KETAATAN YANG BENAR (1 Samuel 15:1-3)


Minggu, 14 Juni 2020


Ini adalah amanat Tuhan melalui Samuel kepada Saul. Orang Amalek telah keluar dan bertempur melawan orang Israel ketika mereka dalam perjalanan keluar dari Mesir (Kel. 17:8-14). Karena sekarang Israel telah menjadi sebuah kerajaan dan memiliki seorang raja, Allah ingin membalaskan perbuatan orang Amalek tersebut.
Hal ini mungkin terdengar agak keras bagi Anda karena sebenarnya, membalas dendam bukanlah perilaku Perjanjian Baru yang berkenan karena Yesus telah datang, dan Ia telah membuat suatu perbedaan besar.
Dalam Perjanjian Lama, berbagai kelompok orang yang telah menyerahkan diri mereka pada penyembahan berhala dan imoralitas bagaikan kanker dalam tubuh manusia. Jika dibiarkan tanpa pencegahan, penyakit tersebut akan menyebar cepat ke seluruh tubuh. Meskipun mengamputasi tangan, lengan, atau kaki seseorang sungguh mengerikan, kehilangan anggota tubuh jauh lebih baik daripada kehilangan nyawa. Terkadang Anda harus memotong bagian yang sakit untuk menyelamatkan seluruh tubuh. Inilah yang tepatnya diperintahkan Allah dalam kasih dan belas kasihan-Nya untuk dilakukan orang Israel. Dengan benar-benar memusnahkan para pria, wanita, anak-anak dan binatang, mereka sedang memotong kanker yang mengancam akan membunuh seluruh umat manusia sebelum Yesus datang dan bisa mengalami kelahiran baru.
Pada zaman PL ada masyarakat yang seluruhnya menyerahkan diri pada iblis sehingga mereka kerasukan setan (bnd. Sodom dan Gumora). Para pria, wanita, anak-anak, dan bahkan binatang mereka kerasukan setan. Banyak bukti arkeologi, patung-patung, tulisan, dan semacamnya yang meneguhkan ini sebagai bukti.
Dosa masyarakat ini sangat besar bahkan melampaui yang bisa dibanyangkan dalam masyarakat kita hari ini. Orang-orang ini melakukan persetubuhan dengan binatang, sodomi, pengorbanan anak kepada dewa dan segala hal semacam ini dalam skala besar, sampai mereka tidak bisa disembuhkan kecuali dengan ditumpas karena tidak ada penyembuhan bagi orang-orang ini ssebelum Yesus datang.
Jadi, meskipun perintah yang diberikan pada Saul merupakan suatu tindakan penghakiman terhadap orang-orang tertentu, itu juga merupakan tindakan belas kasihan terhadap dunia, karena tindakan-tindakan Israel dimaksudkan untuk benar-benar memotong kanker ini dan memusnahkannya.
Seperti apa ketaatan yang baik dan benar itu?
Pertama: Menjalankan Tugas dan Tanggungjawab dengan Benar (ayat 1-3, 27-29).
Saul diperintahkan untuk memusnahkan seluruh orang Amalek. Pria, wanita, dan binatang, tetapi ia tidak melakukannya. Ia menyelamatkan rajanya dan membawanya kembali dengan domba, lembu, dan hewan ternak yang terbaik. Ketika Samuel tiba, Saul mengklaim bahwa ia telah melakukan kehendak Allah (1 Samuel 15:13). Tetapi Samuel bertanya:
“Tetapi kata Samuel: "Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?" (1 Sam. 15:14)
Dengan kata lain, Samuel bertanya, “Jika engkau telah benar-benar melakukan kehendak Allah, mengapa saya mendengar suara binatang-binatang ini? Engkau diperintahkan untuk memusnahkan semuanya para pria, wanita, anak-anak, dan binatang! Jawab Saul, “Semuanya itu dibawa dari orang Amalek.” (1 Samuel 15:15)
Tuhan benar-benar menyuruh Saul membunuh dan membinasakan semua orang dan binatang di sana, ketika ia berperang melawan mereka. Namun sebaliknya, ia malah memutuskan untuk membawa mereka dan mempersembahkan mereka sebagai korban di hadapan Allah, sementara bukan hal itu yang Tuhan perintahkan untuk dilakukan. (bnd. 1 Sam. 15:22)
“Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (1 Sam. 15:22)
