HUKUM KERJA IMAN
Minggu, 17 Mei
2020
Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa?
Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! (Rom. 3:27 ITB)
Where is boasting then? It is excluded. By what law? of works? Nay: but by
the law of faith. (Rom. 3:27 KJV)
Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang
bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan
Juruselamat kita, Yesus Kristus.
2 Kasih karunia dan damai sejahtera
melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.
3 Karena kuasa ilahi-Nya telah
menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh
oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia
dan ajaib.
4 Dengan jalan itu Ia telah
menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar,
supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari
hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. (2 Pet. 1:1-4 ITB)
Apa saja yang menjadi hukum kerja iman?
Pertama: Konstan dan Universal
Kata “Hukum” dalam hal ini berarti “Konstan, tanpa
fluktuasi atau variasi”. Artinya, iman dapat bekerja bagi semua orang di mana
saja, dengan cara yang sama, sama seperti hukum gravitasi. Gravitasi tersebut
konstan tanpa fluktuasi atau variasi, dia berlaku bagi semua orang di muka
bumi. Itulah sebabnya dia disebut “hukum”, karena dia harus berlaku dengan cara
yang sama terhadap semua orang di mana-mana. Contoh, di Indonesia; jika seseorang
jatuh dari sebuah bangunan tinggi, jatuhnya pasti ke bawah. Sama kejadiannya,
apabila seseorang jatuh dari sebuah tower telekomunikasi yang tinggi di
Australia, dia pasti jatuh ke bawah, bukan ke atas. Bukan juga karena posisi
orang tersebut sedang berada di atas, tapi karena hukum gravitasi bumi yang
sifatnya konstan dan universal. Pada peristiwa lain, seandainya ada seseorang
berada pada ketinggian yang telah melampaui garis batas bumi, jika dia jatuh,
maka jatuhnya tidak lagi ke bawah (bumi) tapi ke atas, yaitu planet lain yang
ada di luar angkasa. Jadi jelas, jika seseorang masih ada di bumi dan jatuh,
dia pasti jatuh ke bawah karena hukum gravitasi bumi bukan karena posisi orang
tersebut di atas.
Banyak orang tidak melihat iman sebagai sesuatu
yang diatur oleh hukum. Mereka mengira Allah dapat melakukan apapun yang mereka
inginkan jika mereka meminta kepada-Nya dan “percaya”. Mereka tidak mengerti
bahwa ada pembatasan tertentu yang telah dibuat oleh Tuhan atas cara kerja
iman. Sekali lagi, kebenaran ini dibuktikan dalam alam jasmani oleh hukum
gravitasi. Jika seseorang nekat melompat dari atas sebuah tower, dia akan jatuh
dan 99,9% persen dia akan mati. Apakah Allah tidak menyayangi mereka? Tentu Allah
sangat sayang. Apakah Tuhan ingin membunuh manusia melalui hukum gravitasi?
Tentu juga tidak! Manusia yang melanggar hukum gravitasilah yang bodoh dan
akhirnya mati.
Iman diatur oleh “huum”! Allah melakukan itu untuk
kebaikan dan keuntungan Anda. Namun jika Anda tidak hidup menurut aturan hukum
iman yang telah dibuat, Anda bisa mati.
Kedua: Melalui Perkataan
“Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil
bibirnya. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan
memakan buahnya.” (Amsal 18:20-21)
Hidup dan mati ada dalam lidah Anda! Itu adalah
hukum iman. Allah menciptakan dunia oleh iman dengan berfirman (Kejadian 1).
Segala sesuatu yang jasmani (fisik), yaitu apa yang dapat dilihat, kecap,
dengar, cium, dan rasakan, semua diciptakan oleh firman. Firman Allah yang
penuh imanlah yang membentuk alam semesta ini, dan terus menjalankannya (Ibrani
1:3; 11:3).
Ciptaan Allah diatur oleh hukum-hukum, dan salah
satu hukum Allah adalah kita akan memperoleh apa yang kita katakan. Ada kuasa
dalam firman, itu sebabnya kita perlu memperkatakan firman.
Khusus dalam hal berkata-kata, ada tiga hal
penting yang perlu kita perhatikan. Pertama, Selaraskan hati dan perkataan kita.
Hanya pada waktu hati dan mulut selaras atau bekerja sama pengakuan iman
menjadi kenyataan. “Karena dengan hati orang
percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Rom.
