TAAT MENGIKUTI TUNTUNAN TUHAN (1 Samuel 16:1)


Minggu, 21 Juni 2020

Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku." (1 Sam. 16:1)
Samuel mengalami duka cita yang berkepanjangan karena Saul ditolak Tuhan, dan hampir membuat dia stagnasi dalam gairah melayani sehingga Tuhan menegur dia dan berkata, “Berapa lama lagi kamu berdukacita karena Saul? Aku telah menolak dia sebagai raja atas Israel, isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah”.
Dalam Perjanjian Lama, minyak melambangkan Roh Kudus. Ketika mereka mengurapi para imam dan raja dengan minyak, kuasa Roh kudus turun ke atas mereka dan memberi mereka kekuatan untuk dipakai Allah. Jadi pada dasarnya, Tuhan sedang memberitahu  Samuel untuk berhenti berduka atas Saul. Tuhan mau katakan, “Lupakan hal-hal yang telah lalu dan pandanglah ke depan, pada apa yang ada selanjutnya! Jadilah penuh Roh Kudus dan lakukan apa yang Aku beritahu untuk kau lakukan.” Apa yang Tuhan suruh Samuel lakukan? “Mengurapi anak Isai menjadi raja Israel”. Tuhan tidak mau Samuel larut dalam kesedihan karena pembrontakan Saul, Dia mau Samuel terus maju dan bergerak di dalam rencana dan tuntunan-Nya. Samuelpun mentaatinya!
BERIKUT  KITA MELIHAT CIRI ORANG YANG TAAT TERHADAP TUNTUNAN TUHAN:
1.    TAAT TERHADAP TUNTUNAN TUHAN DAN TIDAK DIKENDALIKAN PERASAAN
Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya." Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Sam. 16:6-7)
Samuel hampir saja terperangkap oleh perasaan dan logikanya ketika Isai menyuruh ketujuh anaknya tampil di hadapan Samuel. Eliab adalah kakak sulung Daud atau anak tertua/putra sulung Isai. Ia paling besar, paling kuat, dan mungkin juga paling bengis dan keras sehingga waktu Samuel memandangnya, dia teringat kepada Saul yang dipilih Tuhan menjadi raja Israel di bawah pengurapan Samuel. Alkitab berkata, Saul jauh lebih tinggi dari orang lain di Israel. Ia juga putra sulung dari ayahnya dan merupakan orang pertama yang dipilih Tuhan menjadi raja atas Israel. Begitu Samuel melihat Eliab yang memiliki kemiripan kriteria fisik dengan Saul, dia langsung berpikir, inilah orang yang dipilih Tuhan menjadi raja Israel menggantikan Saul. Namun apakah benar demikian, tidak!
Sebelum Samuel larut dalam perasaan dan logikanya, Tuhan langsung berbicara kepadanya, "...Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
Mendengar pernyataan itu, Samuel langsung mengurungkan niatnya untuk mengurapi Eliab dan menyuruh Isai memperkenalkan anaknya satu per satu sampai anak yang ketujuh yang dibawa ketempat pertemuan tersebut. Hasilnya nihil, karena tidak satupun dari ketujuh anak tersebut yang dipilih Tuhan menjadi raja Israel.
Seketika Samuel terdiam dan tertegun, atau bisa jadi kebingungan karena tidak satupun dari anak-anak Isai yang telah memperkenalkan diri terpilih menjadi kandidat raja baru bagi Israel. Di sini kepekaan dan ketaatan Samuel terhadap tuntunan Tuhan diuji, apakah dia hanya berpatokan dengan apa yang dia lihat atau dia mempercayai Tuhan yang menyuruhnya pergi ke rumah Isai untuk mengurapi salah satu dari anak Isai menjadi raja atas Israel. Jauh di lubuk hatinya dia percaya bahwa Tuhan tidak salah berfirman atau tidak salah memberikan instruksi. Tapi realita yang dihadapi sungguh berbeda. Dengan keyakinan terhadap Tuhan bahwa Tuhan tidak mungkin salah menuntunnya ke rumah Isai, akhirnya dia pun memberanikan diri bertanya kepada Isai, "…Inikah anakmu semuanya?"  (ayat 11), jawab Isai, “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari." (1 Sam. 16:11)
