BAGAIMANA BANGKIT DARI SEBUAH KEGAGALAN (Lukas 5:1-11)
Minggu, 16 Agustus 2020
Sebuah kegagalan yang kita alami dapat menjadi batu
loncatan menuju sebuah keberhasilan apabila kita mau belajar dari kegagalan itu
sendiri.
Seperti halnya sebuah peristiwa dalam kehidupan Simon
yang disebut Petrus yang kita baca dalam Lukas 5:1-11, menggambarkan suatu
peristiwa dimana ketika sepanjang malam Simon dan teman-temannya berusaha
menjala ikan tetapi tidak mendapatkan apa-apa.
Mungkin ini tidak biasa, karena Simon adalah seorang
nelayan profesional.Namun sepanjang malam mereka tidak mendapatkan apa-apa. Di sini
jelas menggambarkan bahwa sehebat apapun seseorang pasti dia pernah mengalami
kegagalan dan kebuntuan dalam perjalanan hidupnya.
Ada banyak kali kita menganggap apa yang kita lakukan
sudah benar, sudah yang terbaik tanpa bertanya kepada Tuhan apakah itu sesuai
dengan kehendak Tuhan atau tidak. Itu sebabnya kadang kita sudah merasa
berusaha keras untuk mencapai tujuan/keinginan kita namun hasilnya jauh dari memuaskan
bahkan kurang. Segala usaha yang kita lakukan bukannya tidak baik, namun yang
menjadikan usaha itu sepertinya tidak ada hasil apa-apa adalah karena kita
tidak melibatkan Tuhan di dalamnya akhirnya banyak kegagalan bahkan banyak
orang hampir-hampir menyerah dan undur karenanya.
Apa prinsip keberhasilan yang Yesus ajarkan kepada
kita agar kita dapat bangkit dari kegagalan?
1.
Hadirkan
hadirat Allah dalam hidup kita.
Lukas 5:3 “Yesus naik ke dalam perahu Simon”.
Kehadiran Yesus membawa pengaruh yang besar dan menghasilkan perbedaan yang
besar juga.
Jika yang pertama Simon menjala sendiri tanpa
hasil apa-apa tapi yang kedua Simon menjala bersama Tuhan Yesus dan hasilnya
diluar dugaan, alkitab mencatat bahwa jala mereka sampai hampir/mulai koyak
karena hasil tangkapan mereka yang sangat banyak.
Prinsip pertama agar kita bangkit dari
kegagalan kita adalah kita harus mengkhususkan hadirat Allah dalam hidup kita.
Dengan kata lain, saudara harus/bersedia mengundang Yesus masuk ke dalam perahu
saudara.
Simon menyerahkan perahunya untuk digunakan
Yesus untuk mengajar orang banyak. Yesus menggunakan bisnis/pekerjaan Simon
sebagai mimbar pelayanannya.
Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita
adalah, apakah kita siap apabila Tuhan mau menggunakan perahu-perahu kita untuk
digunakan sebagai alat pelayanan-Nya? Bersediakah kita menyerahkan sepenuhnya
kepada Tuhan sehingga kita mengalami mujizat seperti yang Tuhan kerjakan dalam
kehidupan Simon?
2.
Bekerja
sama dengan rencana Allah.
Lukas 5:4, prinsip kedua agar kita dapat
bangkit dari kegagalan adalah bekerja sama dengan Allah. Pertama kali Simon dan
teman-temannya menjala, mereka menjala dengan hikmat dan kekuatan mereka
sendiri, tapi kali kedua mereka menjala, mereka menjala dibawah arahan Yesus
dengan taat walaupun mungkin bagi mereka perintah Yesus itu sangat mustahil.
Setelah Yesus selesai mengajar, (ayat 4
dikatakan ) berkatalah Ia kepada Simon : “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan
tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Tapi Simon menjawab “Guru, telah
sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi
karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” (ayat 5).
(ayat 6) dan setelah mereka melakukannya,
mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.
Perhatikan kalimat yang berkata “tetapi
karena Engkau yang menyuruhnya”.
Simon mengalami mujizat Tuhan ketika ia taat
kepada perintah Tuhan. karena Tuhan Yesus tidak pernah melakukan mujizat tanpa
tujuan. Dia selalu memakai mujizat-Nya untuk menggambarkan suatu prinsip hidup
yang benar di dalam Tuhan. Salah satunya adalah “ketaatan’.
Ketaatan akan perintah Tuhan menjadikan
mujizat-Nya dinyatakan dalam hidup kita. Bukankah Tuhan selalu mengerjakan
hal-hal yang mustahil dalam hidup kita?
Yesus memberitahukan Simon dan teman-temannya
kemana atau kearah mana mereka harus menebarkan jala mereka (tempat yang lebih
dalam). Mereka bergeser tidak begitu jauh dari pantai sebab ketika jala mereka
hampir koyak mereka meminta pertolongan perahu lain untuk membantu mereka
mengisi ikan dan dikatakan perahu lain itupun penuh dengan ikan bahkan hampir
tenggelam. Yesus tidak mensponsori kegagalan namun Ia memberikan
keberhasilan-keberhasilan.
3.
Harapkanlah
Allah untuk bertindak
Lukas 5:5 berkata “Karena Engkau menyuruhnya,
aku akan menebarkan jala juga.” Prinsip ketiga agar kita dapat bangkit dari
kegagalan adalah harapkan/biarkan Allah yang bertindak.
Pada penjalaan yang kedua, Simon dan
teman-temannya bertindak berdasarkan perintah dari Tuhan. Tuhan yang menyuruh
mereka untuk menebarkan jala ke tempat yang lebih dalam. Tuhan Yesus cukup
berkata bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap
ikan (ayat 4), itu artinya ketika Yesus meminta kita mengerjakan sesuatu hal
yang mungkin sangat mustahil bagi kita Dia juga bertanggung jawab untuk
menyediakan apa yang kita perlukan dan hasilnya tidak akan sia-sia. Untuk
bangkit dari kegagalan kita perlu memiliki iman bahwa Allah sanggup bertindak
dalam kehidupan kita, hilangkan keraguan, ketakutan bahkan ketidakpercayaan
saudara akan kesanggupan Tuhan. Mungkin bagimu itu mustahil tapi bagi Allah
tidak ada yang tidak mungkin. Tuhan Yesus memberkati.
(by: Pdm. Luciana HS)

Komentar
Posting Komentar