10:10). Terlepas dari bagaimana kebenaran ini disalahartikan
atau disalahgunakan, itu tetaplah kebenaran. Banyak orang Kristen kehilangan
apa yang telah Allah sediakan bagi mereka dalam roh karena mereka tidak
menggunakan kata-kata mereka dengan benar. Kedua, berusahalah memperkatakan kehidupan. Iman
dilepaskan oleh perkataan. Itu adalah salah satu hukum yang mengatur iman.
Hidup dan mati, bukan hanya hidup dikuasai lidah Anda.
Jika Anda telah lahir baru, Anda memiliki iman
supernatural. Karena kebanyakan orang Kristen tidak mengetahui ini, mereka
tidak menggunakannya. Beberapa orang memang percaya, tetapi mungkin masih tidak
melihatnya bekerja dengan benar karena mereka tidak mengerti dan bekerja sama
dengan hukum-hukum yang mengatur iman. Ketiga, berbicaralah pada maslah atau
persoalannya. Berbicara dan memperkatakan iman Anda tidaklah cukup;
Anda juga harus berkata langsung kepada gunungnya!
“Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan
tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa
apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.”
(Markus 11:23).
Kadangkala kebanyakan orang Kristen terlalu sibuk
berbicara kepada Allah tentang gunung/masalah mereka daripada berbicara tentang
Allah kepada gunung mereka. Sebagai orang yang memiliki iman yang supernatural
jangan berkata, “Oh Tuhan saya sakit. Tolong singkirkan penyakit ini dari
saya!”. Tetapi katakanlah kepada penyakit bahwa Allah telah menyembuhkan Anda
melalui bilur Kristus di kayu salib. Kemudian perintahkan dia pergi untuk
meninggalkan Anda, maka dia akan pergi dan Anda pun menjadi sembuh. Kenapa bisa
terjadi? Karena Allah telah memberikan kepada Anda iman yang supernatural dan
berotoritas.
Ketiga: Melalui Tindakan (Aktif)
Injil Markus mencatat sebuah contoh mengagumkan
tentang hukum iman yang bekerja. Seorang wanita yang sakit pendarahan datang
kepada Yesus mencari kesembuhan. Ia hanya menyentuh ujung jubah-Nya dan dengan
segera disembuhkan. Tuhan merasakan ada tenaga yang keluar dari diri-nya dan
berpaling bertanya, “Siapa yang menjamah jubah-Ku?” (Markus 5:30).
Kebanyakan orang berpikir bahwa Allah hanya akan
menolong seseorang jika mereka datang dengan segudang permintaan. Mungkin ini
tidak sepenuhnya salah, tapi ada hal yang sangat penting yang perlu diketahui
orang percaya yaitu, agresif bertindak untuk menerima.
Bagaimana wanita itu menerima kesembuhannya? Ia
menaruh hukum-hukum imannya ke dalam tindakan, dan kuasa Allah secara otomatis
mengalir. Adalah hukum Allah di mana kita akan menerima apa yang kita katakan
(Markus 11:23).
Di dalam Kitab Yakobus juga ditulis, “iman
tanpa perbuatan adalah iman yang kosong” (Yakobus 2:20). Bahkan di
ayat 22 dikatakan, “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh
perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.”
Wanita tersebut bertindak atas imannya sehingga
dia disembuhkan. Ia tidak hanya berbicara tentang disembuhkan tetapi ia
bertindak atas iman itu bahkan dengan resiko pribadi yang besar.
Di zaman itu, siapapun yang mengalami sakit
pendarahan dianggap najis, dan setiap orang yang mereka sentuh juga menjadi
najis. Karena itu, orang-orang dengan kenajisan ini akan menghindari orang
banyak atau sebaliknya, orang banyak akan menghindari orang yang pendarahan.
Orang dengan kenajisan seperti ini bisa saja dirajam apabila ketahuan dengan
sengaja menyentuhkan dirinya dengan orang lain. Mungkin hal itu yang membuat
wanita ini agak ragu mengakuinya. Tapi perhatikan, imannya mendorong dia
mengakui tindakannya dan dia disembuhkan. Bagaimana dengan Anda? Bertindaklah
sesuai dengan ukuran iman yang dikaruniakan kepada Anda, dan Anda akan menang.
Haleluya!

Komentar
Posting Komentar