MERESPONI DAN MELAKUKAN PERINTAH TUHAN Matius 14:22-24
Minggu, 29 Maret 2020
Dalam Matius 14 dicatat, Yesus memberi makan lima
ribu orang laki-laki dengan lima roti dan dua ikan. Jangan lupa di antara yang
hadir itu di sana ada juga perempuan dan anak-anak, jadi sangat mungkin
jumlahnya ada sekitar sepuluh, lima belas, atau bahkan dua puluh ribu orang di
sana. Kemudian setelah mujizat tersebut, perhatikan firman Tuhan mengatakan
bahwa Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya untuk naik ke perahu dan pergi
ke seberang, dan bukan separoh jalan. Tapi sampai ke seberang (tuntas).
Nah, bagaimana caranya kita merespon dan melakukan
perintah Tuhan sampai tuntas?
Pertama, Kenali Yang Memberi Perintah
Perintah untuk pergi ke seberang dalam ayat ini
diucapkan oleh sang Pencipta alam semesta, yaitu Yesus (Kol. 1:16), oleh Dialah
Danau itu ada dan tercipta. Artinya pemberi perintah tersebut bukanlah orang
biasa, tapi pribadi yang mengontrol alam semesta.
Pengenalan akan pemberi perintah ini penting
karena hal itu akan terkoneksi langsung dengan segala jaminan proteknya. Jika
hanya manusia dan teman biasa yang tidak memiliki kelebihan apa-apa memerintah
Anda untuk melakukan sesuatu, tentu Anda akan berpikir dua kali untuk
melakukannya. Berbeda jika seseorang yang memiliki power memerintahkan Anda
melakukan sesuatu, mungkin Anda akan fast respon. Kenapa, karena siapa pribadi
di balik perintah itu sangat mempengaruhi.
Dalam Alkitab di katakan, ketika Allah
memerintahkan Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, Allah
memperlengkapinya dengan otoritas dan kuasa bahkan segudang mujizat yang
didemonstrasikan baik di hadapan Firaun maupun bangsa Israel. Ketika Tuhan
menyuruh Musa membangun Kemah Suci lengkap dengan peralatannya, Tuhan
mempersiapkan orang-orang ahli di bidangnya untuk mendampingi Musa
merealisasikan pekerjaan tersebut (Kel. 24:12-31:1-11; 36:8-40:1-33). Rasul
Petrus oleh ilham Roh Kudus mencatat, “Jika Tuhan yang memanggil dan menyuruh
seseorang melakukan sesuatu, Dia pasti memeperlengkapinya” (1 Petrus 5:10-11).
Haleluya! Intinya jika Tuhan yang memerintahkan kita, taat dan lakukan saja
karena Dia pasti terlibat di dalam-Nya.
Kedua, Lakukan Dengan Iman
Mengapa harus melakukannya dengan iman? Karena
sekalipun yang memberi perintah itu penguasa Alam semesta, tidak berarti akan
luput dari tantangan dan cobaan. Di ayat alkitab yang kita baca dikatakan, para
murid diombang-ambingkan gelombang (ayat 24). Ini artinya mereka menghadapi
tantangan. Koq bisa? Bukankah mereka murid Tuhan? Bukankah mereka sedang
menjalankan perintah Tuhan?
Hal ini yang kadang-kadang kurang dimengerti oleh
sebagian orang percaya. Mereka berpikir, jika Tuhan yang memerintahkan tidak
mungkin ada tantangannya, atau mengikut Tuhan selalu menempuh jalan mulus. Kita
kadang-kadang dibuat bingung oleh pengertian dangkal seperti itu, entah apa
yang merasuki mereka.
Kembali kepada para murid! Ketika mereka
menghadapi gelombang tersebut, mereka panik yang menunjukkan ekspresi kekurangpercayaan
mereka. Saya percaya, mereka mengenal Yesus, hanya tidak terlalu percaya.
Sebelum mereka melakukan pelayaran, mereka telah menyaksikan mujizat bahkan
terlibat dalam pelayanan mujizat memberi makan lima ribu orang laki-laki hanya
dengan lima roti dan dua ikan. Namun pada waktu mereka di hadang gelombang di
tengah danau mereka semua panik.
Hal yang sama bisa dialami orang percaya masa
kini. Mereka sudah mengalami pengalaman bersama Yesus. Mereka sudah pernah
mengalami pertolongan-Nya, mereka pernah disembuhkan dari sakit penyakit dan
kelemahan tubuh. Mereka pernah diluputkan dari situasi masalah yang menghadang,
namun ketika mereka diperhadapkan kembali dengan ujian iman, mereka “panik”.
Apakah Anda sedang menghadapi situasi sulit hari-hari ini yang membuat Anda
jadi panik dan bingung? Tetaplah mempercayai tuhan.
Ketiga, Tetap Maju Jangan Mundur
Satu hal positif yang dilakukan para murid pada
waktu itu ialah maju dan terus mendayung perahu mereka melawan beratnya
guncangan gelombang tersebut. Sekalipun dalam keadaan cape dan kepayahan, tak
seorang pun terdengar menyerukan suara penyerahan terhadap situasi itu. Tidak
ada yang berencara untuk putar haluan dan berbalik arah ke pantai tempat mereka
berangkat. Di tengah malam yang pekat, mereka bergumul melawan angin sakal yang
tidak hentinya menerpa perahu mereka. Luar biasa!
Bagaimana dengan Anda, apakah Anda akan terus maju
dengan iman di waktu badai hidup sedang menghadang dan menerpa Anda? Atau sudah
berencana untuk berhenti, atau sudah memikirkan untuk putar haluan? Para murid,
sekalipun terseok-seok mereka tetap maju dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Di tengah pergumulan yang berat itu, dikala mereka
terus berupaya menembus hadangan angin sakal, tiba-tiba Yesus hadir. Namun
sayangnya, mereka tidak dapat mengenali dan merasakan kehadiran Yesus di
tengah-tengah mereka. Sebaliknya, mereka berteriak-teriak ketakutan dan berkata
“itu hantu!”. Pergumulan yang berat yang
sedang mereka hadapi telah berhasil menipu kepekaan dan perasaan mereka akan
kehadiran Yesus di depan mereka sampai akhirnya Yesus berkata: “Tenanglah! Aku
ini, jangan takut!”.
Terkadang dalam kehidupan sehari-hari hal mirip
seperti itu dialami oleh anak-anak Tuhan. Mereka hanyut terbawa arus situasi
yang mengombang-ambingkan perahu hidup mereka. Semangat persekutuan dengan
Tuhan dan sesama sirna tertelan situasi sulit. Atmosfer hadirat Allah menjadi
sesuatu yang langka bagi mereka, bahkan ketika Allah hadir melawat mereka.
Tentu keadaan seperti ini berbahaya dalam perjalanan rohani anak-anak Tuhan.
Yang pasti dan yang harus kita imani ialah bahwa di tengah gelombang pencobaan
sekalipun Allah hadir dan ada di sana untuk menolong kita. Firman-Nya berkata
Dia memegang tangan kita dengan tangan kanan-Nya yang penuh kuasa untuk memberikan
kita kemenangan. So, responi dan jalankanlah firman Tuhan dengan benar karena
di sana ada terobosan kemenangan dan suka cita. Haleluya!
Komentar
Posting Komentar