ialah, mencari pertolongan ke sana – ke mari,
setelah mentok baru berpikir cari Tuhan. Tentu sikap ini bukan sikap terpelajar
bagi orang percaya. Yang paling tepat dan baik adalah “cari Tuhan”.
KETIGA: AKUI
KETIDAKMAMPUAN KITA
Prinsip ketiga dalam memenangkan pertampuran kehidupan adalah, mengakui
ketidakmampuan kita. Anda perlu berkata, “Tuhan, aku punya masalah, dan aku
butuh pertolongan-Mu”, maka DIA akan menolong Anda! Hanya ada satu jenis orang
yang tidak ditolong oleh Allah, dan itu adalah orang yang merasa mampu dan tidak
membutuhkan pertolongan Tuhan. Tetapi selama Anda mau berkata, “Tuhan aku punya
masalah; aku membutuhkan pertolongan, aku mengakui ketidakmampuanku,” maka Dia
dapat mengurus masalah tersebut karena Anda memberikan ruang kepada-Nya. Namun
ketika Anda merasa mampu dan sanggup mengurus masalah Anda seorang diri, maka
Dia tidak akan dapat mengintervensi masalah Anda.
Kehidupan Kristen adalah kehidupan adikodrati, dan kita membutuhkan kuasa
Allah untuk menjalaninya. Kita tidak dapat menjalaninya dengan kekuatan sendiri
karena kekuatan kita terbatas. Kita menjalani kehidupan Kristen “bukan dengan
keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh Tuhan” (Zakaria 4:6).
Maka berbicaralah ia, katanya: "Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel
bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan
roh-Ku, firman TUHAN semesta alam. (Zakharia. 4:6)
Kita perlu membiarkan Roh Allah hidup di dalam kita dan bekerja melalui
kita supaya kita dapat menyaksikan dan mengalami pertolongan kuasa-Nya yang
memberikan kemenangan. Setiap kita memiliki kesempatan yang sama mengalami
kemengan dari Tuhan. Haleluya!

Komentar
Posting Komentar