KETAATAN KEPADA TUHAN MENDATANGKAN KEMENANGAN (1 Samuel 17:48-50)
Minggu, 28 Juni 2020
Di dalam ketaatan yang benar kepada Tuhan,
seseorang tidak hanya sekedar menunjukkan rasa hormatnya kepada Tuhan, tidak
sekedar mengambil tanggung jawab dan mengerjakannya dengan rendah hati. Tapi
ketaatan kepada Tuhan akan mendatangkan kemenangan-kemenangan di dalam
hidupnya.
BAGAIMANA KETAATAN BISA MENDATANGKAN KEMENANGAN?
PERTAMA: KETIKA SESEORANG BERANI BERBEDA DARI YANG LAIN (RATA-RATA)
Daud memiliki sikap yang sama sekali berbeda dari
prajurit-prajurit Israel yang sedang berada di medan perang pada waktu itu.
Daud benar-benar mengekspresikan sikap yang berkebalikan dari semua pasukan
Israel. Dia berkata:
“Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya:
"Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin
itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak
bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang
hidup?" (1 Samuel. 17:26)
Apa yang membuat Daud mampu melawan dan membunuh
raksasa tersebut sehingga membawa pembebasan bagi bangsa Israel, ia tidak lebih
besar atau lebih kuat dari yang lainnya, namun yang membuat dia mampu
mengalahkan raksasa Flitin itu ialah sikap hatinya yang berbeda dari semua
pasukan Israel, termasuk Saul. Hatinya peka terhadap Allah, oleh karena itu ia
tidak takut dan tidak melihat berbagai hal seperti orang lain melihatnya. Pada
umumnya semua pasukan Israel melihat penampilan luar Goliat yang membuat mereka
diliputi rasa takut, tapi Daud melihatnya dari sudut pandang perjanjian Allah.
Ketika Daud menggunakan istilah “orang Flistin
yang tak bersunat,” ia sedang mengatakan bahwa Goliat tidak memiliki perjanjian
dengan Allah. “Sunat” adalah tanda perjanjian yang Allah telah buat dengan
bangsa Israel. Jadi, sebenarnya Daud sedang bermaksud mengatakan, “Kita lebih
hebat. Mengapa kita membiarkan seseorang, yang bahkan tidak memiliki Allah di
pihak mereka mengintimidasi kita?” Sikap Daud tersebut berasal dari perjanjian,
firman, dan janji-janji Allah.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda ingin berbeda
dari semua orang yang ketakutan hari-hari ini? Mereka selalu mengeluh
menceritakan ketakutan-ketakutan dan kekhawatirannya yang mungkin saja tidak
sehebat yang dibicarakan. Apakah Anda ingin keluar dan membuat sebuah
perbedaan? Belajarlah kepada Daud yang tidak membiarkan situasi menguasai
hatinya. Hati Daud dikuasai oleh apa yang difirmankan Tuhan bukan oleh apa yang
dikatakan Goliat. Itulah salah satu kunci kemenangan Daud dalam ketaatannya
kepada Tuhan!
KEDUA: KETIKA
SESEORANG MAMPU
MELEWATI KRITIKAN DAN PUJIAN
Jika Anda ingin menjadi pembunuh raksasa, Anda
harus bisa melewati kritikan. Jika Anda ingin mulai mengatasi berbagai masalah
dan membawa kelepasan bagi diri Anda sendiri dan orang lain, Anda harus sampai
pada posisi di mana Anda tidak tipis telinga atau tidak seorang sumbu pendek.
Daud menghadapi dan melewati kritikan ini.
“Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada
orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata:
"Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang
dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan
hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran." (1
Samuel 17:28)
Ketia Eliab (kakak Daud) mendengar perkataan Daud,
ia mencemooh Daud dan berkata, “Kau tidak bertanggung jawab, kau meninggalkan
beberapa kambing domba itu sendirian di padang belantara, bla, bla, bla...dst.
Jika Anda ingin menjadi seorang pembunuh raksasa,
Anda harus memiliki sikap yang berbeda dengan orang-orang yang hidup rata-rata
(biasa-biasa saja). Anda perlu mengetahui bahwa kritikan akan menghampiri Anda.
Mereka akan menghampiri dan akan mengolok-olok Anda. Mereka akan berusaha
mengkritik, menyerang dan membunuh visi Anda, dan itu bisa terjadi setiap waktu
dan bahkan dari orang-orang terdekat kita.
