TENANGLAH DAN JANGAN TAKUT MARKUS 6:50
Minggu, 05 April 2020
Apakah Anda benar-benar berada ditengah badai
hidup Anda? Apakah perahu Anda begitu cepat dipenuhi air? Apakah Anda merasa
seprtinya mau tenggelam? Jika ya, maka Yesus mengatakan hal ini kepada Anda
sekarang; “Tenanglah! Aku ini, jangan takut”.
Jika Anda benar-benar mengerti kebenaran tersebut,
maka ini cukup untuk membuat Anda bersorak! Firman Tuhan akan menjadi hidup dan
membuat kita berdiri di dalam, dan jika kita sanggup berdiri di dalam, maka
pada akhirnya kita akan berdiri juga di luar. Saat itulah kita akan berjalan di
atas air/gelombang masalah kita.
Memang akan banyak orang mengkritik kita karena
mendorong seorang pasien penyakit kanker dengan mengatakan, “Tenanglah, jangan
takut. Tuhan menyertaimu”. Mereka tidak mengerti bahwa saat Anda tenang di
dalam Anda juga akan mengalami ketenangan di luar. Hal itu hanya masalah waktu
saja sampai Anda benar-benar mengalaminya. Saat Anda menerima jawabannya di
dalam hati Anda, itu akan bermanifestasi sendiri di alam jasmani. Namun
pernyataan yang sering kita dengar dalam menangani masalah-masalah baik di
dalam gereja maupun di luar gereja ialah, “Wajar saja kalau kamu marah,
kepahitan, dan terluka. Saya sangat mengerti perasaan itu!”. Tanpa sadar, kebanyakan
orang membuat diri mereka patah semangat, berkubang, menangis, dan menjadi
putus asa, kalah, sama seperti mereka yang sedang dalam masalah hanya karena
supaya dianggap sebagai teman yang baik, bersimpati dan menghibur. Kita perlu
melakukan seperti yang dilakukan Yesus yang berkata “Tenang dan jangan takut!”.
Seandainya Yesus hidup di zaman ini dan
mengucapkan perkataan yang sama, kebanyakan orang akan berkata bahwa Yesus
tidak peka terhadap situasi dan persoalan. Orang-orang akan berteriak dan berkata;
bagaimana mungkin Yesus berkata kepada orang-orang yang akan tenggelam
“Tenangla! Aku ini, jangan takut!” (Markus 6:50). Itu tidak masuk akal!
Orang-orang akan bangkit dan mengkritik Dia.
Sebenarnya tidak salah menunjukkan belas kasihan
terhadap orang-orang yang terluka, tapi seharusnya kita melakukan lebih dari
itu. Kita juga perlu menunujukkan iman dan dorongan kepada orang-orang. Tidak
akan baik jika Yesus muncul di sana dan berkata, “Woww, ini sungguh mengerikan.
Kemudian Dia berkata, sungguh Aku tidak bisa percaya apa yang sedang terjadi
kepada kalian atau apa yang sedang kalian alami. Ini gelombang yang besar dan
benar-benar besar. Namun puji Tuhan nada perkataan seperti itu tidak keluar
dari mulut Yesus, Dia tidak membesar-besarkan masalah. Seandainya Ia
membesarkan masalahnya, mengekspresikan ketidakpercayaan, dan berbicara tentang
betapa buruknya berbagai hal bagi mereka, mereka pasti telah berada dalam
masalah besar. Namun sekali lagi, puji Tuhan, Yesus tidak melakukan itu.
Sebaliknya Dia mengecilkan masalahnya dan membesarkan Allah, dan menunjukkan
bahwa kuasa-Nya jauh lebih besar daripada keadaan mereka. Ia melakukan itu
dengan berjalan di atas hal yang sedang berusaha menghancurkan para murid-Nya
dan berkata, “Kalian semua, tidak perlu takut”.
Ketika iman Anda dihidupkan, Anda akan menjadi
bersemangat dan berkata, “Tuhan, ini akan menjadi satu mukjizat yang
menakjubkan!”. Persoalan dan masalah yang sedang terjadi merupakan sebuah wadah
di mana Tuhan diberi kesempatan untuk mendemonstrasikan kuasa-Nya yang supra
natural. Itulah yang Yesus beritahu kepada murid-murid-Nya ketika Ia berkata,
“Tenanglah!”. Para murid seharusnya bisa berkata dengan penuh semangat, “Yesus
menyuruh kita untuk menyeberang ke seberang, bukan untuk tenggelam di tengah danau”.
