BERJALAN DI ATAS AIR/GELOMBANG MASALAH HIDUP (Matius 14:26-29)
Minggu, 19 April 2020
Yesus sedang di atas, berdoa di bukit dengan
pemandangan Danau Galilea di bawah. Ia berada dalam badai yang sama karena
angin sakal yang turun ke Danau tersebut berasal dari bukit-bukit yang ada di sekelilingnya, jadi Ia tahu apa yang
sedang terjadi. Yesus bukan berarti tidak acuh dengan kebutuhan
murid-murid-Nya. Yesus seratus persen menyadari masalah dan apa yang sedang
diperlukan para murid itu.
Sangat mudah untuk menebak alasan Yesus turun dan
mulai berjalan di atas air di danau itu adalah supaya Ia bisa menolong dan
menyelamatkan mereka. Namun sebelum Yesus benar-benar menolong mereka, ada
interaksi yang sangat menarik antara Yesus dengan murid-Nya yang perlu kita ketahui
dan renungkan untuk menolong kita bisa berjalan di atas air atau gelombang
masalah hidup kita.
PERTAMA: MEREKA DAN PETRUS BERSERU KEPADA YESUS
Dalam Kitab Markus 6:48 dikatakan, “Ketika
Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira
jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak
melewati mereka.”
Para murid ada dalam bahaya malam itu karena
mereka menjalankan perintah Tuhan. Mereka ada di Danau itu bukan karena mereka
mau dan suka. Jika diperhatikan pada awal mereka berangkat dari tepian pantai
untuk berlayar, logika sehat manusia akan menalar bahwa mereka enggan untuk
pergi berlayar malam itu, sehingga Yesus harus memerintahkan mereka untuk pergi
mendahului-Nya ke seberang. Alkitab tidak menjelaskan alasan keengganan itu,
tapi mungkin karena sebagian di antara mereka berlatar belakang nelayan di
Danau itu, sehingga mereka sangat memahami waktu perubahan cuaca di Danau tersebut.
Namun karena Yesus sebagai guru mereka yang memberi perintah, mereka tetap
berlayar sekalipun sedikit merasa terpaksa.
Nah, dalam kondisi seperti itu, Yesus datang
menghampiri mereka. Namun ironinya, firman Tuhan katakan Dia hendak melewati
mereka. Apa yang terjadi, apakah kehadiran Yesus malam itu bukan untuk menolong
dan menyelamatkan mereka? Jawabannya, Ya, Dia datang untuk menolong mereka!
tapi Yesus menunggu seruan mereka sebelum Dia bertindak menyelamatkan. Apakah
Yesus akan membiarkan mereka tenggelam? mungkin saja, jika mereka tidak berseru
kepada Dia. Yesus benar-benar menunggu respon mereka terhadap situasi yang
mereka alami. Apakah itu mengganggu percaya mereka kepada Tuhan atau tidak.
Dengan kata lain, meskipun tampak jelas bahwa
Tuhan datang untuk menyelamatkan para murid, menunjukkan diri-Nya, dan bahkan
datang cukup dekat supaya mereka bisa melihat-Nya, Alkitab mengatakan Ia hendak
melewati mereka sampai mereka harus berseru kepada-Nya dengan iman.
Sebenar-Nya Yesus tahu apa yang sedang mereka
alamai, Yesus tahu juga apa yang sedang Anda alami, Ia tahu situasi dan
perasaan Anda, setiap luka hati, kesedihan dan kebutuhan. Tetapi sama seperti
Ia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dan hendak melewati mereka sampai
mereka berseru kepada-Nya, Anda juga harus berseru dalam doa dan meminta
kuasa-Nya dinyatakan dengan iman sebelum Dia melewati. Oleh seruan para murid,
akhirnya Yesus berespon dengan sangat positif.
Tidak berhenti sampai di situ, ketika Yesus
berkata “Tenanglah! Aku ini, jangan Takut!, spontan Petrus berseru kepada
Yesus: “Lalu Petrus berseru dan menjawab
Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu,
suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." (Matius 14:28). Ekspresi
emosi petrus Luar biasa! Bagaimana dengan Anda, apa yang Anda lakukan ketika badai
hidup menerpa Anda. Kepada siapa Anda berseru, kepada siapa Anda mencari
pertolongan? Apakah Anda masih ingat berseru kepada Tuhan, atau yang otomatis
Anda pikirkan mencari hikmat dan pertolongan dari dunia (keluarga, teman,
kolega, dlsb...). Namun melalui firman Tuhan ini hendaknya kita disadarkan,
bahwa cara terbaik yang dapat kita lakukan saat menghadapi badai hidup adalah
berseru dan mencari Tuhan sama seperti yang dilakukan para tokoh-tokoh dalam
Alkitab.
