HIDUP TAAT DI DALAM TUHAN
Minggu, 07 Juni 2020
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat
sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Filipi 2:8)
“Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati
hukum-hukum Allah.” (1 Kor. 7:19; bnd. Fil. 2:8)
Tidak bisa dipungkiri, sejak adanya norma
kehidupan manusia, baik di dalam maupun di luar kekristenan selalu ada yang
namanya legalisme di mana orang-orang mengedepankan aturan-aturan tanpa esensi.
Demikian pun dalam kehidupan jemaat di Korintus ada orang-orang yang mencoba
menuntut terapan-terapan yang sama dalam berbagai kasus. Untuk menanggapi hal
tersebut Paulus memberikan respon seperti kalimat ayat di atas. Paulus lebih
menekankan ketaatan terhadap hukum Tuhan.
Apa itu ketaatan?
Kata Ibrani שֵׁמַע - SHEMA, memiliki makna: Taat/ Ketaatan adalah sikap tunduk
kepada wewenang, menjalankan apa yang diperintahkan, mematuhi apa yang
dituntut, atau menjauhkan diri dari apa yang dilarang. Kata
Ibrani tidak memiliki kata kusus dalam satu makna "ketaatan." Sebab
kata שֵׁמַע - SHEMA ini mengangdung makna:
"taat, mentaati, patuh, mematuhi, merespon, memperhatikan, menyimak,
dengar, mendengarkan." Berasal dari kata kerja Ibrani: שָׁמַע - SHAMA, atau שֵׁמַע - SHEMA.
Kata: שֵׁמַע - SHEMA hampir tidak mungkin
untuk diterjemahkan ke dalam bahasa lain, walau ke dalam bahasa Inggris
sekalipun, meski King James Version (KJV) dianggap sebagian orang menerjemahkan ayat Alkitab yang
paling baik. Sebab שֵׁמַע - SHEMA dalam pemahaman Semitik
(Timur) ini memiliki begitu banyak nuansa makna: mendengar, mendengarkan,
memberi perhatian, memahami, menginternalisasi, merespons. Bahkan mengandung
dalam gagasan Ibrani: "mendengarkan" berarti "mematuhinya" (dengan suatu
respon yang aktif).
Sedangkan kata kerja yang dipakai
dalam (LXX) dan dalam Perjanjian Baru adalah ακουω –AKOUÔ yang juga berarti “mendengar”.
Kata yang diterjemahkan "Dia taat" dalam Filipi 2:8 adalah υπηκοος - HUPÊKOOS dari
kata υπακουω – HUPAKOUÔ, harfiah mendengarkan
perintah, suatu campuran dari kata: υπο - hupo, di bawah, dan kata ακουω –AKOUÔ, “mendengar”. Sehingga υπακουω – HUPAKOUÔ, bermakna “mendengar di bawah ....”
Kata Ibrani שָׁמַע - SHAMA, adalah mirip dengan kata kerja
Yunani yang menyatakan gagasan tentang "ketaatan": υπακουω – HUPAKOUÔ secara harfiah berarti
"mendengar di bawah", yaitu mendengar dengan sikap tunduk atau
melayani (seperti di Kisah 12:13). (Sumber: sarapan pagi.org).
Alasan Pentingnya Ketaatan:
-
Ketaatan Menunjukkan Penghormatan dan Kesetiaan
Sikap ketaatan ini yang diterjemahkan dari kata שָׁמַע - SHAMA, dalam
ungkapan lain adalah "takut/ segan/ hormat", misalnya "takut akan Allah" yang mengandung gagasan taat/ yang selalu mendengarkan dan melakukan apa yang
diperintahkan Allah.
Hampir di semua terjemahan ayat Alkitab yang mengacu kepada ketaatan kepada
Tuhan selalu digambarkan sebagai bentuk penghormatan dan penundukan diri
kepada-Nya. Salah satu contoh, ketika Sadrakh, Mesak dan Abednego membuat
keputusan untuk lebih mentaati Tuhan dari pada raja nebukatnezar, mereka
melakukannya karena mereka lebih menghormati Tuhan dan perintah-Nya dibanding
peraturan raja Nebukatnezar yang mengarahkan mereka menyangkali kepercayaan
mereka kepada Tuhan.
Petrus melakukan hal yang sama ketika memberi jawaban kepada imam besar
atau mahkamah agama, dia berkata, “...Kita harus lebih taat kepada Allah dari
pada kepada manusia” (Kis. 5:29). Artinya, pada waktu rasa hormat ada di hati
seseorang terhadap orang yang ada di atasnya, orang tersebut akan taat terhadap
perintah-perintah yang diberikan kepadanya.
