MEMPERTAHANKAN IMAN YANG MURNI
Minggu, 03 mei 2020
Pohon Sesawi
Mukjizat tidak membutuhkan iman yang besar, yang
dibutuhkan ialah iman yang murni dan sederhana. Ketika para murid Yesus meminta agar iman mereka ditambahkan, Yesus
meresponinya sama seperti dalam Markus 11.
“Aku
berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini:
Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi
percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan
terjadi baginya.” (Mark. 11:23)
Lukas mencatat:
“Lalu kata
rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"
Jawab
Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu
dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di
dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." (Luk. 17:5-6)
Dengan memberikan jawaban seperti itu,
Yesus sedang berkata kepada murid-murid-Nya, “Kalian tidak membutuhkan lebih
banyak iman atau iman yang lebih besar, Iman kalian cukup. Jika iman kalian
hanya sebesar biji sesawi, itu cukup untuk mencabut sebatang pohon tanpa
menyentuhnya. Hanya dengan berkata-kata kepadanya, kalian bisa membuatnya
beranjak. Yang kalian harus miliki ialah iman yang murni dan berkualitas sama
seperti biji sesawi yang sangat kecil, tapi jika bertumbuh dan dirawat dengan
baik, maka akan menghasilkan pohon yang rindang di mana burung-burung bisa
bersarang pada carang-carangnya. (bnd. Matius 13:31-32).
Apa itu iman yang murni? Iman yang benar-benar tertuju kepada Tuhan dan tidak
terkontaminasi dan tidak terpengaruh oleh reaksi-reaksi negatif dunia. Cara
menerimanya ialah, mempercayai dan menerima kebenaran firman Allah
dalam hati kita (Roma 10:17).
Kemurnian iman yang diterima seseorang
melalui percayanya kepada firman Allah, sewaktu-waktu bisa tercemar oleh
situasi keadaan dunia ini sehingga menetralkan kualitasnya. Itu sebabnya iman
yang murni harus dijaga dan dipertahankan. Supaya kemurnian dan kualitas iman seseorang
terpelihara, maka ia perlu melatih dirinya hidup bersama Tuhan
(Ibrani 5:14), seperti;
1.
Sering
bersekutu Kepada Tuhan Melalui Doa Pujian Penyembahan dan Firman-Nya.
Latihan ini sangat penting. Rasul Paulus oleh
ilham Roh Kudus berkata, “Sebab
itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja
memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah
memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Kor.
9:26-27)
Tetapi jauhilah takhayul dan
dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. (1 Tim. 4:7)
Pemeliharaan itu tidak ada yang instan. Anda harus
melatih diri terbiasa hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Paulus memberikan
analogi seperti seorang atlet yang harus disiplin berlatih kalau mau memperoleh
kemenangan.
Seorang atlet tidak bangun begitu saja dan mulai
bersiap untuk bertanding dalam sebuah pertandingan. Misalnya, seorang petinju
tidak langsung naik ring begitu saja kemudian langsung fight. Diperlukan waktu
berbulan-bulan bahkan tahun untuk melakoni sebuah laga di atas ring.
Demikian halnya dengan ibadah dan persekutuan
bersama Tuhan, perlu dilatih dengan disiplin.
Banyak orang Kristen tidak benar-benar
menghabiskan waktunya dengan Tuhan, mereka lebih sibuk dengan kegiatan-kegiatan
yang tidak terlalu bernilai secara rohani. Mereka hidup dalam alam fisik, menyibukkan
diri dengan berbagai pekerjaan, lebih banyak menonton televisi. Mereka
melakukan segalanya dalam alam natural, tidak benar-benar menghabiskan waktu
untuk berdoa dan bersekutu dengan Tuhan melalui Pujian Penyembahan dan Firman-Nya,
sehingga ketika menghadapi situasi buruk dan negatif, iman mereka tidak
berfungsi karena mereka tidak melatih
diri.
2.
BERPUASA UNTUK MENAKLUKKAN
INDRA KEPADA TUHAN
Apa itu puasa? Menurut Kamus Alkitab, Puasa
ialah berpantang terhadap makanan, yang secara luas masih
merupakan kewajiban religius. Hal tersebut dilakukan bersama dengan doa, dan
merupakan simbol kerendahan hati manusia.
