PENYEBAB PETRUS - ANDA TENGGELAM (Matius 14:30-33)
Minggu, 26 April 2020
Untuk berjalan di atas air, Anda harus keluar dari
perahu. Setiap orang pasti ingin berjalan di atas air, tapi tidak semua orang
mau keluar dari perahunya. Anda
harus meninggalkan kenyamanan dan keamanan apa pun yang Anda ada di dalamnya
saat ini dan berani mengambil risiko. Tinggalkan hal yang biasa-biasa, pisahkan
diri Anda dari orang banyak yang pikiran dan imannya dangkal dan negatif.
Lakukan sesuatu dan tetap percaya kepada Tuhan. Jika kita perhatikan ada sesuatu yang menarik dari kisah Petrus berjalan di atas air, yaitu setelah
dia berjalan beberapa jauh dari perahu dan hampir sampai kepada Yesus, dia
mulai tenggelam. Apa penyebabnya? Berikut kita belajar penyebab dan cara menanggulanginya.
KURANG PERCAYA ADALAH PENYEBAB PETRUS TENGGELAM (Ayat 31)
Pada ayat 30 sebelumnya dikatakan, “Tetapi ketika dirasanya tiupan
angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah
aku!" (Mat. 14:30).
Petrus melihat angin yang menderu sehingga dia
takut, dan mulai tenggelam. Sebenarnya, tidak ada hubungan angin yang menderu
dengan Petrus yang berjalan di atas air? Seandainya Petrus tetap mengarahkan
mata/pandangannya kepada Yesus, ia pasti telah berjalan di atas air dan sampai
kepada Yesus, kemudian bisa berjalan bersama dengan Yesus ke perahu atau tepian
danau, atau tempat lain manapun yang ia ingin datangi. Ia sudah membuktikan
dirinya bisa berjalan di atas air, dan menantang hukum alam, artinya dia sedang
berjalan oleh iman.
Secara natural, ia pasti tidak bisa berjalan di
atas air sekalipun hari dan cuaca sangat tenang. Berarti angin hanyalah sesuatu
yang mengalihkan perhatian Petrus dari Yesus. Ketika Petrus mengalihkan
perhatiannya dari Yesus dan memandang angin dan gelombang, ia mulai berfokus
pada dunia natural yang kemudian membanjiri indranya dengan berbagai pemikiran
seperti, “kau seharusnya tidak di sini,
ini pekerjaan gila, kau pasti tidak bisa melakukannya lebih lama, kau pasti
tenggelam”.
Tentu kita semua mengerti bahwa tidak mungkin kita
pergi ke danau, sungai maupun laut hanya untuk berjalan di atasnya. Petrus pun
sangat mengerti hal ini karena separuh dari hidupnya dihabiskan di danau
Galilea sebagai nelayan untuk mencari nafkah. Dia pasti sangat mengerti bahwa
secara natural tidak mungkin seseorang bisa berjalan di atas air. Seharusnya
dia menyadari apa yang sedang dialaminya bukanlah perkara natural tapi supra
natural. Tapi nyatanya pikiran Petrus kembali dipengaruhi hal-hal natural yang
diterima melalui inderanya.
Ketika Petrus berseru dan berkata, “Tuhan,
selamatkanlah aku...” Yesus segera mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan
berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”
Perhatikan bagaimana Yesus mengatakan bahwa Petrus
“kurang percaya”, bukan “tidak beriman”. Yesus benar-benar sedang mengemukakan
kebenaran penting yang mungkin belum dimengerti kebanyakan orang Kristen.
Pemahaman kebanyakan orang Kristen berkata, untuk melakukan sebuah mujizat,
seseorang harus memiliki iman yang besar dan dahsayat, tapi tidak demikian
dengan Yesus! Dia tidak menuntut iman besar, yang Dia inginkan hanya iman yang
murni dan berkualitas (Matius 17:20). Bahkan Petrus yang sebenarnya orang yang
kurang percaya bisa berjalan di atas air ketika imannya itu benar-benar
diarahkan kepada Yesus.
Ketidakpercayaan adalah, suatu kekuatan
pengimbang negatif yang menetralkan atau membatalkan iman seseorang.
Jika Anda mengaitkan seekor kuda ke sebuah beban,
kuda tersebut akan mengerahkan segenap kekuatannya untuk menarik dan membuat
beban tersebut bergeser. Tetapi jika ada kuda lain lagi yang dikaitkan pada
beban itu dan menarik ke arah yang berlawanan, maka kedua kuda tersebut akan
tidak bisa menarik beban itu karena saling mengimbangi. Itu sebabnya dalam
Matius 17, ketika para murid bertanya kepada Yesus kenapa mereka tidak bisa
mengusir roh jahat dari anak yang sakit ayan? Yesus memberitahu mereka,
masalahnya adalah ketidakpercayaan mereka yang membuat netral dan meniadakan
iman mereka.