Waktu Samuel mendengar jawaban Isai, dia langsung mengetahui bahwa itulah orangnya calon pemimpin di Israel, sekalipun Samuel belum melihat Daud. Akhirnya benar, ketika Daud tiba di ruang pertemuan tersebut, Tuhan berbicara kepada Samuel, "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia." (1 Sam. 16:12). Perhatikan, orang yang taat terhadap tuntunan Tuhan akan selalu mengerjakan hal yang tepat dan mendapat orang-orang yang tepat di hati Tuhan. Bagaimana dengan Anda?...
2.    TIDAK MUDAH BERBURUK SANGKA (MEMILIKI RESPON POSITIF)
Sekalipun Alkitab tidak mencatat secara eksplisit namun kita dapat mempercayainya, bahwa waktu Samuel hendak bertemu dengan keluarga Isai, Samuel memberitahukan tujuan pertemuan tersebut yaitu untuk memilih dan mengurapi salah satu dari anak-anak Isai menjadi pemimpin atas Israel. Artinya, Isai mengetahui rencana tersebut, itu sebabnya Alkitab mencatat anak-anak Isai dikuduskan oleh Samuel (ayat 5c). “…Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.” (1 Sam. 16:5c)
Sebenarnya Isai mempunyai anak laki-laki 8 orang, namun yang hadir di upacara tersebut hanya 7 orang, yang satu orang ke mana? menggembalakan kambing domba di padang. Nalar cerdas mengkonfirmasi bahwa Isai secara sengaja tidak mengikutsertakan anak bungsunya pada kontes balon pemimpin tersebut. Apakah Daud mengetahui rencana itu, sangat mungkin! Sebab pada waktu Isai memberitahu anak-anaknya supaya mempersiapkan diri mengikuti upacara tersebut, Daud pasti ada di sana. Tapi Isai memilih untuk tidak mengikutsertakan Daud dengan alasan supaya ada  yang menggembalakan Kambing-Domba di padang.
Melihat sikap bapaknya yang tidak mengikutsertakan dirinya dalam kontes bersejarah tersebut, apakah Daud marah, uring-uringan, ngambek dan membenci saudara-saudaranya? Tidak! Alkitab tidak mencatat sedikit pun reaksi negatif Daud karena peristiwa tersebut. Ia tetap setia pergi ke padang dengan senang hati seperti hari-hari biasanya. Luar biasa! Bagaimana dengan kita, ketika kita diperlakukan seolah-olah tidak masuk hitungan, seperti apa reaksi Anda? Daud memiliki respon yang positif!  
3.    BERSUNGGUH HATI TERHADAP TUHAN
“Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” (2 Tawarikh 16:9a)
Kata “bersungguh hati” dalam ayat ini bukan berarti tidak pernah lagi salah, sudah bebas dari masalah, atau tidak pernah lagi jatuh dalam dosa, bukan. Tapi kesungguhan hati dalam hal ini ialah, orang yang hatinya berkomitmen sepenuhnya, orang yang mencari Allah dengan segenap hati dan memberikan hati sepenuhnya dimiliki Allah.
Waktu Daud mengetahui dirinya tidak diberi kesempatan untuk maju dan mencoba, hatinya tetap tenang dan tidak bereaksi negatif. Dia tetap bekerja dengan antusias, hatinya tetap bersyukur kepada Tuhan, dia tetap mengasihi Tuhan, dia tetap memuji Tuhan, hatinya tetap bermazmur dan memuliakan Tuhan, sehingga dia berkata dalam salah satu Mazmurnya, “Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku. Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu. (Ps. 26:2-3 ITB)
Sebagai akibat dari kesungguhan hati ini, Daud dipilih dan dipromosikan Tuhan menjadi orang nomor 1 di Israel. Dari segi fisik dalam pemandangan manusia, Daud bukanlah orang yang tepat menjadi raja, tapi Tuhan melihat kesungguhan hatinya yang membuat Tuhan menjatuhkan pilihan terhadap dirinya. Tuhan melewatkan semua manusia di muka bumi termasuk ketujuh kakak Daud, hanya untuk menjatuhkan pilihan kepada Daud. Haleluya! Bagaimana dengan hati Anda, apakah hati Anda masih bersungguh-sungguh dengan Tuhan?




Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA HIDUP INI MENJADI KACAU? (Hakim-hakim 13-16)

BUKTI NYATA KITA MENGASIHI TUHAN YESUS