-
Ketidaktaatan Menggagalkan Rencana Tuhan dalam Hidup Seseorang
13 Kata Samuel kepada Saul: "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak
mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab
sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.
14 Tetapi sekarang kerajaanmu tidak
akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN
telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti
apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu." (1 Sam. 13:13-14)
Saul adalah raja pertama di Israel yang dipilih oleh Tuhan sendiri melalui
Samuel. Ia adalah seorang yang tampan dan rendah hati (1 Samuel 9:2; 15:17)
sehingga Tuhan memilih dia menjadi raja bagi bangsa Israel. Kira-kira dua atau tiga tahun di awal pemerintahannya
dia menjalankan pemerintahannya dengan rendah hati dan takut akan Tuhan,
sehingga ke manapun dia pergi berperang Tuhan selalu membuat dia sukses dan
berkemenangan (1 Samuel 14:47-48). Namun kesetiaan dan ketaatannya terhadap
perintah Tuhan tidak bertahan lama yang membuat Tuhan murka terhadap dia dan
mencari penggantinya.
Suatu waktu dalam peperangan melawan orang Flistin, Saul bersama para
pasukan perangnya maju ke medan perang. Dalam pertempuran kali ini, nabi Samuel
memberikan instruksi agar Saul dan pasukannya menunggu dia sampai tujuh hari
sampai dia datang untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan
kepada Tuhan supaya mereka berperang di bawah naungan berkat Tuhan. Saul tidak
mengindahkan perintah nabi Samuel, sebaliknya dia memberanikan diri untuk
mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan tersebut setelah dia
melihat bahwa Samuel tidak hadir sampai pada hari yang ditentukannya (1 Samuel
13:8-10). Tidak lama setelah Saul mempersembahkan korban tersebut, Samuel
datang dan muncul di hadapan Saul dan langsung bertanya; …"Apa yang telah kauperbuat?" Jawab Saul: "Karena aku
melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada
waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas,
maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal,
padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan
diri, lalu mempersembahkan korban bakaran." (1 Sam. 13:11-12)
Meresponi jawaban Saul, Samuel marah dan berkata “Perbuatanmu itu bodoh”
(ayat 13). Kenapa tidakan Saul tersebut dianggab bodoh? Karena tindakan Saul
itu berlawanan dengan instruksi Allah. Dalam aturan Hukum Taurat menentukan
hanya para imam yang diperbolehkan mempersembahkan korban dan permohonan
seperti ini. Saul melangkah keluar dari posisinya sebagai raja dan berupaya
mengambil posisi imam. Sedangkan imam pun harus mempersembahkan korban dengan
benar sesuai instruksi Allah.
Sebagai imam, Nadab dan Abihu putra imam Harun memenuhi syarat untuk
mempersembahkan korban, tetapi mereka tidak mengikuti perintah dengan tepat,
sehingga api keluar dan Allah menghanguskan keduanya sampai mati (Imamat
10:1-2). Hukum Perjanjian Lama sangat keras mengenai hal-hal ini. Bahkan
sekalipun seseorang itu seorang imam, ia harus melakukan tugas-tugas keimaman
dengan tepat dan benar.
Waktu Samuel memarahi Saul, dia langsung menjadikan orang-orang yang
bersamanya menjadi alasan dan berkata,
"Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau
tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah
berkumpul di Mikhmas,” (1 Sam. 13:11b).
Terlihat alasan ini sangat tepat, namun sesungguhnya tidaklah demikian!
Seandainya peristiwa tersebut hanya merupakan kesalahan teknis, tentu Tuhan
tidak sangat marah dan membuat keputusan menghentikan Saul jadi raja atas
bangsa Israel. Pelanggaran yang dilakukan Saul tidak sesederhana yang diucapkannya
di hadapan Samuel. Dia membuat alasan kepada Samuel, tapi Tuhan mengetahui hati
dan motivasi Saul (1 Samuel 16:17). Dalam pemandangan Tuhan, tindakan Saul
adalah ekspresi hatinya yang sudah tidak hormat dan taat kepada Tuhan. Atas
dasar penilaian itulah, Allah mencari seseorang menggantikan Saul untuk
menggenapi rencana-Nya atas umat-Nya. Kerajaan Saul yang direncanakan Allah
untuk selama-lamanya, kini gagal dan kandas di tengah jalan karena
ketidaktaatannya kepada Tuhan dan perintahnya. Itu sebabnya, teruslah taat dan
menghormati Tuhan agar rencana Tuhan digenapi dalam kehidupan Anda. Be Obedient!

Komentar
Posting Komentar