KEDUA: BERTINDAK ATAS DASAR FIRMAN TUHAN
Apakah Anda sedang menanyakan keberadaan Tuhan di
tengah-tengah situasi sulit yang sedang Anda hadapi? Atau Anda sedang
menanyakan sesuatu kepada Tuhan terkait masalah hidup yang sedang melanda Anda?
Atau Anda sedang mengajukan permohonan sebagai
konfirmasi untuk dasar Anda bertindak melakukan sesuatu? Tentu semua itu
sah-sah saja dan tidak mengandung dosa sama sekali. Memang itulah yang
seharusnya Anda lakukan supaya Anda tidak salah atau gegabah mengambil
keputusan. Bertanya lebih dahulu kepada Tuhan jauh lebih baik dibanding
bertanya setelah mentok dan gagal.
Bertanya adalah keputusan bijak sebagai tanda pengakuan dan penyerahan kita
kepada Tuhan.
Petrus telah mengalihkan perhatiannya dari angin
yang menderu dan air yang berputar-putar yang menghalangi mereka untuk sampai
ke seberang. Sekarang dia mengarahkan pandangan dan perhatiannya kepada Yesus yang
ada di depannya dan berseru meminta sesuatu kepada-Nya; "Tuhan, apabila Engkau
itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." (Mat. 14:28b).
Puji Tuhan, seruan Petrus ditanggapi Yesus dengan
sangat baik dan berkata, "Datanglah!" Maka Petrus
turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus." (Mat.
14:29).
Bagi Petrus, satu kata jawaban dari Yesus cukup untuk
membangun kepercayaannya melakukan sebuah tindakan. Dia percaya apa yang keluar
dari mulut Allah mengandung kuasa yang akan memampukan dia mengalahkan
ketakutan dan mengalami mujizat.
Demikian halnya dengan Anda, satu kata dari Yesus
cukup untuk mengatasi keadaan, situasi, atau masalah apa pun yang mencoba
membinasakan Anda. Kabar baiknya adalah kita memiliki banyak kata dalam Alkitab
yang dapat kita percayai. Satu kata saja dari sekian banyak ayat-ayat di dalam
Alkitab dibuat Tuhan hidup di dalam hati Anda, itu cukup untuk mengatasi badai,
atau masalah apa pun yang mungkin Anda jumpai dalam hidup Anda. Namun, Anda
jangan mencoba-coba melakukan sesuatu yang ekstrim jika Anda tidak benar-benar
menerima firman Tuhan sebagai rhema untuk melakukannya. Bangunlah hubungan Anda
dengan Tuhan, berserulah kepada-Nya meminta petunjuk agar Anda tidak salah
dalam mengambil keputusan.
KETIGA: MELANGKAH KELUAR DARI PERAHU
Ada dua belas orang di dalam perahu itu, tetapi
hanya satu di antara mereka yang berjalan di atas air, yaitu Petrus. Sebenarnya setiap mereka bisa saja melakukan
hal itu. Murid-murid yang lain bisa saja mengatakan dan meminta kepada Yesus,
kemudian melakukan hal yang sama seperti dilakukan oleh Petrus. Namun sebelas
orang dari antara murid itu tidak mau keluar dari perahu disebabkan ketakutan
karena mereka tidak mau meminta dan mengambil langkah iman.
Tetap tinggal di dalam perahu jauh lebih aman
dibanding melangkah keluar dari perahu. Terlalu banyak tantangan di luar
perahu, kegagalan bahkan kematian. Tinggal di dalam perahu sampai ke seberang
bukanlah dosa, tapi orang yang dengan iman berani melangkah keluar dari perahu
akan mengalami pengalaman spektakuler berjalan di atas air atau gelombang
masalah kehidupan.
Setelah Yesus, Petrus adalah satu-satunya manusia
secara fisik yang dicatat Alkitab pernah berjalan di atas air. Musa, Elia,
Elisa mereka hanya membelah laut dan sungai kemudian mereka berjalan di atas
tanah kering. Tapi Petrus benar-benar berjalan di atas air seperti Yesus
berjalan di atas air.
Apa yang membuat Petrus bisa mengalami pengalaman
tersebut? karena dia oleh iman berani tampil beda dari yang lain. Dia mau dan
berani melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang biasa dilakukan orang lain
pada umumnya.
Anda mau berbuah-buah dan mengalami terobosan?
Lakukanlah sesuatu yang berbeda atau sesuatu yang orang lain belum lakukan
bahkan tidak mau melakukannya karena mengandung resiko. Jangan terlalu
menghiraukan kritik, protes, nada-nada negatif yang melemahkan iman Anda. Fokus
dan tetap percaya kepada apa yang Yesus katakan untuk Anda kerjakan, Anda pasti
berhasil dan mengalami mujizat karena firman-Nya berkata; “Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” (1
Thess. 5:24).
Tuhan Yesus Memberkati dan Memberi Kemenangan!
Amen.

Komentar
Posting Komentar