Esensi puasa; membatasi indra manusia terhadap KEINGINAN pemuasan
daging/hawa nafsu, dan membangun penundukan indra manusia terhadap kebenaran
atau kehendak Allah (Yesaya 58:3-14). Melalui
ilham Roh Kudus, rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat di Roma, “Dan janganlah kamu menyerahkan
anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman,
tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati,
tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada
Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” (Roma 6:13 ITB)
Cara terbaik untuk menyerahkan indra kita kepada Tuhan menjadi senjata
kebenaran ialah dengan menjalankan puasa. Pada Kitab Yesaya 58:3-14 tersebut
dijelaskan, puasa yang diinginkan Tuhan ialah pengekangan keinginan indra
terhadap segala yang jahat yaitu segala sesuatu yang tidak diinginkan Allah,
kemudian menundukkan keinginan indra tersebut terhadap hal-hal benar yang
dikehendaki Tuhan. Hal ini perlu dilakukan secara kontinyu mengingat kita masih
ada di dunia ini di mana setiap hari kita diperhadapkan dengan cara-cara hidup
dunia nyata yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kegagalan Anda melatih
indra takluk kepada Tuhan akan berdampak terhadap kualitas iman Anda.
Suatu waktu, murid-murid Yesus datang kepada-Nya
dan bertanya perihal kegagalan mereka mengusir roh jahat dari seorang anak yang
sakit ayan (Matius 17:19-21). Jawab Yesus, “Karena
kamu kurang percaya”. Kemudian di ayat 21 Yesus melanjutkannya dengan
berkata, “Jenis ini tidak dapat diusir
kecuali dengan berdoa dan berpuasa." (Matius 17:21).
Apa yang dimaksud Yesus dengan “jenis ini”,
maksud-Nya ialah jenis roh jahatnya. Roh jahat yang bermanifestasi seperti yang
disaksikan murid-murid-Nya pada anak itu tidak dapat diusir begitu saja kecuali
dengan doa yang disertai puasa.
Para murid bertanya kepada Yesus bukan karena
mereka tidak beriman, sebaliknya karena mereka yakin bahwa di dalam hati mereka
ada iman tapi kenapa tidak menghasilkan sesuatu (kelepasan). Dengan iman yang
ada di hati mereka, mereka yakin akan melihat roh jahat itu keluar dari anak
tersebut, namun realitanya, tidak demikian. Untuk pertenyaan mereka Yesus
menjawab “karena kamu kurang percaya”, bukan tidak beriman. Kenapa mereka bisa
kurang percaya sekalipun memiliki iman? Karena mereka membiarkan keraguan masuk
ke hati dan pikiran mereka melalui indra oleh karena manifestasi roh jahat yang
mereka saksikan.
Dalam Matius 10 dikatakan, Yesus memanggil
murid-murid-Nya dan memberi mereka kuasa untuk pelayanan bahkan kuasa untuk
membangkitkan orang mati dan mengusir setan-setan (Matius 10:7-8). Artinya,
para murid itu sudah pernah melakukan pelayanan pengusiran setan sebelum
bertemu dengan anak yang sakit ayan tersebut dan setan-setannya keluar. Tapi
mungkin, manifestasi yang sekarang mereka saksikan di hadapan mereka belum
pernah mereka hadapi sebelumnya. Itulah yang membuat hati mereka agak gentar
sehingga pikiran mereka mulai terkontaminasi dengan keraguan. Ingat, di hati
mereka tetap ada iman, tapi iman tersebut tidak berfungsi karena diimbangi
kekurang percayaan. Untuk hal inilah Yesus berkata kamu harus puasa. Tujuannya,
untuk melatih dan membiasakan indra mereka tunduk kepada Tuhan bukan kepada
pengaruh negatif yang datang dari luar. Artinya, para murid tersebut harus
menguasai indra mereka dalam segala situasi dan tetap percaya kepada Tuhan.
Demikian juga Anda tidak bisa menghindarkan kekurangpercayaan natural
ini yang berasal dari apa yang Anda lihat, kecap, dengar, cium, dan rasakan.
Satu-satunya cara yang dapat Anda lakukan ialah berpuasa untuk menundukkan
indra Anda terhadap kebenaran dan kemauan Tuhan, sehingga ketika berhadapan
dengan situasi yang sangat buruk sekalipun, indra Anda tetap tertuju kepada
Tuhan dan kuasanya dan kemurnian kualitan iman Anda tetap terjaga. Ketika
kemurnian iman Anda terjaga kuasa Tuhan pasti dimanifestasikan dan mujizat
serta terobosan-terobosan besar pasti akan terjadi dan Anda Alami. Untuk itu,
jaga terus iman Anda melalui latihan persekutuan dengan Tuhan dalam doa, puasa,
pujian penyembahan dan firman-Nya, dan jadilah menang. Haleluya!

Komentar
Posting Komentar