Namun, tidak mungkin secara alami kita bisa sampai ke seberang diperlukan
campur tangan yang ilahi, dan ini akan menjadi jenis mujizat yang menakjubkan.
Kitab Yohanes mencatat bagaimana mereka
dipindahkan ke seberang danau, “Dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai
yang mereka tujui.” (Yoh. 6:21).
Mereka melewati kira-kira 3 km dan mereka tiba di
sana! Dalam sekejap, angin berhenti dan keadaan menjadi sangat tenang.
Kebanyakan orang-orang akan berkata, “Wow, itu menakjubkan, sungguh luar biasa berada
di sana. Tapi sangat sedikit orang yang dapat mempercayai bahwa mereka bisa ada
di seberang dengan selamat penuh suka cita sedangkan mereka masih berada di
tengah gelombang masalah hidup mereka yang sedang mengamuk dan menghadang
langkah mereka. Hanya orang yang benar-benar meletakkan kepercyaannya kepada
Yesus yang bisa tetap tenang dan berkata saya pasti sampai ke seberang.
Pengakuan iman seperti ini sama sekali bukan hal
biasa bagi orang banyak karena mereka membangun kehidupannya di alam natural,
bahkan mereka tidak pernah sampai ke tempat di mana mereka bersukacita di
tengah-tengah situasi yang berat.
Paulus dan Silas merupakan tokoh yang layak
dijadikan panutan bagi orang percaya disaat menghadapi situasi sulit dan berat.
Hati kedua hamba Tuhan ini tidak terpengaruh oleh situasi yang mereka sedang
alami. Di tengah situasi sulit dan sangat tidak bersahabat, kedua hamba Tuhan
ini tetap tenang dan menaikkan puji-pujian kepada Tuhan yang mereka percayai.
Paulus dan Silas berada di dalam penjara Filipi.
Mereka tidak hanya berdoa dan menaikkan puji-pujian di tengah malam supaya
mereka bisa dilepaskan. Itu bukan alasan mereka bernyanyi dan memuji Tuhan.
Bagaimana hal itu kita tahu? Ketika Tuhan mengirim
gempa bumi, semua pintu penjara terbuka dan setiap belenggu terlepas dari
kakinya, tapi Paulus dan Silas tidak pergi. Mereka hanya terus memuji Tuhan!
Jika memuji Tuhan untuk mendapatkan kebebasan dari penjara adalah motivasi
mereka, maka mereka pasti telah keluar atau melarikan diri secepat mungkin sebelum
diketahui kepala penjara tersebut. Tapi mereka benar-benar memuji Tuhan dari
hati yang murni dan penuh kasih kepada Tuhan. Mereka benar-benar bergerak ke
tempat yang Yesus bicarakan. Mereka benar-benar tenang, hukuman dan bahkan
kematian tidak membuat mereka mundur dari rencana Tuhan dalam hidup mereka.
Ketika kelepasan datang, mereka bahkan tidak mengambilnya.
Kita menyanyikan lagu seperti, “Iman ku tak perlu
besar, cukup sebutirpun dahsyat, dst... “ tapi pada saat ujian iman benar-benar
datang, kita berusaha lari dari kenyataan dan berkata “kita harus berhikmat...”
pertanyaan yang harus kita renungkan, apakah kita benar sungguh-sungguh
bernyanyi dengan nyanyian yang kita nyanyikan?... Jika Anda memikirkan ini
dengan tepat, Anda akan mengenali bahwa jika Anda mati pun, Anda akan berada
bersama Tuhan, dan jika Anda menerima kesembuhan dan kelepasan Anda yang Yesus
sudah sediakan untuk Anda, maka Anda akan memiliki kesaksian yang luar biasa
dan memuliakan Tuhan. Anda akan bisa tenang dan tidak takut, apa pun situasi
Anda dan hasilnya. Haleluya!

Komentar
Posting Komentar