Contoh lain yang bisa membantu kita memahaminya adalah, obat dan susu. Pada waktu
seseorang sakit dan minum obat, tapi minum obatnya dengan susu, maka obat itu
tidak akan berkhasiat apa-apa karena dinetralkan oleh susu, demikian sebaliknya
dengan susu.
Hal seperti itulah yang terjadi dengan Petrus di
tengah danau itu. Di satu sisi dia percaya kepada Yesus, tapi di sisi lain
hatinya terpengaruh oleh situasi, yaitu angin dan gelombang yang menderu yang
membuat imannya menjadi netral atau tidak berfungsi sehingga dia perlahan mulai
tenggelam. Artinya, ketidak percayaan seseorang dapat meniadakan kualitas iman
seseorang dalam waktu yang bersamaan.
ASAL-MUASAL KETIDAKPERCAYAAN DAN CARA MENANGGULANGINYA
Berikut kita akan membicarakan asal-muasal
ketidakpercayaan dan cara menanggulanginya:
1. Ketidakpercayaan bisa datang
dari ketidaktahuan (kurang pengetahuan)
Orang-orang seperti ini mungkin
belum pernah mendengar tentang mujizat karena mereka juga belum pernah
mendengar atau mengenal Alkitab. Mereka dibesarkan dalam dunia natural. Sejak
kecil mereka telah diajar bahwa hanya ada dunia fisik dan tidak ada dunia
rohani atau apa pun di luar alam natural. Ketidaktahuan itu sama dengan
ketidakpercayaan, dan itu akan menghalangi iman.
Cara menanggulanginya,
sampaikan atau beritahukan kebenaran firman Tuhan. Mungkin akan ada reaksi
penolakan karena mereka belum pernah mendengar atau mengetahui sebelumnya.
Namun jika mereka menerima, maka mereka akan dimerdekakan (Yoh. 8:32).
2. Ketidakpercayaan berasal dari
ajaran yang salah.
Orang semacam ini bukan kurang
pengetahuan, tapi pengetahuannya salah. Mereka diajar dengan ajaran di mana
mujizat sudah berlalu dan hanya ada dan berlaku pada jaman nabi dan rasul.
Orang-orang seperti ini biasanya akan selalu apatis dan curiga terhadap realita
mujizat sehingga mereka akan selalu menolak kehadiran manifestasi mujizat.
Cara menanggulanginya, sama
dengan poin pertama yaitu sampaikan kebenaran firman Tuhan. Menangani ini sedikit
lebih susah dari ketidaktahuan karena Anda harus mengeluarkan dulu pengajaran
yang salah dari pikiran mereka, kemudian mulai proses menanam kebenaran secara
perlahan-lahan. Jika mereka menerima kebenaran firman Tuhan yang menyatakan
bahwa kuasa Tuhan tidak pernah berubah dahulu, hari ini dan selamanya, maka
mereka pun akan dimerdekakan.
3. Ketidakpercayaan alami yang
berasal dari panca indra.
Ini adalah jenis
ketidakpercayaan yang Yesus bicarakan dalam kasus anak yang sakit ayan karena
dirasuk oleh roh jahat.
Dalam matius 17:20-21 berkata:
Ia berkata kepada mereka:
"Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata
kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah,
dan takkan ada yang mustahil bagimu.
(Jenis ini tidak dapat diusir kecuali
dengan berdoa dan berpuasa.)" (Mat. 17:20-21)
Ketika mereka membawa anak itu kepada Yesus, ia terpelanting ke tanah,
terguling-guling, dan mulutnya berbusa.
Markus 9:20 menulis:
Lalu mereka membawanya
kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya,
dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya
berbusa. (Mark. 9:20)
Rupanya para murid itu telah melihat roh-roh jahat diusir keluar dari
seseorang dalam pelayanan mereka sebelumnya waktu Yesus mengutus mereka (Mat.
10:1-15), tapi manifestasi yang seperti ini belum pernah mereka lihat dan
hadapi. Ketika mereka menyaksikan reaksi roh itu, indra mereka mulai memberikan
pemikiran, perasaan, dan emosi yang bertentangan dengan apa yang telah Allah
janjikan kepada mereka. Mereka masih memiliki iman, itulah sebabnya mereka
bingung karena tidak melihat kesembuhan terjadi. Namun mereka tidak menyadari
bahwa mereka telah memiliki ketidakpercayaan yang berasal dan mereka terima
dari indra mereka.
Cara menanggulanginya ialah, belajar menyerahkan indra kita dipakai sebagai
alat kebenaran Tuhan (Roma 6:13). Tetaplah percaya kepada Tuhan dan jangan
biarkan indra kita dipakai iblis menjadi senjata kelalimannya. Be a winner.
Amen!

Komentar
Posting Komentar