Kritikan pertama datang kepada Daud tidak berasal
dari orang lain melainkan dari kakak kandungnya sendiri yaitu Eliab. Alkitab
tidak terlalu menjelaskan indikasi kritikan Eliab kepada Daud, tapi tafsiran
bebas mengindikasikan karena iri dan cemburu.
Alkitab mencatat, ketika Daud diurapi menjadi
raja, Eliab kakak Daud ada dan menyaksikannya di sana (1 Samuel 16:13). Jika
Anda ingat, Eliab adalah orang pertama yang dilihat Samuel dan ditolak (1
Samuel 16:16). Eliab mendengar ketika Samuel berkata bahwa dirinya dan ke-enam
adiknya tidak dipilih Tuhan menjadi raja di Israel. Kemudian dia juga mendengar
instruksi Samuel kepada ayahnya Isai untuk memanggil Daud dari padang
penggembalaan. Eliab juga ada di barisan orang-orang yang berdiri menunggu
kehadiran Daud dari padang penggembalaan. Jadi, sejak saat itu Eliab sudah
mengetahui bahwa Daudlah orang yang akan menjadi raja Israel kelak. Mungkin
inilah yang memicu kritikan dan kemarahan Eliab terhadap Daud ketika Daud tiba
di medan perang. Namun Daud bisa mengatasi dan melewati kritikan tersebut, dia
tidak menanggapinya dengan debat, tapi dia berpaling dari situasi itu.
“Tetapi jawab Daud: "Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya
saja!" Lalu berpalinglah ia dari padanya kepada orang lain dan menanyakan
yang sama. Dan rakyat memberi jawab kepadanya seperti tadi.” (1 Samuel 17:29-30)
KETIGA: KETIKA
SESEORANG SETIA
DALAM PERKARA KECIL
Salah satu alasan mengapa Daud mampu mengatasi
raksasa adalah karena ia telah setia dan membuktikan Allah dalam hal-hal kecil.
Setelah Daud diurapi menjadi raja, bahkan setelah
dia terpilih menjadi seorang pemain kecapi kerajaan, kemudian orang-orang
Flistin turun untuk berperang melawan orang Israel, dan Saul juga pergi
berperang, Daud disuruh kembali ke rumah ayahnya. Pada waktu Daud kembali ke
rumah ayahnya, ia kembali menjadi seorang gembala kambing domba ayahnya seperti
yang biasa dia lakukan sebelumnya. Ia tidak menjadi gengsi dan tidak mau
mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kecil di mata manusia. Dia tidak berkata, “kan
saya sudah diurapi menjadi raja”, tidak. Dengan kerendahan hati di kembali
melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut dengan tulus hati. Dia
tetap setia dalam perkara kecil (bnd. Lukas 16:10).
Di kemudian hari, pengalaman menggembalakan
kambing domba ayahnya itulah yang menjadi salah satu dasar keberanian Daud maju
berperang melawan Goliat. (1 Samuel
17:34-37). Dengan kata lain Daud sedang berkata, “Lihat, aku sudah
membuktikan bahwa Allah setia. Aku memiliki sejarah! Ini bukan pertama kalinya
aku mempercayai Tuhan. Aku telah mempercayainya dan melihat Dia mengerjakan
berbagai mujizat sebelumnya.” Oleh karena pengalaman di masa lalu ini, aku
memiliki keyakinan, harapan, dan aku percaya bahwa kemenangan itu terjadi lagi.
Perhatikan, Daud menjadikan pengalaman masa
lalunya bersama Tuhan menjadi motivasi besar untuk melakukan hal-hal besar di
masa sekarang. Metode bisa saja berbeda, tapi keyakinannya akan pertolongan
Tuhan tidak berubah. Bagaimana dengan kita, apakah kita menjadikan pengalaman
masa lalu kita bersama Tuhan menjadi motivasi untuk melakukan hal-hal terbaik
bagi Tuhan masa kini? Atau sebaliknya, kita malah terlena dan tidak melakukan
apa-apa bagi Tuhan hari ini? Mari taati Tuhan dan firman-Nya, maka Anda akan
mengalami kemenangan-kemenangan di dalam Tuhan. Amen!

Komentar
Posting Komentar