Anda tidak bisa membuat perjanjian dengan Allah dan berkata, “Tuhan, aku tahu Engkau ingin aku memberikan uang ini sekarang juga, tapi aku membutuhkannya. Ada sesuatu yang benar-benar ingin saya beli, dan saya ingin memberitahu-Mu. Saya hanya akan membawa uang ini dan mendapatkan apa yang kuinginkan sekarang, kemudian saya akan menjadikannya dua kali lipat dan memberikan itu kepada-Mu nanti.” Tidak. Itu tidak menyenangkan Tuhan. Ia ingin Anda mentaati-Ny dan melakukan apa yang Ia suruh ketika Ia menyuruh Anda melakukannya (bnd. Ayat 22 KJV).
Ketika Allah menyuruh Anda melakukan sesuatu, itu tidak untuk dinegosiasikan. Anda tidak perlu “menafsirkan” perintah-Nya. Anda hanya perlu melakukan apa yang Allah ingin Anda lakukan.
Kedua: Bertanggungjawab atas Kesalahan yang Diklakukan (Mengambil Tanggungjawab dan Tidak Menyalahkan Orang Lain) (ayat 15-17)
15 Jawab Saul: "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan  kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas."
 16 Lalu berkatalah Samuel kepada Saul: "Sudahlah! Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang difirmankan TUHAN kepadaku tadi malam." Kata Saul kepadanya: "Katakanlah."
 17 Sesudah itu berkatalah Samuel: "Bukankah engkau, walaupun engkau kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas suku-suku Israel? Dan bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas Israel? (1 Sam. 15:15-17)
Saul menyalahkan orang lain dan berkata, “Orang-orang yang membuat saya melakukan ini!”.
Pada peristiwa peperangan melawan orang Flistin, di mana Saul tidak sabar menunggu kehadiran Samuel untuk mempersembahkan korban, Saul juga menjadikan orang lain sebagai penyebab terjadi ketidaktaatan tersebut (1 Samuel 13: 11-12). Artinya, bahwa Saul ini adalah ciri-ciri orang yang tidak bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Dia hampir selalu mengkambinghitamkan orang lain demi membenarkan diri sendiri. Itu adalah sikap yang tidak baik dan tidak disukai oleh Tuhan. Saat itulah Samuel berkata, “engkau menjadi orang yang sombong sehingga Allah menolakmu”. Tuhan menilai sikap ini sebagai kecongkakan dan kesombongan.
Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. (Amsal 16:18)
"Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (1 Pet. 5:5b)
Mengaku dosa dan menyelesaikannya di hadapan Tuhan jauh lebih baik dari pada melempar tanggung jawab kepada orang lain.
Ketiga: Menjalankan Perintah Dengan Rendah Hati.
Artinya, menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan tulus dan pengabdian.
Daud semasa pemerintahannya beberapa kali melakukan kesalahan di hadapan Tuhan namun dia tidak pernah melemparkan kesalahan tersebut kepada orang lain. Dia selalu mengambil tanggungjawab dan berani mengambil resiko akibat pelanggaran tersebut.
Pada waktu Daud melakukan kesalahan dengan menghitung rakyatnya, Tuhan jadi sangat marah dan membinasakan 70.000 orang dari bangsa Israel akibat kesalahan tersebut, Daud dengan kerendahan hati bersujud dengan muka sampai ke tanah dan berseru kepada Tuhan:
"...Sesungguhnya, aku telah berdosa, dan aku telah membuat kesalahan, tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan mereka? Biarlah kiranya tangan-Mu menimpa aku dan kaum keluargaku." (2 Sam. 24:17b).
Ketika Anda melakukan kesalahan, apakah Anda menyalahkan orang lain? Apakah Anda tipe orang yang tidak mau menerima kenyataan bahwa Anda memang salah?
Untuk berjalan dengan Allah kita harus menjadi orang yang rendah hati, dan inilah salah satu karakter yang bisa kita pelajari dari Daud.
Kerendahan hati tidak berarti Anda harus melakukan segala sesuatu dengan sempurna tanpa salah, tapi kerendahan hati berarti Anda memiliki kepekaan terhadap Allah dan rencana-Nya kemudian bersedia melakukannya dengan ketaatan. Jadilah orang yang taat dan rendah hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA HIDUP INI MENJADI KACAU? (Hakim-hakim 13-16)

BUKTI NYATA KITA MENGASIHI TUHAN YESUS